Jurnalis: Perjanjian ART RI-AS Buka Jalan Dominasi Asing di Ruang Digital Nasional

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) menilai perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) membuka jalan dominasi asing atas ruang digital nasional melalui perdagangan data, arus data lintas batas, dan ketergantungan terhadap infrastruktur teknologi global.

“Persoalan ART tidak bisa dipandang sekadar perjanjian perdagangan biasa. Ketika arus data lintas batas dibuka semakin luas, maka semakin besar pula potensi ketergantungan terhadap infrastruktur digital asing,” ulasnya kepada Tinta Media, Senin (25/5/2026).

Om Joy menjelaskan, data digital saat ini telah menjadi aset strategis yang dapat digunakan untuk kepentingan ekonomi, politik hingga intelijen. Menurutnya, perdagangan digital dalam skema ART membuat data pengguna internet, aktivitas transaksi elektronik, hingga sistem penyimpanan data nasional berpotensi semakin bergantung pada infrastruktur asing.

“Data hari ini bukan sekadar komoditas ekonomi. Data dapat dipakai untuk pemetaan perilaku masyarakat, pengaruh opini publik, hingga kepentingan geopolitik dan intelijen global,” katanya.

Ia menilai dominasi perusahaan teknologi global asal Amerika Serikat dalam layanan cloud, pusat data, sistem operasi dan algoritma digital membuat banyak negara berkembang hanya menjadi pasar sekaligus sumber data bagi kekuatan asing. Kondisi tersebut, lanjutnya, dinilai dapat memperbesar risiko ketergantungan digital Indonesia terhadap pihak luar.

Menurutnya, keterbukaan arus data lintas batas dalam ART juga berpotensi menempatkan informasi strategis nasional di bawah pengaruh asing.

“Data masyarakat Indonesia bisa tersimpan di server luar negeri. Layanan digital nasional dapat bergantung pada korporasi global. Bahkan lalu lintas informasi strategis berpotensi berada dalam pengaruh pihak asing”, tegasnya.

Om Joy menambahkan, dominasi asing di era modern tidak lagi hadir melalui agresi militer semata, tetapi juga melalui penguasaan teknologi dan infrastruktur digital. Karena itu, ia mendorong penguatan kedaulatan teknologi melalui pembangunan pusat data mandiri, keamanan siber, hingga pengembangan industri teknologi nasional.

“Hari ini penjajahan tidak selalu datang melalui tank dan pasukan militer. Dominasi juga dapat masuk melalui server, aplikasi, cloud, algoritma, dan arus data digital,” pungkasnya.[] Ikbal

Loading

Views: 8

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA