Penyebab Longsor di Cisarua, IJM: Ada Faktor Kegagalan Sistemik

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menyoroti penyebab longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang menelan korban puluhan warga, Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnu Wardana mengungkapkan selain faktor alam ada juga faktor kegagalan sistemik.

“Tapi ada faktor yang ini kegagalan sistemik,” ungkapnya dalam program mbois (membongkar isu): Duka Kembali Terjadi, Longsor Parah di Cisarua, Siapa yang Bertanggungjawab? Jumat (30/1/2026), di kanal YouTube Tabloid Media Umat.

Menurutnya, kegagalan sistemik itu adalah karena ulah tangan manusia yang kemudian disebut dengan alih fungsi lahan. Yaitu, alih fungsi lahan konversi hutan lindung menjadi pertanian sayuran yang intensif di wilayah tersebut, plus alih fungsi pemukiman-pemukiman.

“Anda bisa bayangkan, kemiringan 30 sampai 40 persen, kemudian tanahnya gembur diganti alih fungsi hutan lindung di wilayah itu menjadi tanah pertanian intensif plus pemukiman. Anda bisa bayangkan akhirnya apa? Hilanglah kekuatan mekanik absennya vegetasi berakar dalam mengurangi cengkeraman tanah tadi itu,” beber Agung.

Dan, lanjutnya, ditambah ada problematik drainase yang buruk. “Rancobnya (rancangan percobaan) enggak diatur demikian rupa, akhirnya air tidak terkendali dengan baik. Mencari celah di retakan-retakan sehingga mempercepat saturasi,” terangnya.

Ia memandang, eksploitasi ekonomi dalam jangka pendek ini bisa mengatasi logika keselamatan dalam jangka panjang.

Ia menggambarkan kawasan Bandung Utara yang merupakan wilayah yang secara kondisi sudah rentan.

“Yaa…sudah rentan, kita membaca statistik laju alih fungsi lahan secara makro, secara umum, itu telah mengalami perubahan penggunaan lahan yang sangat masif,” sesalnya.

Berdasarkan penelitian spasial, sambungnya, terdapat lebih dari 11 ribu hektare perubahan tutupan lahan di wilayah Kabupaten Bandung Barat itu dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini.

Pola perubahan ini, jelas Agung, didominasi oleh konversi hutan, dari perkebunan menjadi lahan permukiman, dan lahan pertanian, lahan kering, atau tanaman-tanaman sayuran di pegunungan.

“Nah, penyimpangan juga terjadi pada tata ruang di kawasan Bandung Utara tadi, alih fungsi lahan,” pungkasnya.
[] ‘Aziimatul Azka

Loading

Views: 35

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA