Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengingatkan, Indonesia bisa merdeka dari penjajahan fisik di masa lalu karena spirit jihad fisabilillah.
“Saudara! Kita diajarkan bahwa bangsa ini merdeka karena perjuangan gigih para pahlawan. Dan mestinya kita juga jujur mengatakan, bahwa perjuangan itu sendiri lahir dari rahim spirit jihad fisabilillah,” ujarnya dalam tayangan bertajuk “Ruh Jihad”, di kanal YouTube Khilafah News, Ahad (16/11/2025).
Sejak masa penjajahan, tegas UIY, umat Islam memimpin perlawanan di seluruh Nusantara dengan spirit itu, spirit jihad fisabilillah.
“Sultan Agung di Jawa berjuang persatukan negeri di bawah panji Islam. Sultan Hasanuddin di Sulawesi menolak tunduk pada penjajah. Begitu pun Tuanku Imam Bonjol memimpin kaum padri di Sumatera Barat melawan Belanda dengan semangat dakwah yang menggelora,” ungkapnya.
Sementara, sambungnya, di tanah Jawa, Pangeran Diponegoro bangkit bukan karena persoalan tanah pekuburan seperti yang ditulis dalam buku pelajaran, tetapi karena kezaliman penjajah dan pelecehan terhadap kehormatan rakyat yang tak bisa terus dibiarkan.
“Maka, ia (Pangeran Diponegoro) memimpin perang jihad bersama para ulama. Bahkan ada tercatat 15 syekh yang ikut berjuang di barisannya di Aceh. Cut Nyak Din, Teku Cik Ditiro, Teku Umar, begitu juga Laksamana Malahayati berdiri di garis depan,” sebutnya.
Dan semua itu, terang UIY, digerakkan oleh satu hal keyakinan pada sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
“Siapa yang terbunuh membela harta, keluarga atau agamanya, maka ia syahid,” kutipnya.
Namun, UIY menyesalkan, setelah kemerdekaan ada kesan yang sangat kuat bahwa spirit Islam ini hendak dipinggirkan. Peran umat Islam digeser dan narasi perjuangan disederhanakan sekadar nasionalisme dalam arti sempit.
“Hari kebangkitan nasional misalnya, diperingati berdasarkan berdirinya Bukti Utomo, bukan Syarikat Islam. Padahal 3 tahun sebelumnya sudah lahir Syarikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Syarikat Islam (SI),” sebutnya.
Organisasi Islam ini, kata UIY, betul-betul national wide (seluruh negeri Indonesia). Tokoh-tokohnya dari berbagai lapisan dan dari berbagai wilayah.
“Mempersatukan jutaan umat dari berbagai lapisan itu. Semua dalam satu semangat membebaskan negeri ini dari penjajahan dan menciptakan kemerdekaan atas dasar iman,” jelasnya.
Tapi sayangnya, sesalnya lagi, sejarah mencoba untuk memilih melupakan itu. “Budi Utomo diangkat, Syarikat Islam dilupakan. Padahal yang satu bersifat kedaerahan, yang satu bersifat menyatukan umat atau rakyat,” ucap UIY.
Dan hari ini, herannya, umat Islam yang berbicara lantang tentang syariah dituduh radikal, padahal tanpa syariah dan jihad bangsa ini takkan pernah lahir.
“Kita memuja pahlawan tapi melupakan keyakinan yang membuat mereka berani berjuang bahkan tak takut mati. Kita bangga dengan kemerdekaan tapi lupa pada ruh yang melahirkannya,” tandasnya
“Ada pertanyaan penting saudara! Jika iman dahulu bisa melahirkan kemerdekaan, mengapa hari ini iman, Islam, syariah, dan jihad justru dianggap sebagai ancaman?” Tutup UIY mengakhiri. [] Muhar
![]()
Views: 23
















