UIY: Wujud Keberhasilan Puasa Ramadhan adalah Ketakwaan yang Meningkat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai, wujud keberhasilan orang beriman yang melaksanakan puasa Ramadhan adalah ketakwaan yang meningkat.

“Tentu saja ketika dia merasa bahwa ketakwaannya itu meningkat,” tuturnya dalam Focus To The Point: Yang Terlupakan dari Idul Fitri di kanal YouTube, Senin (23/3/2026).

Menurutnya, ukuran meningkatnya ketakwaan sebagaimana ucapan Syeikh Thaha Abdullah Alfifi di dalam kitab Ahlur Rahmah fil Qur’an wa Sunnah yang merujuk perkataan Imam Ali bin Abi Thalib bahwa ada empat tanda orang yang bertakwa itu.

Pertama, harus menjadi pribadi yang takut kepada Rabbnya, Allah SWT Yang Maha Tinggi, Yang Agung, Yang Gagah (Al-Khauf min Rabbil Jalil).

Menurut UIY, rasa takut ini dilatihkan betul di dalam bulan puasa. “Tidak ada kekuatan yang bisa membuat kita ini begitu rupa menahan untuk tidak makan minum meski ada kesempatan, meski kita sendirian, ada makanan dan sebagainya. Itu luar biasa,” tegasnya.

Dan rasa takut itu, imbuh UIY, bukan rasa takut yang melemahkan tapi rasa takut yang membangkitkan. Rasa takut yang menggairahkan, yang mendorong dia untuk beramal.

Kedua, lanjutnya, mengamalkan yang telah Allah SWT turunkan yaitu di dalam Al-Qur’an (Al-‘Amal bit Tanzil).

UIY memaparkan bahwa bulan puasa adalah bulan Al-Qur’an atau syahrul Quran dengan semangat tunduk kepada Allah.

“Maka ketemulah di situ semangat tunduk melaksanakan yang diturunkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an itu,” ungkapnya.

Ketiga, adalah merasa cukup ( Al Qona’ah bil Qolil). Menurutnya, puasa itu telah memberikan pengajaran bahwa pada mulanya ketika kaum Muslimin mau berbuka rasanya semua maunya ingin dimakan, ingin diminum, ya semuanya disiapkan. “Tapi begitu maghrib tiba, ternyata satu dua kurma saja, satu dua teguk air selesai sudah cukup,” bebernya.

Jadi puasa itu tandasnya, mengajari kaum Muslimin secara telak bahwa kebutuhan manusia akan macam-macam itu, itu sangat terbatas. “Jadi kalau ada orang yang mengatakan bahwa kebutuhan manusia itu tidak terbatas sementara alat pemuas kebutuhan itu terbatas karena ini kemudian muncul apa yang disebut scarsit ya kelangkaan itu, itu sama sekali salah, yang tidak terbatas adalah keinginan,” terangnya.

Menurut UIY, orang yang bertakwa adalah orang yang dia merasa cukup dengan yang ada. Dan itulah yang bisa menghentikan kerakusannya. Kerakusannya dengan arid bilqolil itu bisa terbatasi.

“Pangkal dari kerusakan manusia, kerusakan dunia ini hari itu adalah kerakusan itu. Itulah ciri kapitalism. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang dia dapat, dengan apa yang dia tambah lagi dapat, dengan apa yang dia tambah lagi dapat, begitu seterusnya,” lanjutnya.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW,”Jjika manusia itu sudah punya dua lembah, dua terisi penuh emas, dia masih minta yang ketiga. Nah, kapan dia berhenti? Sampai dia masuk ke liang lahad,”

Keempat, mempersiapkan diri untuk hari Kematian (Al-Isti’dad li Yaumir Rahil). UIY menilai ketika manusia tahu bahwa kematian itu suatu kepastian, maka dia mempersiapkan dengan sebaik-baiknya dan tidak ada persiapan yang paling baik kecuali membawa dirinya kepada takwa itu.

“Sebenarnya puasa ini kepada mengajari kita itu satu perkara yang sangat fundamental tentang hidup kita, tentang apa yang harus kita lakukan, tentang apa yang harus kita persiapkan, sekaligus menyadarkan kepada kita bahwa kita ini makhluk yang sehebat apa pun itu akan menuju ke liang lahat yang sangat sempit itu,” tutupnya. [] Muhammad Nur

Loading

Views: 14

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA