Tinta Media – Menanggapi program Sekolah Rakyat bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem yang tengah dikembangkan pemerintah Indonesia, Jurnalis Senior Joko Prasetyo atau yang akrab disapa Om Joy mempertanyakan apakah hal ini mendidik orang miskin atau melanggengkan sistem (kapitalisme) yang memiskinkan?
“Sekolah Rakyat, mendidik orang miskin atau melanggengkan sistem yang memiskinkan?” ujarnya kepada Tinta Media, Kamis (4/6/2026).
Om Joy menjelaskan, tidak ada yang menolak anak-anak dari keluarga miskin memperoleh pendidikan yang layak. Menurutnya, tidak ada pula yang keberatan jika negara membangun sekolah dan menanggung biaya pendidikan mereka.
“Namun persoalannya bukan di situ. Persoalan sesungguhnya adalah ketika kemiskinan terus diproduksi oleh sebuah sistem, lalu pendidikan dijadikan obat untuk mengatasi dampak dari sistem yang sama,” ulasnya.
Ia mengemukakan, pemerintah saat ini memang sedang gencar mengembangkan program Sekolah Rakyat bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan hingga 500 Sekolah Rakyat dengan sekitar 500 ribu siswa pada akhir masa pemerintahannya.
“Pertanyaannya, mengapa negara lebih fokus membangun sekolah bagi orang miskin daripada menghapus penyebab kemiskinan itu sendiri?” tanyanya retoris.
Kemiskinan Bukan Sekadar Masalah Pendidikan
Om Joy kemudian menyoroti pandangan yang selama ini berkembang bahwa permasalahan kemiskinan merupakan akibat rendahnya tingkat pendidikan. Karena itu, solusi yang sering ditawarkan adalah memperluas akses pendidikan dengan asumsi semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar peluang memperoleh pekerjaan dan keluar dari kemiskinan.
“Masalahnya, apakah benar akar kemiskinan terletak pada kurangnya pendidikan? Jika demikian, mengapa masih banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan layak? Mengapa kesenjangan ekonomi tetap melebar di negeri yang kaya sumber daya alam?” ungkapnya.
Menurut Om Joy, fakta tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan bukan semata-mata persoalan individu yang kurang terdidik.
“Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni sistem yang mengatur kepemilikan dan distribusi kekayaan,” bebernya.
Kapitalisme Sebab Kemiskinan
Lebih lanjut, Om Joy menyatakan bahwa dalam sistem kapitalisme, termasuk yang diterapkan di Indonesia, negara lebih berfungsi sebagai regulator pasar dan penjaga iklim investasi dibandingkan sebagai penanggung jawab utama kesejahteraan rakyat.
“Akibatnya, kekayaan alam yang seharusnya menjadi milik rakyat banyak justru terkonsentrasi pada segelintir pihak. Sumber daya alam dikelola berdasarkan logika keuntungan, bukan untuk menjamin kesejahteraan seluruh rakyat,” ujarnya.
Menurutnya, di sinilah paradoks itu muncul. Negeri yang kaya sumber daya alam tetap melahirkan kemiskinan. Bukan karena kekurangan kekayaan, melainkan karena kekayaan tersebut tidak dikelola dengan aturan yang benar.
“Dalam kondisi seperti ini, Sekolah Rakyat berisiko hanya menjadi solusi atas akibat, bukan solusi atas sebab. Negara mendidik anak-anak miskin agar dapat keluar dari kemiskinan secara individual, sementara sistem yang memproduksi kemiskinan secara struktural tetap dipertahankan,” pungkasnya.[] Nasriani
![]()
Views: 22








