Tinta Media – Begitu mendengar nama Mukidi Ngaciro apa yang terbayang dalam benak Anda? Sebagian dari Anda mungkin ada yang menjawab โplonga-plongoโ ada juga yang menjawab โluguโ. Lebih jauh lagi, mesti ada yang mengatakan, โsekulerโ bahkan โislamofobiaโ. Benar enggak? Nah, dua jawaban pertama itu masuk ke dalam kategori karakter. Sedangkan dua jawaban terakhir itu termasuk kepribadian.
Ketika Anda merekonstruksi suatu peristiwa ke dalam bentuk cerita (karangan khas/๐๐๐๐ก๐ข๐๐ ๐๐๐ค๐ /FN), karakter dan kepribadian tokoh yang diceritakan itu haruslah digambarkan dengan kuat, terutama si tokoh utamanya. Mengapa? Karena pencantuman karakter dan kepribadian itu bagian dari unsur FN yang harus ada.
Mengapa harus ada? Agar FN yang dibuat itu benar-benar hidup di benak pembaca. Tadi saya di atas baru menyebut nama tokohnya saja, Anda langsung menyebut karakternya dan kepribadiannya kan? Bahkan dapat dipastikan ketika menjawab pun sosoknya hidup di benak Anda. Ayo mengaku! Heโฆ heโฆ
Nah, yang jadi masalah itu tidak semua pembaca mengetahui karakter dan kepribadian tokoh yang Anda tuliskan dalam FN, maka tak cukup sekadar menuliskan namanya saja. Kecuali kalau Anda memang mau membuat FN tentang Mukidi Ngaciro, itu lain cerita. Heโฆ heโฆ Tapi meski Anda membuat FN tentang Mukidi Ngaciro pun, tetap karakter dan kepribadiannya itu mesti digambarkan.
Tujuannya, untuk menyamakan informasi antara pembaca dengan Anda. Karena, siapa tahu di antara pembaca FN Anda itu adalah orang yang mendapatkan informasi karakter dan kepribadian yang berbeda. Misal, menganggap dia itu seperti Khalifah Umar bin Khattab ra. Waduh, jauh panggang dari api. Tapi memang faktanya ada kok yang termakan hoaks seperti itu, maka sekali lagi, karakter dan kepribadian itu penting dideskripsikan.
Lantas bagaimana cara mendeskripsikannya? Ada banyak cara, sebagiannya seperti yang diulas di bawah ini.
๐๐๐ซ๐๐ค๐ญ๐๐ซ
Setidaknya ada tiga cara menggambarkan karakter tokoh dalam menyajikan FN. ๐๐๐๐ก๐๐๐, ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐ ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐ฆ๐๐๐ข๐ก ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ฆ๐. Penulis langsung saja menyebut karakternya tanpa menyebut fakta yang mendukung kesimpulan tersebut. Misal, si penulis ingin menunjukkan bahwa si tokoh itu karakternya plonga-plongo maka langsung saja tulis ๐๐๐๐๐๐-๐๐๐๐๐๐, tanpa merekonstruksi kejadiannya sama sekali.
Contoh:
Dia terkenal sebagai orang yang plonga-plongo.
๐พ๐๐๐ข๐, ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐ข ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ฆ๐๐๐ข๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก๐๐๐๐ฆ๐. Nama karakter si tokoh sama sekali tidak disebutkan. Tetapi pembaca dapat menyimpulkan nama karakter tersebut dari deskripsi perbuatan, mimik dan pilihan kata si tokoh yang dituliskan penulis. Misal, penulis ingin menunjukkan karakter si tokoh itu plonga-plongo. Maka, salah satu penggambarannya bisa seperti contoh di bawah ini.
Contoh:
Tatapan matanya seolah kosong, mulutnya agak terbuka ketika lawan bicaranya sedang menjelaskan sesuatu. Bukan kali ini saja dia seperti itu.
๐พ๐๐ก๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐ฆ๐. Selain ditulis nama karakter si tokohnya, diceritakan pula salah satu adegan atau mendeskripsikan kebiasaan yang memperkuat kesimpulan tersebut. Misal, penulis ingin menunjukkan karakter si tokoh itu plonga-plongo. Maka, salah satu penggambarannya bisa seperti contoh di bawah ini.
Contoh:
Tatapan matanya seolah kosong, mulutnya agak terbuka ketika lawan bicaranya sedang menjelaskan sesuatu. Bukan kali ini saja dia plonga-plongo seperti itu.
Penggambaran karakter yang paling baik adalah cara kedua. Dikatakan terbaik karena memenuhi dua hal penting. (1) Pembaca dapat menyimpulkan dari deskripsi perbuatan, mimik dan pilihan kata si tokoh yang dituliskan penulis karangan khas. Artinya, penulis berhasil menyampaikan pesan yang sama persis ke benak pembaca. Buktinya, pembaca menyimpulkan nama karakter sesuai dengan yang ditargetkan penulis. (2) Lebih aman atau lebih sulit untuk dikenai delik hukum karena penulis hanya menyampaikan fakta saja, tidak menuduh (menyebut nama karakter).
Penggambaran yang paling tidak direkomendasikan adalah cara pertama. Dikatakan tidak direkomendasikan karena masuk ke dalam dua masalah serius. (1) Sebagian pembaca mestilah tidak sependapat dengan penyematan karakter tersebut kepada sang tokoh karena sangat mungkin di benak pembaca itu tidak ada adegan mulut menganga (karena dia tak pernah melihat mulut si tokoh menganga), lebih parahnya lagi bahkan si pembaca tak mengerti plonga-plongo itu artinya mulut menganga. (2) Rentan terkena delik hukum pencemaran nama baik.
๐๐๐ฉ๐ซ๐ข๐๐๐๐ข๐๐ง
Selain karakter, yang tak kalah pentingnya untuk digambarkan adalah kepribadian (๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐ฆ๐โ) tokoh yang diceritakan, terutama tokoh utamanya. Kepribadian bukanlah karakter tetapi perpaduan yang khas antara pola pikir dan pola sikap si tokoh yang diceritakan.
Misal, tokohnya beragama Islam. Maka, si tokoh pun bisa diidentifikasi pembaca sebagai tokoh yang islami (misal: ingin Islam diterapkan secara kaffah), sekuler (misal: tak mau Islam diterapkan secara kaffah), ataupun islamofobia (misal: memusuhi upaya penerapan syariat Islam secara kaffah).
Penggambarannya juga sama dengan karakter. Bisa berupa kesimpulan. Bila si tokohnya berkepribadian Islam, bisa saja dituliskan bahwa si tokoh itu taat beragama. Namun lebih baik tanpa menuliskan frasa ๐ก๐๐๐ก ๐๐๐๐๐๐๐๐, tapi cukup saja menceritakan salah satu kejadian yang pembaca secara umum bisa menyimpulkan bahwa sang tokoh itu taat beragama. Selain itu, bisa juga mengombinasikan keduanya; selain ditulis taat beragama, diceritakan pula salah satu adegan yang memperkuat kesimpulan tersebut.
Lantas, bagaimana kepribadian Mukidi Ngaciro? Tadi siapa ya yang di awal paragraf menjawab โsekulerโ dan โislamofobiaโ? Silakan gambarkan kepribadiannya di kolom komentar. Heโฆ heโฆ[]
Depok, 26 Dzulqaโdah 1443 H | 25 Juni 2022 M
Joko Prasetyo
Jurnalis
![]()
Views: 24












