Tinta Media – Karena fokus dan keasyikan menyajikan sepak terjang tokoh, beberapa penulis karangan khas (rekonstruksi suatu peristiwa yang dikemas ke dalam bentuk cerita/๐๐๐๐ก๐ข๐๐ ๐๐๐ค๐ /FN) terkadang lupa mencantumkan latar waktu, tempat, dan suasana cerita.
Penulis FN yang tidak mencantumkan latar tempat kadang suka saya tegur dengan pertanyaan, โLokasi kejadiannya di Mars atau di mana ini?โ
Beberapa penulis hanya mencantumkan nama hari. Ahad, misalnya. Kontan saja saya pertanyakan dengan kalimat, โIni Ahad kapan? Ahad kemarin, Ahad pekan depan, Ahad tahun lalu, atau Ahad kapan-kapan?โ
Sedangkan penulis yang sudah jadi reporter dan terbiasa menulis berita lugas (rekonstruksi peristiwa yang langsung pada pokok permasalahan/straight news/SN), tidak ada masalah dengan penulisan waktu dan tempat, karena sudah terbiasa dengan membuat naskah yang memenuhi standar dasar informasi yang menjawab enam pertanyaan dasar. Enam pertanyaan dasar tersebut dikenal dengan sebutan 5W1H, yakni siapa (๐คโ๐), sedang apa (๐คโ๐๐ก), kapan (๐คโ๐๐), di mana (๐คโ๐๐๐), mengapa (๐คโ๐ฆ), dan bagaimana ceritanya (โ๐๐ค).
Namun yang jadi masalah, beberapa di antara mereka tidak menyinggung sama sekali latar suasana cerita. Walhasil naskah yang dibuatnya sama dengan SN. Kritik pun saya layangkan, โDiminta bikin FN kok jadinya SN?โ
Siapa di antara pembaca yang pernah mengalami nasib ditegur ๐๐๐๐โ ๐๐๐๐๐๐ seperti di atas? Ayo curhat di kolom komentar. Haโฆ haโฆ Ya, salah satu di antara Anda ada yang bilang langsung ke saya, bahwa saya seperti itu. Waduh, padahal saya hanya menyampaikan masalah apa adanya lho agar terlihat jelas kesalahannya, lalu diberikan solusinya. Heโฆ heโฆ
Ingat baik-baik, tidak ada satu peristiwa yang terjadi di dunia ini tanpa adanya latar tempat, latar waktu, dan suasana yang melingkupinya. Maka, ketika Anda hendak membuat FN, jangan lupa cantumkan pula ketiganya. Karena yang Anda tulis ini kisah nyata bukan? Selain itu, memang tempat, waktu, dan suasana merupakan unsur yang harus ada dalam naskah karangan khas.
Perbedaan
Agar Anda dapat membedakan FN dengan jenis tulisan lainnya, coba simak baik-baik empat poin di bawah ini.
๐๐๐๐ก๐๐๐, ๐๐๐๐ โ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐๐ก๐ข๐๐๐๐ ๐๐๐ค๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ก๐๐๐ฆ๐๐๐ ๐คโ๐ ๐ ๐๐๐, ๐ก๐๐๐ก๐ข ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐ข๐๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐.
Contoh:
๐ฑ๐๐ข๐ ๐ท๐๐๐๐.
Terus kenapa dengan Buya Hamka? Jenis tulisan macam apa ini? Enggak jelas banget, kan?
๐พ๐๐๐ข๐, ๐๐๐๐ โ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐๐ก๐ข๐๐๐๐ ๐๐๐ค๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ก๐๐๐ฆ๐๐๐ ๐คโ๐ ๐๐๐ ๐คโ๐๐ก ๐ ๐๐๐, โ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐น๐.
Contoh:
โ๐ฑ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฟ๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ โฆ ”
๐ฑ๐๐ข๐ ๐ท๐๐๐๐
Keren banget bukan kalau dibikin meme? Apalagi ditambah foto Buya Hamka yang bersurban dan peci. Wah, pesan yang disampaikan jadi lebih kuat di benak pembaca. Tapi jelas ini bukan FN.
๐พ๐๐ก๐๐๐, ๐๐๐ค๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐ก๐๐๐ฆ๐๐๐ ๐คโ๐, ๐คโ๐๐ก, ๐คโ๐๐, ๐๐๐ ๐คโ๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐โ ๐ก๐๐๐๐๐๐ขโ๐ ๐ก๐๐ก๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก๐ (๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ค๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐ก๐๐๐ฆ๐๐๐ โ๐๐ค) ๐ก๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐๐ก๐ข๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐โ๐๐ฆ๐ โ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐ ๐๐๐.
Contoh:
โ๐ฑ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฟ๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ โฆ,” ๐๐๐๐ ๐ฑ๐๐ข๐ ๐ท๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐บ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ท๐ฟ๐ป๐ฝ ๐๐ ๐ถ๐๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐๐๐, ๐ฑ๐๐๐๐๐๐.
๐พ๐๐๐๐๐๐ก, ๐น๐ ๐๐๐๐ข๐๐ก๐ข๐ก ๐๐๐๐โ ๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐ โ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐ขโ๐๐ ๐๐ก๐ข ๐ ๐๐๐ข๐, ๐๐โ๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก๐ (๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ค๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐ก๐๐๐ฆ๐๐๐ โ๐๐ค) ๐๐๐ ๐ก๐ ๐ก๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐.
Contoh:
๐ณ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐-๐๐๐๐๐๐, ๐ฑ๐๐ข๐ ๐ท๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐บ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ (๐ท๐ฟ๐ป๐ผ-๐ท๐ฟ๐ป๐ฟ). โ๐ฑ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฟ๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ โฆ,” ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ฟ๐๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ท๐ฟ๐ป๐ฝ ๐๐ ๐ถ๐๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐๐๐, ๐ฑ๐๐๐๐๐๐. ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ธ๐๐๐๐ ๐ผ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐. ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฟ๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ธ๐๐๐๐ ๐๐๐๐-๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐.
Bagaimana? Terbayang beda bukan antara FN dengan produk jurnalistik lainnya? Bukan hanya beda, tetapi juga terasa lebih hidup. Benar enggak? Jadi, ketika menulis FN, jangan lupa cantumkan latar waktu, tempat, dan suasana ya.
Mengapa? Seperti yang sudah disinggung di atas, tidak ada satu peristiwa yang terjadi di dunia ini tanpa adanya latar tempat, latar waktu, dan suasana yang melingkupinya. Sedangkan, FN adalah jenis tulisan yang mencoba mengajak pembaca seolah menyaksikan kejadian tersebut.
Dalam contoh kasus di atas, pembaca diajak menyaksikan langsung ketika Buya Hamka berpidato dalam Sidang Konstituante. Oh iya, Anda teriak Allahu Akbar enggak ketika menyaksikan Buya Hamka berpidato demikian?[]
Depok, 29 Dzulqaโdah 1443 H | 28 Juni 2022 M
Joko Prasetyo
Jurnalis
![]()
Views: 8












