Tinta Media — Malu! Gumamku dalam hati saat mendengar
penjelasan Om Joy bahwa seorang jurnalis itu harus menguasai
setidaknya dua hal, pertama, membuat berita lugas (straight news), kedua,
merekonstruksi suatu peristiwa dalam bentuk cerita yang menggugah pembaca
(feature news).
Betapa tidak! dengan hanya berbekal mampu membikin berita
lugas (SN) aku sudah berani melekatkan
predikat sebagai jurnalis.
Ternyata tidak sesimple itu! Ya….saya dan puluhan teman
yang lain memang tengah mengikuti ‘Pelatihan Menulis Feature News’ yang
diinisiasi oleh teman-teman Redaktur Tinta Media.
Pelatihan dilakukan melalui kelas online setiap pekan selama
dua bulan untuk membekali para peserta
agar menguasai teknik menyajikan berita
melalui cerita.
Dengan mengenakan kaos berwarna merah, Coach sekaligus
Pembina Tinta Media Joko Prasetyo (Om Joy) mengawali pelatihan di pekan pertama
dengan menjelaskan seputar jurnalisme.
“Jurnalistik adalah
seni mengumpulkan, mengolah, menyajikan informasi, kepada khalayak secara
serentak dengan indah,” jelasnya.
Proses pencariannya, ia melanjutkan, bisa dengan
observasi yaitu datang ke lapangan tempat suatu peristiwa, juga bisa
dengan wawancara, yaitu mewawancarai
siapa saja yang terkait dengan peristiwa, baik saksi mata atau ahli, atau juga
aparat berwenang dan sebagainya yang
relevan untuk diwawancarai agar
mendapat kejelasan atau keterangan yang lebih detail dan akurat atau lebih
presisi terkait suatu peristiwa.
Selain dengan observasi, menurut penjelasan Om Joy, mencari
berita bisa juga dengan studi pustaka yaitu menjadikan berita-berita yang sudah
ada, atau menjadikan buku, atau referensi-referensi lain terkait suatu peristiwa.
“Bisa juga dengan partisipasi, yaitu jurnalis terlibat dalam peristiwa tersebut.
Itu semua merupakan cara untuk memperoleh informasi,” jelasnya.
Ia melanjutkan, semua bahan berita kalau sudah didapat,
dikumpulkan. Pengumpulannya bisa dalam bentuk suara, teks, foto/gambar atau
audio visual.
“Setelah dikumpulkan, diolah. Cara pengolahannya sesuai
dengan bentuk penyajian. Bisa dalam
bentuk news (berita) atau views (penyikapan atas suatu kejadian),” terangnya.
Kata Om Joy, jenis news itu banyak. Empat di antaranya
adalah, pertama, Straight News/SN (rekonstruksi suatu kejadian yang langsung
pada pokok permasalahan). Kedua Feature News/FN (rekonstruksi kejadian yang
dikemas dalam bentuk cerita).
“Tulisan news yang paling populer yang harus dikuasai para
jurnalis adalah SN dan FN,” tandasnya.
Menyimak penjelasan Om Joy di atas, aku benar-benar malu
pada diriku sendiri, yang sudah melekatkan predikat sebagai jurnalis tetapi
belum menguasai jurnalistik yang paling dasar sekalipun.
Terlebih saat Om Joy menjelaskan lebih dalam lagi. “Setelah
dua hal ini dikuasai maka para jurnalis
bisa membuat sajian jurnalistik lainnya. Di antaranya adalah depth reporting
(rekonstruksi suatu kejadian yang membahas segala aspek dari peristiwa
tersebut), dan jurnalisme investigasi,” paparnya.
Om Joy melanjutkan, penulisan depth reporting bisa dengan
gaya SN yang banyak sub judulnya, bisa juga dengan gaya FN.
Terkait jurnalisme investigasi Om Joy menjelaskan,
jurnalistik investigasi itu dia mengungkap kebenaran dari
kejanggalan-kejanggalan yang terlihat dari suatu peristiwa. Bila suatu
peristiwa ada kejanggalan, peristiwa ini pasti akan diberitakan oleh media masa
dengan nara sumber pihak tertentu.
“Ketika itu diberitakan, kita bisa mengendus adanya
kejanggalan dari pernyataan
pihak-pihak tertentu itu. Nah
kejanggalan itu berarti dia menutupi suatu kebenaran sehingga diperlukan
pengungkapan atas kebenaran peristiwa tersebut. Jadi jurnalistik investigasi
adalah rekonstruksi suatu kejadian yang
mengungkap kebenaran yang tertutupi oleh kejanggalan,” tandasnya.
Ia melanjutkan, kejanggalan itu biasanya muncul karena
memang informasi yang diberikan kepada media masa tidak lengkap dan sengaja
ditutupi.
“Dan biasanya itu melibatkan orang-orang yang berpengaruh, baik dari sisi jabatan
maupun dari sisi harta. Kalau diungkap apa adanya nanti orang yang punya
jabatan atau harta ini akan terjerat hukum sehingga disampaikan informasi yang
tidak apa adanya, sehingga terlihat kejanggalan,” tandasnya.
Untuk penyajian jurnalistik investigasi ini,
menurutnya, bisa dalam bentuk gaya
berita lugas yang banyak sub judulnya,
bisa juga dengan gaya feature news.
“Jadi ketika kita bisa menulis FN murni (yang akan dibahas
selama 2 bulan ke depan), juga kita bisa
menggunakan gaya FN ini untuk menulis depth reporting dan jurnalistik investigasi. Itu di antara
keuntungan ketika kita mampu menulis Feature News,” tandasnya.
Masyaallah! Aku bahagia mengikuti pelatihan di pekan pertama
ini, karena mendapat ilmu dasar jurnalistik yang bisa aku gunakan untuk
melayakkan diri menjadi jurnalis.
Views
Tak hanya tentang news, Om Joy melengkapi penjelasan di
pertemuan perdana ini dengan views yang merupakan bentuk sajian jurnalistik
juga.
“Ragam penulisan opini (views) ada banyak. Ada yang disebut
artikel, esai, kolom dan editorial,” jelas Om Joy.
Ia lalu menjelaskan satu persatu ragam views itu. “Artikel
adalah pembahasan suatu masalah secara
tuntas yang ditulis oleh ahli di bidangnya,” terangnya.
Ia melanjutkan, ada juga yang disebut esai yaitu narasi
mirip dengan artikel tetapi tidak
dituntut memberikan solusi. “Esai itu membahas masalah secara sepintas, bisa
dengan menonjolkan kritik atau argumen melalui pengamatan sehari-hari penulis
tanpa memerlukan solusi,” tandasnya.
Sedangkan kolom, ia menjelaskan, lebih menekankan kepada aspek pengamatan dan
pemaknaan terhadap satu keadaan atau persoalan yang ada di tengah masyarakat,
yang penyajiannya biasanya lebih kepada
refleksi kritis.
Agar peserta lebih jelas lagi, Om Joy menekankan perbedaan
antara artikel dengan kolom. “Jadi kalau artikel itu mengupas masalah tertentu
yang ditulis ahlinya. Tentu analisanya lebih dekat ke akademis. Nah kalau kolom
membahas suatu masalah juga, tetapi lebih kepada refleksi kritis dirinya
terhadap suatu masalah, masalahnya dikritisi oleh penulisnya. Pendekatannya ke
situ bukan ke analisis akademis,” tegasnya.
Berbeda dari keduanya [artikel dan kolom], ia masih
menjelaskan, kalau esai tidak memberikan
solusi. “Ketika kita mengkritik suatu permasalahan kita kritik saja masalah tersebut dari sudut
pandang kita dengan argumen-argumen yang kuat yang tujuannya agar orang lain
sependapat dengan kita,” bebernya.
Terakhir Om Joy menjelaskan ragam views ke empat yaitu
editorial. “Editorial itu juga sama, tulisan opini juga cuman ditulisnya oleh pemimpin
redaksi yang ditujukan sebagai sikap resmi dari media masa tersebut,”
ungkapnya.
Subhanallah! Pertemuan pertama yang kaya ilmu, menggambarkan
proses jurnalistik mulai dari mengumpulkan berita, mengolah dan menyajikan
berita, aku dapatkan di pertemuan itu.
Terlebih, di penghujung pemberian materi Om Joy melengkapi
pembahasan dengan menjelaskan siapa itu reporter, redaktur, bagian lay out,
yang dengan peran masing-masing berita bisa disajikan dengan indah.
Ditambah dengan penjelasan bagaimana gambaran penyajian
secara serentak, menambah khasanah tentang
jurnalistik yang sangat aku butuhkan untuk melayakkan diri menjadi
seorang jurnalis.
Terima kasih Om Joy! Ilmu yang diberikan di pertemuan
perdana ini insya Allah menjadi pengetahuan berharga yang bisa saya amalkan dan
juga diamalkan oleh teman-teman sehingga bisa menyajikan berita dengan berbagai
variannya.
Semoga Allah menjadikan ilmu yang Om Joy bagi menjadi amal
jariah yang senantiasa mengalirkan kebaikan. Dan semoga Allah senantiasa
mengaruniai kesehatan dan keberkahan hidup untuk Om Joy. Aamiin.
Rancaekek, 20 Agustus 2024
Oleh: Irianti Aminatun, Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 9





