Tinta Media – Akademisi dan peneliti yang pernah belajar di AS selama 17 tahun Ahmad Rusdan H. Utomo, Ph.D. menilai, agama Islam adalah agama yang rasional.
“Agama Islam adalah agama yang rasional walaupun bersumber dari non rasional. Bukan irasional ya, tapi non rasional,” tuturnya dalam acara Ramadhan Challenge to Change bertajuk Ramadhan: Bulan Perubahan, Bulan Keberkahan, Kamis (27/2/2025) di kanal YouTube One Ummah TV.
Menurutnya, kerasionalan agama Islam terlihat dari dispensasi yang diberikan bagi orang yang sakit untuk tidak berpuasa.
“Ada dispensasi bagi orang marid (yang sakit). Agama kita sangat rasional, sebab agama Islam ini cuman masalah keyakinan, pokoknya percaya saja. Secara tekstual kita harus menggali, kan? Karena siapa yang disebut dengan sakit? Nah di sinilah pentingnya kita berpikir, karena jangan-jangan hanya pura-pura sakit,” cetusnya.
Ahmad memberikan, analogi sederhana yang sangat rasional. Yang terkenal ibu hamil itu di kajian fikih sudah jelas banget. Tapi yang menarik adalah dari trimesternya dan diukur dari tingkat mortalitas bayi yang lahir, ternyata ibu hamil yang puasa saat gestasi dan juga saat trimester pertama sangat berisiko terhadap mortalitas bayi.
“Ibunya mungkin kuat puasa tapi bayinya belum tentu kuat,” kritiknya.
Makanya dari sini, menurut Ahmad, dari penelitian di Burkina Faso, mereka melakukan perbandingan antara masyarakat Muslim dan non Muslim, dan ternyata ada risiko yang ditimbulkan dari puasa.
“Jadi artinya ketika Allah Taala mengatakan yang sakit dan didispensasi, nah berarti kita harus berpikir siapa nih yang dimaksud sakit,” ungkapnya.
Ia mengatakan, yang disebut dengan perfect strom ketika ada yang disebut dengan gestational diabetes, jadi sebagian wanita yang hamil itu jadi diabetik. Itu jadi sempurna risikonya. Artinya, memang rekan-rekan yang ingin berpuasa memang harus tahu kondisinya dan betul-betul harus dipelajari dengan ahli kesehatan yang dipercaya.
“Istilahnya kalau kita ingin melakukan perintah harus mampu kita, kalau memang kita tidak mampu, ya jangan dipaksa. Shalat saja kan ada takarannya, kalau tidak mampu berdiri, ya duduk atau rebahan,” tutupnya.[] Novita Ratnasari
![]()
Views: 9
















