Dakwah: Jalan Para Pejuang

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Mereka yang mengaku sebagai muslim sejatinya menyadari bahwa hidup di dunia ini sekadar persinggahan, bukan tanpa tujuan. Allah menciptakan manusia dengan misi yang agung: untuk menjadi hamba yang taat dan sekaligus khalifah di muka bumi. Salah satu bentuk paling nyata dari pelaksanaan misi itu adalah dakwah—menyeru manusia kepada jalan Allah, mengajak kepada kebaikan, dan memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam kehidupan.

Dakwah bukanlah aktivitas sambilan atau sekadar rutinitas lisan. Ia adalah perjalanan panjang yang penuh makna, pembuktian cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan cinta yang sekadar diucapkan, tetapi cinta yang diwujudkan dalam bentuk perjuangan dan pengorbanan.

Secara tegas, Allah Swt. telah berfirman, “Jika prioritas utama kalian adalah keluarga, harta, dan kepentingan pribadi daripada menjalankan perintah-Nya dan berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah hingga keputusan-Nya tiba.” (QS. At-Taubah: 24)

Ayat ini menohok hati, seolah berkata: kalau cintamu kepada dunia lebih besar daripada kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah murka-Nya. Sebabnya, cinta sejati akan selalu mendorong seseorang untuk berkorban, termasuk berkorban dalam dakwah.

Jalan Penuh Duri

Harus disadari bahwa jalan dakwah bukan jalan yang dipenuhi bunga-bunga. Dakwah adalah jalan yang penuh duri, sebagaimana yang ditempuh para nabi dan rasul. Mereka dihina, diusir, bahkan sebagian dibunuh oleh kaumnya sendiri. Namun, mereka tak pernah mundur, karena mereka menyadari bahwa dakwah bukan sekadar tugas, tetapi dakwah bagian dari identitas sebagai khalifah.

Allah Swt. sudah menyatakan sejak awal penciptaan manusia bahwa sungguh Allah akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca pada QS. Al-Baqarah: 30.

Sebagai khalifah artinya menjadi wakil Allah dalam mengatur kehidupan di bumi, bukan dengan aturan manusia, tetapi dengan aturan dari Allah, yaitu syariat Islam. Dan untuk menegakkan syariat ini, dibutuhkan proses panjang, yang dimulai dari dakwah: menyampaikan, menjelaskan, dan mengajak manusia kepada sistem hidup Islam.

Tentu saja, akan ada ujian. Akan ada penolakan. Akan ada tekanan. Inilah jalan dakwah sebagai batu ujian yang ditegaskan di dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Ankabut: 2. Tentang apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji?

Ujian itu adalah keniscayaan. Namun, untuk mereka yang tetap teguh, tetap bersabar, dan terus melangkah di jalan dakwah, Allah Swt. memberikan kabar gembira. Dalam hal ini, bukan hanya mendapat pahala yang besar, tetapi juga kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.

Seperti yang tercantum dalam QS. Fussilat: 33, Allah Swt. berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'”

Puncak Kemuliaan Hidup

Inilah puncak kemuliaan hidup seorang muslim—ketika ia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tapi hidup untuk menyampaikan risalah Allah, hidup untuk perjuangan menegakkan syariat-Nya, hidup untuk menjadi bagian dari perubahan besar umat ini.

Dan dakwah itu bukan hanya mengajak kepada perkara ritual dan akhlak mulia semata, tetapi juga kepada penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan: dari individu hingga negara. Oleh sebab itu, hanya dengan syariat Allah-lah, keadilan sejati dapat tegak dan manusia mendapatkan keberkahan dari tegaknya hukum Allah Swt.

Seperti yang tercantum dalam QS. Al-Ma’idah: 49, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.'”

Dakwah adalah jalan panjang, jalan para pejuang. Ia bukan jalan pencitraan, bukan jalan untuk popularitas. Dakwah adalah jalan untuk membuktikan bahwa cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah cinta yang hidup, cinta yang berjuang, cinta yang tak menyerah meskipun diuji dengan segala rintangan. Dakwah adalah medan para pejuang.

Maka, bagi siapa pun yang memilih jalan dakwah, ingatlah: ini adalah perjalanan hidup, bukan proyek jangka pendek. Ini adalah bukti kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan ini adalah cara kita memenuhi tugas kita sebagai khalifah, dengan menegakkan syariat Islam di bumi.

Kita berdoa agar Allah Swt. meneguhkan hati para pengemban dakwah dan mencatat langkah-langkahnya sebagai bagian dari amal yang diridai-Nya. Sungguh, tiada kebahagiaan sejati kecuali menjadi bagian dari perjuangan yang besar ini. Dakwah itu sebagaimana makna QS. Adz-Dzariyat: 55 adalah peringatan, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.

Wallahu’alam bish Shawwab.

Oleh: Maman El Hakiem
Sahabat Tinta Media

Views: 91

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA