Tinta Media – Hai sob, aku mau nanya nih, kalian suka ngga sih minuman
kemasan yang rasanya manis-manis itu! yang biasa dijual di banyak supermarket.
Minuman yang rasanya enak, manis, ga perlu ribet-ribet bikin, murah pula.
Kira-kira siapa sih yang ngga suka sama minuman kaya gitu? apalagi dari
kalangan kita, gen Z. Aku yakin rata-rata kita semua suka minuman kemasan
seperti itu.
Tapi kalian tau ngga sih kandungan gula yang ada di dalam
minuman kemasan seperti itu? kalian pernah liat informasi nilai gizi yang ada
di belakang minuman kemasan tidak? coba kalau nanti beli, cek kandungan gula di
minuman tersebut ya.
Kita ambil contoh minuman teh b*tol so*ro yang isi bersihnya
350 ml. Disebutkan dalam informasi nilai gizinya, kandungan gulanya adalah 11
gram untuk satu serving (225ml). Cara menghitung kandungan gulanya adalah 11
dibagi 225 kemudian dikalikan 350 ml, maka hasilnya adalah 17 gram yang setara
dengan 3,5 sendok teh.
Contoh lainnya ada pada minuman sereal en*rgen yang
mengandung 18 gram gula atau setara dengan 2 SDM(sendok makan) gula. Minuman
probiotik ya*ult yang 65 ml nya mengandung 10 gram gula. Susu kotak ul*ra m*m*
ki*s yang mengandung 11 gram gula atau setara dengan 1 SDM gula. minuman p*r*ro
yang mengandung 27 gram gula atau setara dengan 3 SDM gula. Permen jely kenyal
y*pi mengandung 48 gram gula atau setara dengan 5 SDM gula.
Waduh, lumayan ngeri ya! Padahal jatah gula kita sehari
menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah 50 gram, bisa-bisa
langsung habis kalau banyak mengonsumsi makanan atau minuman kemasan seperti
yang dicontohkan di atas.
Dikutip dari detik.com Sabtu 27 Juli 2024 dikabarkan bahwa
banyak anak-anak yang mengalami cuci darah di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Ada
sekitar 60 anak yang menjalani terapi pengganti ginjal di RSCM. 30 diantaranya
menjalani hemodialis rutin sementara lainnya datang sebulan sekali.
Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena
gagal ginjal, salah satunya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman
kemasan yang tinggi gula. Dokter Spesialis Anak di RSCM Eka Laksmi Hidayati
mengatakan salah satu faktornya adalah pola hidup tidak sehat (cnnindonesia.com
26/07/2024).
Pola hidup tidak sehat ini tidak langsung seketika langsung
terjadi. Ini bisa terjadi kalau sudah masuk obesitas dan anak yang obesitas
ketika masuk usia dewasa (gagal ginjal).
Sungguh miris, kesehatan rakyat tidak ada lagi jaminannya.
Negara juga abai dalam mengontrol makanan atau minuman yang di konsumsi
rakyatnya. Bukankah itu tugas utama negara? yaitu menjamin kesehatan rakyatnya.
Kalaulah kita sudah berupaya untuk menjaga kesehatan, tapi makanan yang thayyib
dan halal sulit didapatkan apalah daya?
Padahal Allah sudah mengatur pola makan yang benar dalam Q.S
Al-Maidah ayat 88 “Dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang Allah
telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman
kepada-Nya”
Kita semua memang membutuhkan aturan langsung dari pencipta
manusia, Allah SWT Al-Khaliq Al-Mudabbir. Aturan yang sempurna tiada tara
karena langsung dari sang kuasa. Bukankah sudah saatnya aturan itu diterapkan?
Oleh: Shiera Kalisha Tasnim, GenZiPU (generasi z peduli umat)
![]()
Views: 12
















