Maulid, Momentum Meneladani Dakwah Rasulullah saw.

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menyambut Rabiulawal 1448 Hijriah, Kementerian Agama (Kemenag) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. ini digelar melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H. Salah satu agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. (SindoNews, 23/8/2026).

Momen Maulid yang diperingati setiap tahun menunjukkan antusiasme kaum muslimin terhadap kelahiran Nabi Muhammad saw. Berbagai macam acara digelar dan selawat berkumandang di seluruh pelosok negeri. Semua itu membuktikan kecintaan kepada Baginda Rasulullah saw. Namun sayangnya, selama ini keteladanan kaum muslimin terhadap Rasulullah hanya sebatas perkara akhlak dan ibadah semata.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. seharusnya menjadi pengingat dan momentum penting tentang kelahiran Rasul sebagai pembawa risalah Islam, serta perjalanan dakwah Rasulullah hingga beliau mampu mengubah kondisi jahiliah menjadi terang benderang dengan risalah yang dibawanya. Itibak (mengikuti) Rasul seharusnya berarti meneladani secara keseluruhan apa saja yang dicontohkan oleh Baginda Rasul, yaitu perubahan dari penghambaan kepada hawa nafsu dan dunia menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt.

Rumitnya permasalahan yang menimpa dunia saat ini membuat kalangan muslim menginginkan perubahan. Sayangnya, berbagai macam gerakan yang ada belum sesuai dengan metode yang dicontohkan oleh Baginda Rasul. Dari sinilah pentingnya meneladani metode dakwah Rasulullah saw. agar perjuangan yang kita tempuh tidak berujung pada kesia-siaan.

Peringatan Maulid merupakan wujud kecintaan umat Islam kepada Rasul-Nya. Namun sayangnya, rasa cinta itu masih sebatas ucapan berupa selawat kepada Nabi. Cinta bukan sekadar ucapan, tetapi harus dibarengi dengan perbuatan. Meneladani Rasulullah bukan hanya sebatas ibadah individu beliau atau bagaimana cara beliau makan, tidur, dan berjalan, tetapi juga bagaimana beliau sebagai utusan Allah membawa risalah Islam dan mendakwahkan Islam hingga mampu mengubah kondisi jahiliah menjadi rahmat bagi seluruh alam dengan ketaatan total kepada Allah Swt. Itulah konsekuensi yang harus diteladani oleh umat Islam agar melahirkan cinta yang sesungguhnya kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Namun, tanpa disadari, umat Islam saat ini masih terjebak dalam penghambaan kepada selain Allah melalui jalan demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Sistem kapitalisme, demi eksistensinya, akan terus berusaha menghalangi suara umat yang mengajak pada perubahan menuju penerapan Islam kafah.

Islam adalah agama sempurna yang berasal dari wahyu Allah Swt. melalui Rasulullah saw. sebagai penyampai risalah-Nya. Allah Swt. menjadikan Rasulullah Muhammad saw. sebagai teladan terbaik bagi umat manusia. Itibak (mengikuti) Rasulullah berarti melaksanakan seluruh syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw., bukan sekadar ibadah ritual seperti salat, zakat, puasa, haji, dan lainnya. Allah Swt. berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31)

Di Makkah, Rasulullah senantiasa berdakwah menyampaikan Islam kepada keluarga, kerabat, dan sahabat. Setelah itu, Islam disampaikan secara terang-terangan di muka umum untuk menyerukan tauhid kepada masyarakat Makkah. Dakwah di Makkah menghadapi berbagai kesulitan hingga akhirnya berlanjut ke Madinah Al-Munawarah. Di sana, dakwah Rasul disambut dengan baik. Rasulullah membangun masyarakat Islam yang kuat, adil, dan damai, serta meletakkan dasar-dasar kehidupan bernegara, sosial, dan hukum bagi masyarakat yang majemuk. Misi dakwah di Madinah adalah membangun tatanan sosial-politik, menyatukan kelompok masyarakat yang berbeda suku dan agama secara adil, menyebarkan ajaran Islam secara luas, melanjutkan risalah tauhid dengan kebebasan beribadah yang aman, menegakkan keadilan dan perdamaian, serta menciptakan iklim kehidupan bersama yang harmonis di tengah kemajemukan.

Sudah saatnya umat Islam berjuang menegakkan kembali syariat Islam seperti jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu dengan dakwah pemikiran tanpa kekerasan hingga Islam tegak di Madinah sebagai suatu negara yang menerapkan hukum-hukum Islam secara sempurna. Inilah jalan yang seharusnya diikuti kaum muslimin, yaitu metode dakwah Rasulullah saw., agar kemenangan Islam bisa teraih secara sempurna.

Metode dakwah (perjuangan) Rasulullah saw. melewati tiga tahapan (marhalah). Pertama, tasqif, yaitu tahap pengkajian dan pembelajaran tsaqafah Islam. Kedua, tafa’ul ma’al ummah, yaitu interaksi dengan masyarakat. Ketiga, istilamul hukmi, yaitu tahap menerima kekuasaan secara menyeluruh melalui dukungan umat.

Dengan meneladani dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah saw., kemenangan Islam akan kembali teraih di tengah-tengah umat sebagai rahmatan lil-‘alamin, seperti firman Allah Swt., “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107).

Wallahu a’lam.

Oleh: Finis
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA