Minyak Goreng Tidak Sesuai Takaran Bikin Pening Kehidupan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Gimana gaes kabar mental akhir-akhir ini? Aman? Rasanya pengen minum b*drex 3×3 deh, biar sekalian minggat gitu mumetnya. Gimana nggak mumet coba? Pendidikan dan kesehatan dinomerduakan, katanya efisiensi anggaran tapi ada artis yang dikasih jabatan, minyak goreng yang isinya nggak sesuai takaran dan harga di pasaran, pangan yang selalu naik pas bulan Ramadhan dan pertamax yang ternyata selama ini isinya bensin oplosan. Mental WIR (Warga Indonesia Raya) akhir-akhir ini dibuat breakdance sama keadaan yang makin nggak karu-karuan dan penuh gebrakan.

Kita ambil contoh satu aja deh, soal minyak goreng yang nggak sesuai takaran. Dua tahun lalu waktu minyak goreng langka dan mahal, WIR nggak dikasih solusi yang solutif. Kita malah dikasih solusi buat makan makanan yang rebus-rebusan. Di satu sisi, ngurangi gorengan itu perlu bahkan perlu banget sih, tapi nggak gitu juga kan gaes solusinya karena minyak goreng udah jadi bagian kebutuhan sehari-hari kehidupan kita. Banyak masyarakat yang hidupnya bergantung sama goreng-gorengan, mulai dari ibu-ibu di rumah sampe ibu-ibu di warteg. Nah, sekarang lucunya di 2025 ada kasus minyak goreng lagi, di mana terjadi ketidaksesuaian takaran pada Minyak goreng merk Minyakita ukuran 1 liter.

Hal ini diketahui dari hasil pengujian yang dilakukan di Pasar Kemayoran, Jakarta Pusat pada Selasa, 11 Maret 2025. Direskrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Ade Safri Simanjuntak menyatakan ada 12 botol Minyakita yang di label kemasannya tertulis 1 liter namun ternyata hanya berisi kurang lebih 800 mililiter. Kecurangan ini nggak cuman terjadi di Jakarta ya gaes, tapi juga terjadi di sejumlah wilayah Indonesia seperti Serang, Magetan, sampai di NTB dan Kendari. Selain isinya yang nggak sesuai dengan keterangan kemasan, Polri juga menyatakan minyak-minyak tersebut dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan sebesar Rp15.700 per liter (Tempo, 12/03/2025).

Miris banget ya? Kok bisa? kebutuhan pangan rakyat disunat seenaknya kayak gini? Ini sama aja kayak mengurangi timbangan jadinya. Padahal nih ya Allah udah mention di beberapa firman-Nya tentang larangan mengurangi takaran ini:

Surat Asy Syu’ara ayat 183: “Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya (pada takaran, timbangan, upah, nafkah, dsb).”

Surat Al Isra’ ayat 35: ”Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar.”

Surat Al Muthaffifin ayat 1-3: ”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang; (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.

Dari ketiga ayat di atas sebenarnya udah jelas banget ya gaes, gimana tegas-Nya peringatan Allah sama hamba-Nya. Udah diwanti-wanti banget, jangan sampe ngurangi takaran milik orang lain karena itu jadi haknya mereka yang sudah seharusnya diberikan secara utuh dan sempurna. Tapi nyatanya “ekspektasi melangit dikecewakan oleh realitas yang membumi”. Faktanya Minyakita yang katanya buat rakyat itu malah dikurangi takarannya. Ada kata “kita” dalam Minyakita bukan berarti boleh dicurangi sama golongan “kita-kita”nya para penggedhe perusahaan dong?

Rasa-rasanya perusahaan seperti setengah hati dalam mendukung program pemerintah ini. Terbukti, pada awalnya mereka mau memproduksi Minyakita, namun lama kelamaan mereka sengaja mengurangi takarannya biar mereka mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Hmm… ruwet ya gaes ya. Kerasa banget kan ruwetnya kehidupan sekarang? Permasalahan ini tentunya ada pemicunya kan gaes. Kita harus cari tahu apa sih yang sebenarnya jadi sumber masalahnya?

Sumber masalahnya adalah kesalahan penerapan sistem dalam kehidupan gaes. Saat ini kita sedang berada di bawah cengkeraman sistem kapitalisme yang menggunakan standar kehidupannya adalah materi (keuntungan). Semua hal dilakukan demi mendapatkan keuntungan semata. Segala cara ditempuh tanpa memedulikan orang lain. Termasuk salah satunya melakukan kecurangan dalam memproduksi pangan yang dikonsumsi masyarakat. Padahal pangan adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi setiap harinya kan gaes? Tapi nyatanya malah dicurangi.

Membiarkan kehidupan terus menerus berada dalam jeratan sistem kapitalisme akan membuat kehidupan kita-kita sebagai rakyat sulit mendapatkan kesejahteraan gaes. Jadi udah saatnya kita butuh solusi paripurna untuk mengatasinya. Solusi itu nggak lain dan nggak bukan adalah sistem Islam dalam naungan negara Khilafah. Dalam sistem Khilafah semua persoalan umat akan diselesaikan sesuai dengan kacamata hukum syarak termasuk dalam mengani masalah pangan seperti minyak goreng.

Pertama, negara akan mengatur penawaran dan daya beli masyarakat. Dalam mengatur keseimbangan penawaran dan permintaan minyak goreng, negara akan memiliki data yang terukur jelas sehingga produsen dapat menyesuaikan produksinya sesuai kebutuhan masyarakat. Selain itu gaes, negara akan berupaya menyediakan lapangan pekerjaan bagi seluruh rakyatnya sehingga mereka bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan baik. Bagi rakyat yang tidak mampu nih, negara akan memberikan bantuan langsung kepada individu per individu sehingga pemenuhan kebutuhannya terjamin.

Kedua, Khilafah akan mencegah masuknya pemodal besar ke sektor industri makanan seperti minyak goreng, terutama swasta asing. Negara juga memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan benar. Khilafah Islam juga memiliki struktur khusus dalam hal ini, yaitu dengan membentuk qadi Hisbah yang bertugas mengawasi tata niaga di pasar.

Ketiga, dalam hal kepemilikan Islam tidak memperbolehkan mengambil lahan milik umum semacam hutan untuk dijadikan milik pribadi. Tidak seperti sekarang dimana perkebunan sawit dikuasai oleh individu/sekelompok orang saja. Sehingga hanya segelintir orang yang menikmati keuntungannya.

Dan yang tidak kalah penting, negara juga akan mengedukasi masyarakat terkait ketakwaan dan syariat bermuamalah. Dengan adanya pemahaman konsep bermuamalah, masyarakat  dari seluruh lapisan akan memahami hakikat dari penjualan barang, bukan hanya berorientasi pada laba tetapi juga ketaatan kepada Allah. Umar R.A pun pernah melarang orang yang tidak memiliki ilmu untuk datang ke pasar dengan mengatakan, “Jangan berjual beli di pasar kami, kecuali orang yang berilmu. Apabila tidak, ia akan makan riba, baik disengaja atau tidak”.

MasyaAllah sempurna banget kan gaes sistem Islam? Gimana nggak sempurna? Kan Islam berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna. Sistem Islam mampu memegang kendali sektor dari hulu hingga hilir suatu komoditas pangan. Sudah saatnya nih para penguasa negara kita saat ini menengok pada solusi Islam. Sistem yang bukan hanya menyejahterakan rakyatnya tapi juga mampu mendatangkan rahmat dari-Nya.

Wallahu a’alam bi shawabb.

Oleh: Mauriz, S.T.P.
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 21

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA