Tinta Media – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza. Kesepakatan itu disebut sebagai langkah besar menuju perdamaian.
Trump menyatakan bahwa perlucutan senjata akan dilakukan bertahap, kemudian pasukan Israel akan ditarik dari Gaza dan tugas keamanan akan diambil alih oleh pasukan stabilisasi internasional bersama aparat Palestina yang baru. Sejumlah pejabat Hamas juga mengonfirmasi adanya kesepakatan untuk mengakhiri konflik. (detiknews, Jumat/31/07/2026)
Namun, di balik narasi perdamaian yang terdengar indah, terdapat pertanyaan besar yang tidak boleh diabaikan, apakah perdamaian benar-benar sedang dibangun, atau justru sedang disusun sebuah skenario baru yang mengubah bentuk penjajahan menjadi lebih halus dan lebih sulit dilawan?
Akar Konflik Belum Tersentuh
Banyak umat langsung mengaitkan pelucutan senjata dengan berakhirnya perang.
Padahal, keduanya bukan hal yang sama. Senjata bukan akar utama persoalan Gaza. Konflik Palestina tidak lahir karena keberadaan senjata semata, melainkan karena pendudukan, perebutan wilayah, kontrol keamanan, serta hilangnya hak Palestina untuk menentukan masa depannya sendiri.
Di sinilah letak persoalan yang paling mendasar. Dalam kesepakatan ini, perhatian besar diarahkan pada pelucutan senjata Hamas. Sementara itu, jaminan berakhirnya pendudukan, pemulihan wilayah Palestina, serta kepastian keamanan Gaza masih menyisakan banyak tanda tanya.
Pertanyaan yang sangat penting: jika Hamas telah dilucuti, siapa yang menjamin Israel benar-benar menarik pasukannya? Siapa yang memastikan serangan tidak akan terulang?
Sebab, fakta di lapangan menunjukkan bahwa berbagai kesepakatan gencatan senjata sebelumnya tidak selalu menghentikan jatuhnya korban di pihak Palestina.
Inilah mengapa pelucutan senjata tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai kemenangan perdamaian. Perdamaian yang sejati harus menghadirkan rasa aman, bukan sekadar menghilangkan kemampuan satu pihak.
Lebih jauh lagi, rencana pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional juga patut dicermati secara kritis. Pertanyaan pentingnya adalah: stabilisasi untuk siapa? Siapa yang menentukan mandat mereka? Siapa yang mengawasi tindakan mereka? Apakah mereka hadir untuk melindungi rakyat Palestina atau hanya memastikan Gaza tetap berada dalam kondisi yang mudah dikendalikan?
Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang jelas dan mengikat, maka rakyat Gaza berhak merasa khawatir. Sebab, sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa keputusan besar tentang Palestina sering kali dibuat tanpa benar-benar melibatkan kepentingan rakyat Palestina sendiri.
Daya Tawar Terancam
Risiko terbesar dari kesepakatan ini adalah hilangnya daya tawar Palestina sebelum akar masalahnya diselesaikan. Ketika kemampuan perlawanan dilucuti lebih dahulu, sementara persoalan politik, keamanan, dan kedaulatan belum memiliki penyelesaian yang pasti, maka posisi Palestina menjadi makin lemah.
Bahkan, pembangunan kembali Gaza yang sering disebut sebagai New Gaza juga perlu dilihat dengan hati-hati. Membangun gedung, jalan, sekolah, dan rumah memang penting. Akan tetapi, pembangunan fisik tidak otomatis menghadirkan kemerdekaan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Gaza dibangun untuk siapa, di bawah kendali siapa, dan siapa yang menentukan arah masa depannya?
Jika rekonstruksi hanya menghasilkan bangunan baru, tetapi rakyat Palestina tetap kehilangan kendali atas tanah dan kehidupannya sendiri, maka pembangunan itu hanya akan menjadi proyek fisik yang menutupi luka lama tanpa menyembuhkan.
Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami bahwa berbagai manuver politik Amerika Serikat dan Zionis Israel harus dibaca secara kritis. Perubahan strategi tidak selalu berarti perubahan tujuan. Ketika satu cara tidak berhasil, sering kali muncul cara lain yang tampak lebih lembut tetapi mengarah pada tujuan yang sama.
Kesadaran inilah yang harus terus dibangun.
Umat tidak boleh mudah terbuai oleh istilah-istilah indah yang dipasarkan sebagai solusi, sementara substansi masalahnya tetap tidak tersentuh.
Allah Swt. sudah menegaskan, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Ayat ini sedang mengingatkan bahwa kezaliman tidak boleh dinormalisasi, apalagi diterima hanya karena dibungkus dengan bahasa diplomasi yang menarik. Keadilan tetap harus menjadi ukuran utama dalam menilai setiap kesepakatan.
Oleh karena itu, umat Islam juga harus terus melakukan kritik dan koreksi terhadap para pemimpin negeri-negeri muslim. Mereka memilih bersekutu dengan agenda kekuatan besar, artinya tidak sungguh-sungguh memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Diam terhadap ketidakadilan hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Palestina yang selama puluhan tahun hidup dalam penjajahan.
Pada saat yang sama, umat harus terus didorong untuk memperkuat persatuan politiknya. Selama dunia Islam terpecah dalam banyak kepentingan nasional yang berbeda-beda, Palestina akan terus menjadi korban tarik-menarik kekuatan global.
Islam menawarkan solusi yang berbeda. Islam tidak menjadikan perdamaian sekadar absennya senjata. Islam menempatkan keadilan sebagai fondasi perdamaian. Oleh karena itu, perdamaian sejati hanya dapat terwujud ketika kezaliman dihentikan, pendudukan diakhiri, hak rakyat Palestina dikembalikan, serta keamanannya benar-benar terjamin.
Dalam pandangan Islam, umat harus memiliki kepemimpinan yang kuat, yang mampu melindungi negeri-negeri muslim dan membela kaum yang tertindas. Persatuan umat dalam naungan syariah dan Khilafah dipandang sebagai jalan untuk membangun kekuatan politik dan pertahanan yang mampu menjaga kehormatan kaum muslimin.
Palestina tidak cukup hanya dibangun kembali. Palestina harus mendapatkan keadilan. Palestina harus mendapatkan keamanan. Palestina harus mendapatkan martabat. Yang paling penting, Palestina harus mendapatkan hak untuk menentukan masa depan sendiri tanpa tekanan pihak mana pun.
Sungguh, jika Gaza dibangun kembali setelah Palestina kehilangan daya tawarnya, maka yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan baru di atas luka lama yang belum pernah benar-benar disembuhkan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Isnawati
Muslimah Penulis Peradaban
![]()
Views: 2
















