Bahaya Gim Daring Mengintai Generasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Media informasi hari ini seolah tak pernah kehabisan berita. Dari satu kasus ke kasus lainnya, dari berbagai bidang dengan beragam motif di balik peristiwa yang terjadi. Salah satu yang santer terdengar belakangan ini adalah kasus tragis pembunuhan yang dilakukan seorang anak berusia 12 tahun terhadap ibu kandungnya sendiri. Peristiwa ini tentu mengundang perhatian luas publik, khususnya di media sosial. Berbagai spekulasi pun bermunculan, sebagian berharap kenyataan akan berkata lain bahwa sang anak bukanlah pelakunya. Namun, setelah rekonstruksi dilakukan, fakta tetap tak berubah: anak tersebut memang pelakunya.

Polrestabes Medan mengungkap kronologi dugaan pembunuhan seorang ibu berinisial F (42) oleh anaknya, AL (12), di Kota Medan. Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Calvin Simanjuntak, menyampaikan bahwa sebelum kejadian, korban tidur bersama dua anaknya di satu kamar di lantai satu. AL dan korban tidur di kasur bagian atas, sementara kakak korban tidur di kasur bagian bawah. Suami korban beristirahat di lantai dua.

Calvin menjelaskan terdapat beberapa faktor yang mendorong AL melukai korban. Pertama, ia kerap menyaksikan kekerasan yang dilakukan korban terhadap kakaknya serta ancaman menggunakan pisau kepada ayahnya. Kedua, melihat kakaknya dipukuli dengan sapu dan ikat pinggang. Ketiga, rasa sakit hati karena gim daring miliknya dihapus. Selain itu, AL diketahui sering memainkan gim yang melibatkan penggunaan pisau serta menonton serial anime dengan adegan serupa (Kompas.com, 29/12/2025).

Hari ini, kasus pembunuhan makin marak terjadi. Yang lebih menyedihkan, peristiwa ini justru muncul dalam lingkup keluarga—oleh orang terdekat, bahkan oleh seorang anak kepada ibu yang telah melahirkannya ke dunia.

Jika mengupas peristiwa ini, terdapat banyak sudut pandang yang perlu diperhatikan. Pertama, peran orang tua dalam membina anak. Anak adalah amanah dari Allah Swt. Ia bukan sekadar makhluk hidup yang membutuhkan materi, tetapi juga kasih sayang dan pembinaan ketakwaan individu melalui penguatan akidah. Ini merupakan tanggung jawab utama orang tua dalam membentuk kepribadian anak.

Kedua, lingkungan yang berinteraksi dengan anak harus benar-benar dikenali oleh orang tua. Di era digital saat ini, internet, media sosial, dan gim daring menghadirkan ruang baru bagi generasi, di mana interaksi di dunia maya sering kali lebih intens dibandingkan dunia nyata. Arus informasi yang tak terbendung ini dapat memengaruhi cara berpikir, pemahaman, hingga tingkah laku anak. Terlebih jika diperparah dengan luka emosional dan sikap orang tua yang diduga keras, sehingga memicu ledakan emosi yang berujung tragedi.

Sistem sekuler liberal yang diterapkan hari ini nyatanya makin banyak melahirkan kerusakan. Kemudahan teknologi dalam sistem kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan semata tidak menempatkan keamanan dan keutuhan keluarga sebagai prioritas, apalagi menjamin kesehatan mental generasi.

Lebih jauh, landasan sekuler yang mengakar di negeri ini tidak memberi ruang bagi agama untuk mengatur kehidupan. Agama hanya diposisikan sebagai ritual individual, bukan sebagai kewajiban yang mengikat seluruh aspek kehidupan. Akibatnya, generasi terancam kekosongan iman dan kehilangan arah dalam menjalani hidup.

Hingga hari ini, negara belum mampu memberikan perlindungan hakiki bagi generasi dari derasnya arus teknologi. Negara dengan landasan mabda kufur hanya menawarkan solusi tambal sulam yang tidak menyentuh akar masalah, bahkan sering kali memunculkan persoalan baru di tengah pertumbuhan generasi.

Islam sejatinya adalah solusi hidup yang menyeluruh, baik pada level individu, masyarakat, hingga negara. Islam memandang pentingnya menjaga dan melindungi generasi karena merekalah penerus perjuangan agama dan mabda. Menjaga pemikiran, pemahaman, informasi, serta tingkah laku generasi merupakan prioritas utama. Sebab, Islam adalah agama akliah yang menghadirkan seperangkat aturan sempurna dari Sang Pencipta, yang dengannya kemungkaran dapat dicegah.

Sebagai landasan bernegara, Islam akan memberikan perhatian serius terhadap dunia digital. Islam mengupayakan agar generasi terbebas dari jerat algoritma jahat dan hegemoni digital yang tak terkendali. Hegemoni ini sejatinya hanya dapat ditundukkan melalui kedaulatan digital yang mandiri di tangan kaum muslim, bukan berada di bawah bayang-bayang kekuatan kufur.

Adapun bagi generasi, mereka harus dibekali pendidikan yang membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Dengan demikian, akan tumbuh kepribadian Islam dan ketakwaan individu sebagai tameng dari dosa dan maksiat. Selain itu, diperlukan kontrol masyarakat melalui amar makruf nahi mungkar, serta kehadiran negara sebagai penegak hukum-hukum Allah dan aturan kehidupan.

Aturan Islam telah sempurna dalam seluruh aspek kehidupan—pendidikan, ekonomi, pergaulan sosial, budaya, pengelolaan informasi, hingga politik dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, umat perlu diseru untuk kembali ke jalan yang hak, yakni melanjutkan kehidupan Islam secara menyeluruh dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah. Wallahualam bissawab.

Oleh: Tri Ayu Lestari
Penulis Novel Remaja Islami dan Ibu Rumah Tangga

Loading

Views: 21

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA