Duduk di Lantai Berujung Jeruji Besi, Islam Solusinya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kasus guru menghukum seorang siswanya di SD Yayasan Abdi Sukma Medan duduk di lantai mendadak viral. Pasalnya siswa tersebut menunggak pembayaran SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) kasus ini berlanjut ke meja hukum. Ibu dari siswa SD tersebut melaporkan sang guru ke Polrestabes Medan. Karena tak terima anaknya dipermalukan. Kapolrestabes Medan Kombes Pol Gidion Arif Setyawan membenarkan bahwa AM ibu dari IM telah membuat laporan polisi (CNN Indonesia, 16/01/2025).

Adab dan Pengaruh Sosial Media

Di satu sisi miris melihat nasib guru yang dilaporkan ke pihak berwajib. Alih-alih berupaya ingin menertibkan anak dan mendisiplinkan orang tua, malah disalahartikan.

Belum lagi ketika menyoroti adab wali murid tersebut, yang masuk kelas tanpa permisi, bahkan dengan sengaja memvideokan guru dan anaknya. Apalagi dengan kekuatan sosial media. No justice no viral. Walhasil ada yang bersimpati dengan berjanji akan membantu biaya sekolah sang anak hingga jenjang SMA.

Namun, bagi anak-anak lain yang terpapar gadget akan mudah meniru perilaku orang dewasa yang ditontonnya tersebut. Saling adu mulut mencari pembenaran bukan kebenaran, mengesampingkan diskusi dengan pihak sekolah. Setelah keributan di sana-sini akhirnya jalan diskusi ditempuh. Sungguh ironi.

Lalu dengan anak yang duduk di lantai kelas tentu akan berdampak sanksi sosial. Karena maklumat yang didapat dari sekolah ini bahwa sang anak adalah ‘anak istimewa’ yang pernah dihukum dan tidak disiplin masalah biaya. Hal ini bisa menjadi masalah lainnya.

Begitu massifnya berita yang senada di sosial media memungkinkan adanya normalisasi di tengah masyarakat bahwa guru layak diseret ke meja hukum. Lalu feedback lainnya, guru bahkan akhirnya menjadi acuh tak acuh saat anak didiknya memiliki masalah disekolah. Takut kalau dipolisikan. Semua mata rantai ini adalah buah dari sistem sekuler. Yaitu sistem yang bertuhankan kebebasan. Siapa saja bisa bebas dalam berpendapat, berprilaku dan beragama. Yang merupakan bagian dari hak asasi manusia. Bukan berdasarkan aturan yang Maha Pengatur (Allah Al Mudabbir).

Islam, Perempuan, dan Dunia Pendidikan

Pemandangan seperti ini tidak akan ditemui dalam sistem Islam. Yaitu sistem sahih yang di dalamnya memakai aturan Allah dalam berperilaku dan berpendapat. Sistem yang mengajak manusia kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Sistem yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan unggulan. Contohnya kampus Guiness Book of World Records sebagai kampus tertua di dunia. Juga Universitas Al Qawariyyin adalah contoh sempurna bagaimana menggabungkan agama dengan pendidikan Islam. Islam menyoroti peran terhormat perempuan dalam masyarakat. Dalam mengelola rumah tangga, menerima beasiswa, membela keadilan, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar. Muaranya sekolah menjadi pencetak manusia-manusia yang bermartabat.

Di dalam Islam juga terdapat seperangkat aturan yaitu air, api, dan padang rumput merupakan milik umum. Maka rakyat yang akan menikmati hasilnya dengan peran serta negara. Di saat yang sama masyarakat akan tenang sebab pembiayaan pendidikan difasilitasi oleh negara.

Biaya pendidikan dalam Islam sepenuhnya ditanggung oleh negara melalui Baitul Mal. Dengan skema belanja untuk dua kepentingan. Pertama, untuk membiayai gaji semua pihak terkait dengan pelayanan pendidikan seperti guru, dosen, karyawan, dll. Kedua, untuk membiayai segala macam sarana dan prasarana pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku-buku pegangan, dan sebagainya.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab contohnya memberikan gaji kepada para pengajar Al-Qur’an masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar setara dengan 4,25 gram emas. Jika 1 gram emas Rp. 500.000, 1 dinar berarti setara dengan Rp.2.125.000. Artinya gaji seorang guru yang mengajarkan Al-Qur’an adalah 15 (dinar) x Rp. 2.125.000 = Rp. 31.875.000). Fantastis.

Dalam kurikulum di sekolah perempuan misalnya pada masa Khilafah Utsmaniyah. Manajemen rumah tangga menjadi topik penting yang diajarkan disekolah. Kemudian sekolah memberikan informasi rinci dan komprehensif tentang tema yang luas dan bermacam-macam untuk anak-anak. Untuk menyiapkan anak perempuan mengemban tanggung jawabnya setelah menikah. Termasuk yang berkaitan dengan memasak, menjahit, rekening rumah tangga, seni menerima tamu hingga pengobatan penyakit ringan. Juga bagaimana nutrisi yang tepat untuk perawatan kesehatan bagi anak-anak dan orangtua.

Dengan demikian seorang perempuan sekaligus ibu akan merasa tenang dalam mendidik dan mengajarkan anaknya di rumah. Ibu bisa mengembalikan perannya sebagai ummun warobbatul bait, pengurus urusan rumah tangga, dan enyiapkan anak-anak salih saliha. Ia dibekali ilmu dari negara tanpa pusing memikirkan tuntutan ekonomi dan gaya hidup yang hedonis. Karena sejatinya hidup dalam Islam adalah untuk mengumpulkan amal-amal baik sebanyak-banyaknya. Hal ini yang sesuai akal dan fitrah manusia yang mengharapkan kedamaian.

Dalam Islam, murid akan menaruh ta’zim kepada gurunya. Dengan demikian ilmu yang didapat akan berkah. Murid akan menghormati gurunya, sebaliknya guru juga akan benar-benar memaksimalkan perannya sebagai pendidik. Karena ia paham, setiap amanah di pundaknya akan dimintai Allah pertanggungjawabannya. Maka sudah saatnya mengambil Islam sebagai satu-satunya solusi atas problematika kehidupan di tengah carut marutnya kondisi pendidikan saat ini. Sebagaimana yang pernah dicontohkan dalam sejarah peradaban bahwa Islam pernah menjadi adidaya selama 1300 tahun di belahan 2/3 dunia membawa keberkahan bagi setiap manusia yang bernaung di dalamnya.

Wallahu a’lam bisshowab.

 

 

Oleh: Lisa Herlina
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 7

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA