Tinta Media – Board of Peace (BoP), sepintas sebuah nama yang indah. Namun, sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa istilah “perdamaian” kadang hanya menjadi cover dari ketidakadilan. Inilah manuver politik global Amerika.
Sebuah Luka yang Tak Berdarah dalam Tubuh Kaum Muslim Dunia
Delapan negara Muslim, seperti Arab Saudi, Turki, Qatar, Yordania, Pakistan, dan Indonesia yang notabene negeri dengan penduduk Muslim terbanyak, telah bergabung dengan BoP (Dewan Perdamaian) buatan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dengan alasan untuk mengakhiri konflik Gaza, Palestina. Bergabungnya Indonesia ke BoP dikuatkan dengan penandatanganan yang dilakukan oleh Presiden Prabowo di Davos.
Jangan terjebak dengan narasi damai sehingga lupa wajah Amerika yang sebenarnya. Rekam jejak Amerika Serikat terkait perjanjian perdamaian, mulai dari Perjanjian Oslo sampai Abraham Accords, semuanya adalah perjanjian damai palsu yang justru memperluas permukiman ilegal Israel serta menjadikan Gaza porak-poranda, jauh dari kata pembebasan.
BoP adalah jebakan maut, dilihat dari:
Pertama, struktur organisasi menempatkan Donald Trump sebagai ketua seumur hidup dengan hak veto mutlak. Artinya, suara kita dapat dengan mudah ditolak.
Kedua, iuran keanggotaan mencapai hampir 17 triliun rupiah. Uang sebanyak itu hanya untuk duduk di meja yang dikendalikan oleh mereka, dalang penjajahan di Palestina.
Ketiga, untuk memudahkan konsep _two state solution_ antara Israel dan Palestina.
Keempat, prakondisi untuk menghapus Palestina dari peta dunia.
Kelima, melibatkan dunia ketiga untuk menampung rakyat Palestina yang terusir dari wilayahnya setelah tanah Palestina dikuasai Zionis Israel.
Konflik yang terjadi di Gaza bukanlah perang antarnegara, melainkan pencaplokan suatu wilayah bernama Gaza (Palestina) oleh Zionis Israel.
Pada tahun 1947, PBB mengusulkan rencana pembagian Palestina menjadi dua negara, yaitu Yahudi dan Arab. Namun, usulan tersebut ditolak Palestina karena tanah mereka adalah hak mereka sejak hidup di bawah naungan Khilafah Islam. Dengan angkuhnya, Israel memproklamasikan kemerdekaan dan menguasai 78% wilayah Palestina. Pada tahun 1967, Israel menjajah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Hingga saat ini, Israel terus membangun permukiman Yahudi serta membantai kaum Muslim Palestina.
Inilah ironi terbesar bagi dunia Islam. Kaum penjajah tampil sebagai “juru selamat” bagi umat Islam. Padahal, Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa haram hukumnya menjadikan orang-orang kafir sebagai teman. “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali (pemimpin atau teman setia).” (QS Al-Ma’idah: 51)
Masih banyak dalil yang melarang umat Islam berteman dengan orang-orang kafir yang memerangi umat Islam, apalagi menjadikannya pemimpin untuk memerangi umat Islam itu sendiri.
Solusi untuk membebaskan Gaza dan Palestina bukanlah di meja perundingan ataupun negosiasi. Hanya satu solusinya, yakni mengusir Zionis Yahudi dari Palestina dengan jihad. Cukup dengan mengerahkan ratusan ribu tentara Muslim, tentu sangat mudah untuk menumpas dan mengusir Zionis Yahudi dari Palestina.
Sejak Khilafah Islam di Turki runtuh pada tahun 1924, kaum Muslim tidak lagi memiliki perisai (pelindung). Sejak saat itu, darah kaum Muslim Palestina dan berbagai belahan dunia lainnya begitu murah, ditumpahkan oleh kaum kafir.
Faktanya, sepanjang sejarah, hanya pada era Khilafahlah kemuliaan Islam serta darah dan kehormatan kaum Muslim benar-benar terjaga. Contohnya pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid. Sang khalifah dikenal sebagai penguasa Muslim yang sangat tegas. Ketika Kaisar Romawi Timur (Bizantium) saat itu, Nikephoros I, mengirim surat yang menolak upeti (jizyah), Khalifah Harun Ar-Rasyid segera membalas dengan nada keras, “Dari Harun, Amirul Mukminin, kepada Nikephoros, anjing Romawi! Aku telah menerima suratmu. Jawabannya adalah apa yang akan segera kamu lihat, bukan apa yang kamu dengar.” Segera setelah itu, sang khalifah bersama pasukannya menyerang dan mengalahkan Romawi. Akhirnya, Romawi tunduk kembali kepada Khilafah (Al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 8/364; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, 10/184).
Pasca-Khilafah runtuh, dunia dikuasai oleh dua ideologi, yaitu kapitalisme di Barat dan sosialisme di Timur. Setelah Uni Soviet runtuh, kejahatan kapitalis yang dipimpin Amerika merambah ke seluruh penjuru dunia melalui metode kolonialisme dan imperialisme (penjajahan). Misi Amerika dan Barat terhadap dunia adalah menjajah, mengeksploitasi, dan merampas kekayaan dunia.
Telah terbukti sepanjang sejarah Khilafah, dunia Islam pernah menjadi mercusuar dunia. Visi Khilafah membebaskan manusia dari materialisme menuju penghambaan yang paripurna kepada Allah Swt. Khilafah menyebarkan Islam dengan dakwah dan jihad serta menjalankan misi memakmurkan bumi, menebar kedamaian dan ketenteraman sebagai khalifah Allah Swt. di bumi.
Sudah saatnya sistem pemerintahan Islam ditegakkan agar umat Islam tidak lagi dipimpin oleh pemimpin-pemimpin kufur yang hanya mementingkan kehidupan pribadinya. Sistem pemerintahan Islam akan mengangkat dan menjadikan seorang pemimpin yang amanah, kuat secara pemikiran, dan mampu menghadapi segala persoalan serta menjadikan Islam sebagai kedaulatan hukum di tengah masyarakat. Pemimpin dalam Islam akan menjadikan negaranya sebagai negara adidaya yang menjadi corong bagi seluruh negara di dunia serta mampu melindungi dan mengayomi umat Muslim yang berada di bawah naungan Khilafah Islamiah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Evi Heryawati
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 3
















