Tinta Media – Keterlibatan Indonesia dan beberapa negara Muslim utama yang telah bergabung (Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab dan Pakistan) dalam proyek Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana hal itu bukan tanpa alasan. “Dari kacamata geopolitik, terdapat beberapa motif utama di balik strategi Trump tersebut,” ujarnya kepada Tinta Media, Sabtu (7/2/2026).
Ia membeberkan, pertama adalah motif legitimasi moral dan religius. Trump, kata Budi, menyadari bahwa solusi apa pun untuk Gaza akan dianggap sebagai “proyek Barat” atau “proyek pro-Israel” jika tidak melibatkan negara-negara Muslim.
“Dengan merangkul Indonesia (sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar) dan negara-negara Arab kunci, ia mencoba menghapus citra unilateral; memberikan kesan bahwa rencana ini didukung oleh dunia Islam. Meredam resistensi lokal; kehadiran pasukan penjaga perdamaian dari negara Muslim (melalui International Stabilization Force) diharapkan lebih bisa diterima oleh warga Gaza dibandingkan pasukan Barat atau Israel,” terangnya.
Kedua, lanjut Budi, berbagi beban finansial dan operasional (Burden Sharing) yang sesuai dengan gaya diplomasi “transaksional” khas Trump.
“Ia ingin agar rekonstruksi Gaza tidak membebani anggaran AS sendirian,” ucapnya .
Munculnya ketentuan iuran sebesar 1 miliar dolar AS untuk menjadi anggota tetap, ungkapnya, hal ini menunjukkan bahwa Trump ingin negara-negara kaya (seperti negara Teluk) dan negara berkembang strategis ikut membiayai pemulihan infrastruktur Gaza.
“Dan dengan melibatkan militer dari negara-negara Muslim, AS dapat mengurangi keterlibatan langsung pasukannya di zona konflik yang berisiko tinggi,” jelasnya.
Ketiga, mengisolasi pengaruh Hamas. Motif strategis utama dari BoP, sebutnya, adalah untuk menggantikan struktur kekuasaan lama di Gaza dengan National Committee for Administrative Gaza (NCAG) yang diisi teknokrat.
“Trump membutuhkan negara-negara Muslim seperti Qatar dan Mesir—yang selama ini memiliki jalur komunikasi dengan faksi-faksi di Gaza—untuk membantu proses transisi ini dan memastikan kelompok militan tidak lagi memegang kendali administratif,” terangnya.
Keempat, sambung Budi, bagi Trump, menggalang Indonesia adalah stempel kemenangan diplomatik besar.
“Sebagai negara yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan memiliki prinsip “Bebas Aktif”, bergabungnya Indonesia memberikan stempel validitas internasional bahwa proyek ini bukan sekadar rencana real estate, melainkan upaya perdamaian yang serius, versi Trump,” pungkasnya.
[] ‘Aziimatul Azka
![]()
Views: 56
















