New Gaza, Konsep Penjajahan Gaya Baru ala Trump

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hampir satu abad perang Palestina–Israel berlangsung. Rakyat Palestina terpinggirkan hak dan partisipasinya. Ditambah dengan adanya dewan keamanan dunia “Board of Peace” yang baru saja dibentuk oleh Amerika. Dewan itu tidak saja menganakemaskan Israel dan menyingkirkan Palestina, namun juga memosisikan Amerika sebagai tuan “pemilik” dunia.

 

Amerika melalui Trump telah membentuk BoP dengan tujuan rekonstruksi Gaza pascaperang. Namun, kali ini Trump membuatnya lebih halus melalui konsep “New Gaza” yang digagas oleh Jared Kushner, arsitek kebijakan luar negeri yang mencoba mendisrupsi pola lama perdamaian di Timur Tengah.

 

Melalui proposal terbarunya mengenai pembangunan kembali Gaza pascaperang, Kushner menawarkan pendekatan yang sangat berbeda dari diplomasi tradisional: mengedepankan manajemen ekonomi dan keterlibatan sektor swasta global di atas solusi politik konvensional. Alih-alih memulai dari negosiasi kedaulatan dan batas wilayah, Kushner menempatkan pembangunan ekonomi sebagai titik awal. Pendekatan inilah yang kemudian melahirkan gagasan “New Gaza”, sebuah visi rekonstruksi berskala besar yang salah satu simbol utamanya adalah rencana pembangunan 180 gedung tinggi di kawasan pesisir Gaza.

 

Bagi Israel, ini merupakan salah satu titik terang di tengah kebuntuan menaklukkan Gaza. Meskipun Netanyahu tetap bersikap tegas untuk menutup ruang bagi solusi dua negara, tetap berfokus pada demiliterisasi Gaza, bahkan bersikukuh memegang keamanan dari Sungai Yordan hingga wilayah pesisir, termasuk Jalur Gaza. Bahkan, sikap itu kembali disampaikan secara terbuka oleh Menteri Israel, Smotrich, untuk menghancurkan dan mengusir paksa warga Gaza.

 

Di tengah kritik pedas dari negara-negara Eropa terkait konsep “New Gaza” yang tengah digagas, hal itu tak lantas membuat Trump mundur. Tampak bahwa Amerika dan sekutunya, Israel, berambisi menguasai Gaza dan menghilangkan jejak genosida dengan membangun New Gaza. Bahkan mereka mengajak negeri-negeri Muslim untuk memperkuat posisinya. Jelas ini merupakan bentuk penjajahan gaya baru yang disinyalir sebagai akibat kebuntuan Amerika menaklukkan Gaza.

 

Tanah Palestina adalah tanah milik kaum Muslim. Tanah yang ditaklukkan saat kepemimpinan Umar bin Khaththab ra. Maka, status tanah Palestina adalah tanah kharajiyah. Maka, wajib bagi kaum Muslim mempertahankannya dengan jihad fi sabilillah.

 

Hanya saja, sejak Kekhilafahan Utsmaniyah, tanah tersebut jatuh ke tangan Zionis Yahudi akibat makar. Maka, wajib bagi kaum Muslim bersatu untuk membebaskannya kembali. Pembebasan tanah Palestina hanya bisa dilakukan oleh komando khalifah. Khalifah akan mengirim pasukan untuk membebaskan Palestina dan mengusir Zionis Yahudi.

 

Namun, dunia Islam saat ini tidak dipimpin oleh seorang khalifah. Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk mengusahakan tegaknya Khilafah, negara yang akan menerapkan syariat secara sempurna dan membebaskan tanah Palestina. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Yosi E. Purwanti, S.E.,

Aktivis Muslimah

Loading

Views: 49

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA