Tinta Media – Meskipun rencana kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12 % yang akan dimulai pada 1 Januari 2025 dibatalkan secara umum dan hanya dikenakan pada barang mewah, hal tersebut telah memicu reaksi keras dari masyarakat. Prediksi dan spekulasi bermunculan, baik dari kalangan intelektual ataupun masyarakat umum. Narasi yang diaruskan pun dilontarkan, mulai dari kenaikan pajak untuk pertambahan penerimaan APBN dan mendukung pembangunan berkelanjutan, hingga terjadinya lonjakan harga barang dan layanan yang tentu saja akan menyebabkan turunnya daya beli masyarakat
Faktanya, rencana kenaikan tarif PPN telah memengaruhi kondisi perekonomian kita. Terbukti bahwa banyak produsen telah mempersiapkan dan menghitung harga barang jika kenaikan PPN 12% benar-benar terjadi pada awal tahun. Tidak ayal, harga barang dan jasa layanan pun mulai merangkak naik. Tidak heran pula bahwa pada awal tahun kemarin, banyak kita jumpai di media sosial, masyarakat berbondong-bondong berbagi pengalaman tentang kenaikan harga barang dan layanan
Menarik untuk ditelisik bahwa kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah yang sempat berubah-ubah ini menyebabkan kebingungan pada masyarakat, baik produsen maupun konsumen. Narasi yang dibangun di tengah masyarakat pun tidak efektif. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak siap dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pengatur urusan rakyat
Aneh memang, di negeri yang
mayoritas penduduknya muslim, konsep Islam tidak pernah dianggap. Padahal, Islam adalah sebuah konsep kehidupan yang jelas. Begitu pula gambaran kepemimpinan dalam Islam. Dalam konsep Islam, seorang pemimpin harus memiliki kekuatan dalam pengambilan kebijakan, ketakwaan, kelemahlembutan terhadap rakyat, serta tidak menimbulkan sikap antipati. Seorang yang pemimpin yang baik senantiasa memperhatikan rakyatnya.
Ketika kepemimpin Islam hadir di tengah masyarakat dengan penerapan syariat secara kafah, keadilan dan penegakan kebenaran bukanlah khayalan, apalagi janji kosong. Sebut saja Khalifah Umar bin Khatab. Dalam sirah dijelaskan bahwa pada masa kepemimpinan beliau lumbung-lumbung makanan dibuat sehingga makanan seperti kurma, gandum, dan kismis mempunyai stok cadangan dalam baitul mal. Pembagian makanan bagi para musafir atau muslim yang sedang berhaji pun dilakukan sehingga mereka tercegah dari kelaparan.
Sungguh, yang kita harapkan adalah seorang pemimpin yang amanah dalam mengemban tanggung jawab agar umat dapat menjalankan syariat Islam secara kafah, bukan pemimpin yang justru melakukan pemalakan dengan dalih mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan pajak.
Oleh: Desi Puji Lestari
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 5







