Tinta Media – Warga Lengkong Kecamatan Bojongsoang merasa resah akan keberadaannya Bank Emok. Warga meminta polisi untuk memberantas keberadaan Bank Emok di sekitar mereka. Hal itu diutarakan warga kepada jajaran Porlestra Bandung di Aula Desa Lengkong pada jum’at (21/2/2025) (Detik.Jabar, 22/2/2025). Kapolres Bandung Kombes Aidi Subartono mengatakan, banyak warga mengeluh tentang Bank Emok. Karena praktek pinjaman tersebut sering kali membebani masyarakat.
Dengan permasalahan tersebut Pemkab dan Bupati Bandung telah memiliki program pinjaman tanpa bunga, supaya masyarakat bisa memanfaatkan program tersebut dan menghimbau, agar masyarakat lebih bijak dalam memilih sumber pinjaman supaya tidak terjerat utang yang semakin membebani.
Kemiskinan merupakan salah satu alasan mengapa banyak warga terjerat pinjaman dengan bank emok, karena mekanisme peminjaman yang tidak ribet, walaupun akhirnya terlilit bunga yang cukup tinggi.
Masalah yang menimpa warga di Kabupaten Bandung ini, hanyalah satu dari sekian banyak wilayah yang menghadapi masalah yang sama, karena masalah kemiskinan ini bukan hanya di Kabupaten Bandung saja, tetapi di seluruh wilayah Indonesia. Kebutuhan masyarakat meningkat seiring perkembangan zaman, mulai dari kebutuhan primer, pendidikan, kesehatan, maupun sulitnya mendapat pekerjaan. Masalah kemiskinan yang terus meningkat ini, telah diupayakan oleh pemerintah dengan berbagai program dan strategi, semisal dengan Bansos, dan lain sebagainya. Sayangnya, fakta menunjukkan bahwa strategi dan upaya tersebut tidak serta merta menjadi solusi, kalaupun ada, hanya sesaat, yang ujung-ujungnya tidak menyelesaikan kemiskinan. Akhirnya masyarakat memilih jalan pintas dengan pinjaman dari Bank Emok untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Upaya Pemkab Bandung dalam melepaskan masyarakat dari jerat Bank Emok, dengan memberikan pinjaman dana, tentu perlu dikritisi, apakah akan mampu menyelesaikan masalah intinya yakni kemiskinan? Jangan sampai masyarakat malah seperti keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Karena pinjaman dalam aturan yang diterapkan saat ini, yakni sistem kapitalisme, berasaskan pada pinjaman berbunga, walaupun bisa jadi bunganya lebih kecil dari Bank Emok. Namun hal tersebut tidak akan mampu melepaskan masyarakat yang terjerat masalah kemiskinan.
Kemiskinan yang menjadi masalah utama masyarakat saat ini, disebabkan oleh banyak faktor. Mulai dari efek maraknya PHK sampai harga kebutuhan hidup yang terus meningkat (serba mahal). Seharusnya pemerintah melakukan evaluasi bahwa upaya dengan memberikan pinjaman walaupun tanpa bunga atau pemerintah mendirikan koperasi simpan pinjam, itu bukanlah solusi. Karena malah akan tetap membebani masyarakat, akibat harus membayar cicilan, padahal mereka memang tidak punya uang karena tidak punya penghasilan yang mencukupi. Solusi pragmatis tersebut hanya dapat menambah kemudhorotan bagi masyarakat, yang dapat berujung pada depresi.
Adapun yang dibutuhkan masyarakat untuk saat ini adalah lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya, harga kebutuhan yang murah, yang faktanya untuk saat ini tidak ada. Hal ini akibat kebijakan yang tidak prorakyat tapi kebijakan prokapitalis/pemilik modal, semisal adanya UU Cipta Tenaga Kerja yang merugikan pekerja (buruh), UU privatisasi yang menjadikan harga segala kebutuhan seperti BBM, listrik, air dan sebagainya terus naik secara berkala. Inilah efek penerapan sistem kapitalisme liberalisme.
Kita membutuhkan sistem yang adil dan peduli terhadap rakyat. Dialah sistem Islam, yang datang dari Al Khaliq, yang akan menerapkan syari’at Islam kaffah yaitu khilafah yang akan benar-benar meriayah umatnya dan memperhatikan umatnya dalam segala hal, sehingga akan jauh dari berbagai dosa, dari berbagai kekurangan sehingga umat menjadi maslahat karena hukum syara benar-benar diterapkan oleh penguasa yang amanah. Sebagaimana hadist Nabi saw yang artinya:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang di pimpin”. (H.R Bukhari)
Wallahu’alam bishshawab.
Oleh: Risna SP
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 11





