Tinta Media – Fenomena kekerasan semakin memprihatinkan. Nyawa sudah tak berharga bagi para manusia keji yang mengejar cinta sejati yang tak tahu arti, hingga cinta berakhir kapak menanti. Baru-baru ini terjadi di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, tepat pada 26 Februari 2026 lalu. Seorang mahasiswi dibacok oleh seorang lelaki karena menolak menjadi kekasih. Peristiwa ini terjadi ketika Faradilla Ayu (korban) akan mengikuti seminar proposal. Korban dibacok dengan kapak yang sudah disiapkan pelaku, RM. Diduga hal ini terjadi karena adanya motif hubungan pribadi. Pelaku tidak bisa mengontrol emosi dan berniat menghabisi korban.
Peristiwa seperti ini sudah makin lumrah terjadi hampir setiap tahunnya. Kejadian-kejadian seperti ini terus berulang. Kasus serupa juga terjadi pada Desember 2024 silam di Bangkalan, yaitu pembunuhan seorang mahasiswi yang dibakar oleh pacarnya sendiri. Tidak hanya itu, pada tahun 2025 bulan Mei lalu juga terjadi kasus penganiayaan mahasiswi oleh pacarnya, dan pada Juni 2025 terjadi kasus mutilasi tiga mahasiswi di Padang Pariaman. Kasus-kasus ini merupakan motif kekerasan yang umumnya dipicu oleh rasa cemburu buta, penolakan cinta, dan hamil di luar nikah.
Mirisnya, kasus ini dilakukan oleh orang-orang yang telah lulus sekolah. Hal ini menggambarkan adanya kegagalan lingkungan keluarga dan sekolah dalam menanamkan nilai moral, empati, dan kemanusiaan. Perilaku pemuda saat ini sangat dekat dengan kekerasan, pembunuhan, dan pergaulan bebas.
Sistem pendidikan hari ini berasas sekularisme, yaitu sistem pendidikan yang lebih mengedepankan nilai akademik saja, hingga pembinaan karakter menjadi terabaikan. Sistem ini sangat berpengaruh buruk pada perkembangan kepribadian peserta didik. Adanya pemisahan ilmu dengan agama, mengutamakan kompetensi teknis, pragmatis, dan materialistis menyebabkan tidak maksimalnya pengawasan moral peserta didik hingga menimbulkan sikap amoral dan krisis karakter.
Tidak hanya sistem pendidikan, penerapan pola pengajaran dalam keluarga juga kini membuat para pendidik tertekan untuk melakukan pendidikan karakter kepada peserta didik. Hal ini dapat dibuktikan dari berita-berita yang sempat viral baru-baru ini. Seorang kepala sekolah dilaporkan oleh orang tua siswa karena menegur dan menampar anaknya saat merokok di sekolah. Orang tua siswa menganggap hal itu hanya sebatas kekerasan kepada peserta didik tanpa memandang didikan yang diberikan. Hal ini menyebabkan kepala sekolah tersebut dinonaktifkan. Kejadian serupa juga terjadi pada Februari 2026 lalu pada seorang guru di Sampang, Tangerang Selatan, yang dianiaya oleh wali siswa setelah menegur anaknya saat jam pelajaran berlangsung.
Kasus-kasus seperti ini membuat para pendidik takut untuk memberikan pendidikan karakter dan kedisiplinan kepada siswa karena tidak adanya perlindungan kepada para pendidik. Keadaan ini membawa pengaruh negatif kepada peserta didik yang menjadikan mereka tidak takut kepada guru dan aturan yang berlaku. Kini sistem pendidikan di sekolah dan keluarga telah gagal membentuk generasi yang memiliki empati, jiwa kemanusiaan, dan kepribadian yang mulia. Sistem pendidikan sekuler dan pola pengajaran keluarga kini membentuk standar kebebasan untuk bertindak sesuka hati dalam diri generasi atau pemuda saat ini tanpa memikirkan dampaknya pada diri sendiri maupun orang lain.
Sistem ini sejalan dengan paham liberalisme yang dianut masyarakat saat ini, yaitu sistem yang menjunjung tinggi kebebasan individu, hak asasi manusia, dan kebebasan kekuasaan pemerintah. Kebebasan yang diberikan kini memicu para generasi muda terjerumus dalam pergaulan bebas yang sangat bertentangan dengan norma agama. Kebebasan seperti ini kerap menimbulkan keributan, kekerasan, bahkan pembunuhan. Dalam sistem Islam, sekularisme dan liberalisme ini sangat bertolak belakang dengan prinsip dasar akidah dan syariat.
Berdasarkan pandangan Islam, segala sesuatu tidak dapat dipisahkan dari agama. Agama merupakan sistem yang berisi kepercayaan, ajaran, dan tata kaidah yang mengatur semua hubungan. Sistem Islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, bahkan hubungan manusia dengan lingkungannya. Dengan mengaitkan agama dalam semua aspek kehidupan, khususnya dalam sistem pendidikan, manusia akan memiliki empati, moral, karakter, serta perikemanusiaan yang berkualitas.
Sistem pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk manusia yang cerdas secara intelektual dan matang secara spiritual maupun moral. Bukan hanya meningkatkan nilai-nilai tauhid dan ibadah saja, tetapi juga membentuk akhlak dalam seluruh aspek kehidupan. Generasi dididik agar memiliki kesadaran untuk taat pada syariat, bukan hanya fokus pada capaian akademik dan keterampilan.
Meningkatkan pemahaman ajaran agama, seperti menjaga kehormatan diri, menghormati pilihan orang lain, mengendalikan amarah, serta menyelesaikan konflik secara bermartabat merupakan bagian dari pembentukan karakter dan akhlak. Jika ajaran ini diinternalisasikan secara konsisten sejak dini, baik di keluarga maupun di sekolah, maka hal ini akan menjadi benteng kokoh terhadap perilaku destruktif. Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003, sistem pendidikan diarahkan untuk menghasilkan individu yang beriman, bertakwa, berilmu, dan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi.
Sudah seharusnya kita kembali pada sistem Islam untuk mencegah krisis karakter, moral, empati, serta perikemanusiaan. Pendidikan Islam mengedepankan pembentukan karakter sebagai benteng untuk melawan kekerasan. Keluarga merupakan wadah utama untuk memberikan pembelajaran, sedangkan lingkungan sekolah atau pendidikan menjadi garda pengokohnya. Sistem ajaran Islam melatih untuk menghormati privasi, mengendalikan emosi, serta berbagi kasih sayang yang dapat mencegah kekerasan terjadi. Masyarakat harus saling mengingatkan dalam kebaikan dan menentang kemaksiatan sehingga dapat tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang.
Kekerasan tidak terlahir secara tiba-tiba. Kekerasan tumbuh dari hati yang kosong akan nilai dan lemah dalam pengendalian diri. Jika pendidikan mampu mengisi hati dengan iman, empati, serta kesadaran moral, maka kekerasan dapat teratasi. Pendidikan Islam, dengan pendekatan menyeluruh terhadap akal dan jiwa, layak menjadi garda terdepan dalam membangun generasi berakhlak mulia. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Rahmadina
Pendidik Generasi
![]()
Views: 19





