Perdamaian Semu untuk Palestina

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian adalah gagasan untuk mempromosikan “jalan damai” bagi konflik Gaza. Dewan ini dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menjabat sebagai ketua dengan masa jabatan seumur hidup serta kewenangan penuh untuk mengadopsi resolusi tanpa konsultasi, melakukan veto unilateral, bahkan memiliki kekuasaan untuk membubarkan organisasi.

Seperti kita tahu, AS adalah penjajah yang sesungguhnya. AS dalam rekam sejarahnya pernah melakukan sejumlah invasi, kudeta, dan penghancuran negeri-negeri Muslim, seperti Afganistan, Irak, Libya, Suriah, Sudan, dan banyak negeri Muslim lainnya.

Gencatan senjata dan BoP ditawarkan sebagai solusi perdamaian Gaza, tetapi dalam kenyataannya, sejak dewan ini dibentuk, pelanggaran gencatan senjata masih berulang sampai hari ini. Zionis Israel masih melakukan genosida dan pemboman di Gaza. Lalu, apa artinya BoP ini dibentuk dan menggembar-gemborkan makna perdamaian?

Sungguh naif jika dunia masih mempercayai janji-janji yang diinisiasi oleh AS melalui BoP-nya. Israel dengan kesadaran penuh sengaja melanggar isi perjanjian. Gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara AS dan Israel untuk melanggengkan penjajahan di Palestina.

Mirisnya, Indonesia dikabarkan masuk sebagai anggota BoP ini. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan, “Hanya solusi dua negara yang akan membawa perdamaian. Kita harus menjamin kenegaraan Palestina. Namun, Indonesia juga menyatakan bahwa setelah Israel mengakui kemerdekaan dan kenegaraan Palestina, Indonesia akan segera mengakui negara Israel.” Beliau juga menegaskan, “Saya juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang kalau semua orang mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan Israel. Israel harus dijamin keamanannya, baru kita bisa dapat perdamaian.” (YouTube Sekretariat Kabinet, 25/09/2025).

Sudah jelas bahwa Israel melakukan genosida brutal yang menelan banyak korban jiwa; mengapa masih dibela dan diakui eksistensinya? Ini menunjukkan betapa negeri-negeri Muslim tidak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS dan Israel. Mereka beralasan demi menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin meluas.

Indonesia harus mengeluarkan biaya besar untuk bergabung dengan “Dewan Perdamaian” ini. Presiden harus mengeluarkan belasan triliun di tengah masalah dalam negeri yang tak kunjung selesai, seperti bencana di Aceh dan Sumatra baru-baru ini. Dengan bergabungnya Indonesia dan mengeluarkan dana untuk BoP ini, tidakkah itu artinya Indonesia ikut membiayai perang genosida Israel?

Di dalam paradigma Islam, kita sebagai Muslim dituntut untuk mempunyai sikap tegas dalam menghadapi kemungkaran. Tidak seharusnya kita toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS melalui BoP-nya.

Karenanya, persatuan umat dalam politik dan kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk melawan hegemoni penjajah kafir. Sebagai umat Muslim seluruh dunia, kita harus mempunyai satu rasa, satu aturan, dan satu pemikiran, yaitu pemikiran Islam.

Maka dari itu, saat ini umat sangat membutuhkan Khilafah yang menjadi junnah dan perisai bagi mereka. Krisis di Palestina dan di negeri-negeri Muslim tak mungkin diselesaikan dengan BoP buatan AS, tetapi hanya dengan Khilafah umat bisa sejahtera dunia dan akhirat. Karena itu, umat dan penguasa Muslim perlu memahami pentingnya jihad di bawah naungan Khilafah. Wallahualam bissawab.

Oleh: Ummul Bariyah
Aktivis Muslimah

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA