Program Moderasi Beragama di Institusi Pendidikan, untuk Apa?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Sangat disayangkan, Indonesia sebagai negeri berpenduduk
mayoritas Muslim terbesar di dunia (setelah Pakistan, rri.co.id), bukannya
kembali kepada kesucian dan solusi Islam agar dapat menuntaskan permasalahan
dekadensi moral di kalangan pelajar, pemerintah malah gencar menggaungkan ide
asing moderasi beragama yang tidak ada kaitannya dengan solusi permasalahan
pelajar yang telah banyak terlibat kasus perundungan, seks bebas, aborsi,
narkoba, kriminalitas, pembunuhan dan lainnya.

Oleh karena itu, jika tidak ada kaitannya dengan solusi atas
permasalahan di kalangan pelajar, tentu perlu dipertanyakan, untuk apakah
sebenarnya program moderasi beragama yang juga terus-menerus digaungkan di
institusi pendidikan ini?

Terbaru, yaitu pada Rabu (11/9/2024), menjelang purna tugas,
Ibu Negara Iryana Joko Widodo (Istri Presiden) bersama dengan Ibu Wuri Ma’ruf
Amin (Istri Wapres) pun diketahui juga turut aktif  mempromosikan program moderasi beragama
kepada pelajar di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur .

Kegiatan yang juga dihadiri para istri menteri yang
tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE
KIM) itu, diikuti oleh peserta sebanyak 500 pelajar lintas agama dari sekolah
Madrasah Aliyah (MA) dan SMA yang berada di Kota Balikpapan.

Menangkal Ideologi Islam

Padahal, jika dicermati program moderasi beragama yang
demikian gencar dipromosikan di institusi pendidikan atau di kalangan pelajar
pada dasarnya adalah ditujukan untuk menangkal Islam ideologis yang sering
dituduh sebagai Islam radikal.

Hal itu juga sesungguhnya ditujukan agar umat Islam termasuk
para pemudanya tidak kembali mengambil Islam sebagai sebuah sistem kehidupan
atau ideologi sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw., bukan  sebatas agama spiritual seperti yang
diaruskan oleh Barat.

Menjaga Kapitalisme

Tak terkecuali di negeri ini, ideologi Islam dipandang
sebagai musuh oleh sistem kehidupan yang bercokol sekarang ini, yakni ideologi
kapitalisme yang berasal dari ide-ide kufur yang hingga kini diadopsi dan terus
dipasarkan oleh imperialis Barat.

Seorang mujtahid dari Palestina, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani
dalam kitabnya “Nizhamul Islam”, Bab Qiyadah Fikriyah menjelaskan
bahwa kapitalisme adalah ideologi yang dibangun dari dasar pemikiran yang
memisahkan aturan agama dari kehidupan (sekularisme).

Manusia berhak membuat hukum sehingga sistem kehidupan ini
akan mempertahankan hak kebebasan berakidah, berpendapat, hak milik dan
kebebasan pribadi.

Disebut kapitalisme sebab hal yang paling menonjol atas
ideologi ini adalah sistem ekonominya yang lahir dari kebebasan kepemilikan,
karena itu para pemilik modal atau para kapital merupakan penguasa
sesungguhnya.

Mereka melakukan penjajahan ekonomi secara hard approach (tindakan keras bersenjata) seperti di Palestina ataupun soft approach (tindakan halus) melalui undang-undang seperti di negeri mayoritas muslim pada
umumnya.

Dengan begitu, mereka (asing/Barat) pada akhirnya bisa
menguasai kekayaan sumber daya alam (SDA) yang notabenenya milik rakyat melalui
perusahaan Freeport, Exxon Mobil dan sejenisnya.

Karena itu, ideologi kapitalisme pasti memandang ideologi
Islam sebagai musuh yang merintangi kepentingan mereka, pasalnya ideologi Islam
tidak memberikan hak untuk membuat hukum kepada manusia secara mutlak, hukum
hanyalah milik Allah Swt.

Dan manusia juga tidak akan diberi kebebasan tanpa batas,
namun akan dibatasi dalam koridor syariat.

Strategi Menjegal Islam

Ideologi kapitalisme akan terus dijaga eksistensinya oleh
pengembannya yaitu negara-negara Barat demi kepentingan penjajahan ekonomi,
sehingga mereka berusaha untuk menidurkan umat Islam dari ideologi Islam.

Moderasi beragama adalah salah satu strateginya. Itu
dilakukan untuk menjegal Islam ideologis sebagaimana yang tertulis dalam
dokumen Open Source RAND Corporation yang berjudul “Building Moderate
Muslim Networks”.

Dengan ide moderasi beragama, Barat sebagai pengemban
ideologi kapitalisme hendak membuat umat Islam menjadi tidak ideologis (dengan
keislamannya), sehingga hanya memahami Islam sebatas ajaran ritual sesuai
dengan kepentingan mereka, yakni menerima ide liberal seperti demokrasi,
kesetaraan gender, HAM, pluralisme dan ide-ide Barat lainnya.

Maka, dalam pandangan kapitalisme, moderasi beragama harus
dimasifkan agar tercetak generasi Islam yang memiliki profil moderat dalam
beragama sesuai keinginan Barat, bahkan ‘ikhlas’ mengemban ide-ide Barat.

Jadi sangat jelas sekali, moderasi beragama justru
menjauhkan profil kepribadian Islam dari diri pelajar Muslim. Kehadirannya
tidak ada kaitannya dan juga bukan sebagai solusi atas permasalahan kerusakan
dekadensi moral di kalangan pelajar.

Bahkan masifnya ide moderasi beragama yang diaruskan oleh
negara menunjukkan masalah yang menjadi kekhawatiran negara, yaitu ancaman akan
datangnya kebangkitan ideologi Islam sebagai musuh ideologi kapitalisme.

Hal tersebut juga menunjukkan bahwa penguasa sedang
menjalankan peran sebagai penjaga sistem kapitalisme sesuai arahan Barat.

Padahal seharusnya, pelajar Muslim dicetak menjadi duta
Islam dengan ideologi Islam yang mengambil Islam seutuhnya yang tidak bercampur
dengan pemikiran-pemikiran yang lahir dari pandangan hidup atau ideologi Barat.

Karena Allah Swt. telah menegaskan, bahwa satu-satunya agama
yang diridhai-Nya adalah hanyalah Islam, berdasarkan Al-Quran surah Ali Imran
ayat 19.

Allah Swt. juga mengancam bagi siapa pun yang mengambil
hukum selain hukum yang telah Allah Swt. tetapkan sebagai bagian dari golongan
orang-orang kafir, zalim dan fasik, berdasarkan Al-Quran surah Al-Maidah ayat
44, 45 dan 47,

Islam adalah Sistem Kehidupan

Islam adalah agama yang diturunkan Allah Swt. sebagai sistem
kehidupan yang menjelaskan segala sesuatu. Hal ini berdasarkan Al-Quran surah
An-Nahl ayat 89.

Maka, umat Islam termasuk pelajar Muslim semestinya tidak
boleh merendahkan dirinya dengan mengambil ide-ide Barat termasuk terpengaruh
dengan ide moderasi beragama yang terus menerus mereka gaungkan bersama para
penguasa boneka yang mengikutinya.

Cukuplah ridha dan murka Allah yang dijadikan standar amal
perbuatan. Bukan kebebasan sebagaimana yang dipasarkan kapitalisme Barat tanpa
batas.

Pelajar Muslim harus hidup untuk kemuliaan Islam dan kaum
Muslimin. Mereka harus senantiasa sadar bahwa amal perbuatan di dunia akan
dituai di akhirat.

Dengan pemahaman Islam yang benar, yakni sebagai agama
sekaligus sistem kehidupan (ideologi), maka akan lahir profil generasi Muslim
yang produktif, tangguh dan pembangun peradaban Islam yang mulia.

Oleh: Muhar, Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 7

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA