Tinta Media – Jika kita membuka laman berita, amat banyak berseliweran
media yang mengabarkan isu genosida di Palestina. Entah terkait tentang
reportase keadaan di sana, gerakan boikot, maupun kemarahan netizen kepada
Israel. Pada Minggu, 01 September 2024, Israel kembali menyerang Gaza,
Palestina yang sedang akan melaksanakan vaksinasi polio untuk anak-anak di
sana. 48 orang tewas dan terhitung bahwa tentara Israel telah menghabisi 40
ribu lebih penduduk Palestina selama 11 bulan terakhir (detik.com, 01/09/2024).
Tak hanya saudara muslim kita di Palestina, ada beberapa
negeri di belahan dunia lainnya seperti Kashmir, Kenya, Afghanistan, Siprus,
Sudan Selatan, Irak, Xinjiang dan Rakhine yang juga mengalami penindasan.
Selain isu Palestina, netizen Indonesia pastinya juga familiar dengan isu
Rohingya, etnis minoritas Islam di Rakhine. Kabarnya Rohingya belakangan ini
kembali diserang dengan dahsyat oleh pelaku islamofobia di sana dan
mengakibatkan 200 lebih nyawa meninggal dunia. Inilah potret nyata penjajahan
fisik yang dialami oleh kaum muslimin sekarang (voaindonesia.com, 10/08/24).
Penjajahan Non Fisik di Negeri Kaum Muslimin
Faktanya, penjajahan tidak hanya terjadi pada 8 daerah di
atas, tapi juga pada negeri-negeri muslim yang terlihat baik-baik saja. Pada
hakikatnya jiwa mereka tergadai oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang
dinamakan dengan penjajahan non fisik.
Contohnya pada fenomena yang terjadi saat ini, yang mana
negara-negara Barat terus menjadi backingan negeri-negeri kaum muslimin yang
terjajah secara non fisik. Inilah yang akhirnya membuat pemimpin negeri muslim
seperti Indonesia, Arab, Mesir dan lain-lain hanya bisa diam seolah tidak
terjadi apa-apa. Kalaupun angkat bicara, mereka hanya memberikan alasan
nasionalis seperti “itu hanya perang perebutan wilayah, biarlah mereka
urus urusan mereka”. Padahal mereka tahu faktanya tidak demikian.
Perlu kita sadari, nasionalisme merupakan hasil pemikiran
penjajah Barat. Dampaknya lebih berbahaya dari penjajahan fisik karena penjajahan
ini bersifat abstrak dan halus. Pemikiran ini tidak hanya menjajah para
pemimpin negeri-negeri muslim, tapi juga masyarakatnya. Faktanya dapat dilihat
dari respons berupa kecaman pada kelompok Rohingya saat berusaha mencari
bantuan di daerah Aceh beberapa waktu lalu. Padahal di sisi lain para pengecam
tersebut banyak yang membela Palestina.
Dapat disimpulkan bahwa adanya standar ganda yang menandakan
kecacatan berpikir pada masyarakat. Beginilah hasil pemikiran penjajah Barat
yang dimaksud di atas. Salah satunya ialah nasionalisme yang telah merasuki
jiwa-jiwa kaum muslimin di negeri mana pun. Hal ini terjadi karena penerapan
sistem sekuler kapitalisme yang menjadi ideologi yang diagung-agungkan saat
ini. Ideologi ini secara tidak langsung menuntun kita untuk tidak peduli pada
hal-hal yang ada di luar urusan kita. Sekalipun itu menyangkut urusan saudara
seiman.
Urgensitas Keberadaan Pemimpin seperti Dua Sosok Ini
Jika kita melihat sejarah-sejarah kejayaan Islam, fenomena
genosida pada umat Islam tidak pernah ditemukan. Pemimpin Islam akan segera
mengupayakan pembebasan pada seluruh negeri mana pun. Seperti pada kisah
pembebasan Palestina yang pernah dibebaskan dua kali oleh Khalifah Umar bin
Khattab pada 637 M dan dibebaskan kembali pada 1187 M oleh Sultan Shalahuddin
Al Ayyubi.
Dua pahlawan itu membebaskan Palestina (Baitul Maqdis) dari
penindasan tentara Kristen. Selain berhasil membebaskan, beliau berdua berhasil
membuat orang-orang Kristen sendiri kagum dengan penegakkan syariat Islam,
yaitu dimana orang-orang Kristen yang diizinkan hidup berdampingan dengan umat
Islam tanpa penindasan, diskriminasi atau bahkan genosida.
Inilah yang dimaksud pada judul di atas, umat ini perlu
junnah atau perisai yang kuat agar tidak terjajah, baik secara fisik maupun non
fisik. Perisai seperti apa yang dibutuhkan umat? Yaitu pembangunan kepemimpinan
berpikir berdasarkan aturan Islam. Mulai dari kepemimpinan berpikir itulah akan
lahir para pemimpin yang akan menerapkan Islam dalam aspek negara. Islam
sebagai rahmatan lil alaamin akan memberantas kezaliman dan mengupayakan
kesejahteraan bagi umat muslim serta non muslim. Islam akan membebaskan umat
muslim yang ditindas seperti yang dilakukan oleh Umar bin Khattab dan
Shalahuddin Al Ayyubi.
Ketika Syariat Islam Tegak, Tidak Ada Diskriminasi terhadap
Non Muslim
Tidak perlu ada pertanyaan, “bagaimana keberadaan non
muslim nantinya jika syariat Islam ditegakkan?” Islam tidak akan membunuh,
mengusir atau melakukan kekerasan apa pun kepada mereka. Seperti yang sudah
kita ketahui melalui kisah Khalifah Umar dan Sultan Shalahuddin di atas. Selain
itu, banyak bukti lainnya yang bisa dilihat dari sejarah-sejarah penerapan
syariat Islam terdahulu, seperti dalam kisah baju besi milik Ali bin Abi Thalib
yang hilang. Namun ternyata dia melihat baju besinya diambil oleh seorang
Yahudi.
Ketika Khalifah Ali meminta keadilan pada hakim, hakim sama
sekali tidak memihak kepada Ali hanya karena dia seorang amirul mukminin dan
ahli surga. Hakim tetap menjalani prosedur berdasarkan syariat Islam. Jika kita
menemukan barang milik kita yang hilang, kita wajib mendatangkan dua saksi.
Tetapi karena Ali tidak punya saksi kecuali anaknya (padahal anak sendiri tidak
boleh dijadikan saksi), maka hakim tetap tidak menetapkan bahwa baju besi itu
milik Ali. Padahal hakim sangat yakin bahwa Ali tidak akan berbohong.
Di akhir kisah, seorang Yahudi itu akhirnya mengaku bahwa
memang dialah yang mencuri baju besi itu. Lalu Ali pun memberikan baju besinya
dengan ikhlas kepada Yahudi tersebut. Karena kagum terhadap keadilan dan
kejujuran orang-orang Islam, akhirnya Yahudi itu pun masuk Islam.
Khatimah
Hanya Islamlah yang bisa menjadi junnah (perisai) bagi
kehidupan ini, baik pada umat muslim serta non muslim sekalipun. Islam tidak
akan menegakkan hukum seperti yang ada dalam sistem sekuler kapitalisme atau
turunannya nasionalisme yang hanya merusak. Dalam negara Islam semua
diperlakukan seadil mungkin. Perbedaan suku, ras, bahasa, warna kulit, profesi
dan lain-lain semuanya sama di mata Allah SWT. Tidak ada alasan apa pun untuk
tidak menerima Islam sebagai peraturan hidup yang sempurna. Wallahu’alam.
Oleh : Dini Al Ayyubi, Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 9





