Remaja Nirempati dan Krisis Moral: Akar Masalah dan Solusi Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Berita tentang remaja yang melakukan tindakan kejam kini bukan lagi hal asing. Setiap hari kita disuguhi berita tawuran antar-sekolah, pengeroyokan beramai-ramai, bullying yang berujung bunuh diri, hingga pembunuhan. Daftar hitam ini makin sempit untuk disebut kasus isolasi, dan kini sudah menjadi krisis struktural yang menggerogoti tulang punggung bangsa.

Salah satu peristiwa yang membuat kita terhenyak adalah kasus pembunuhan seorang satpam di Waduk Jatiluhur, Karawang, Jawa Tengah 2026. Satpam yang seharusnya menjadi penjaga keamanan justru tewas mengenaskan oleh sekelompok remaja. Motifnya hanya sepele— cekcok mulut, ejekan, dan keinginan menunjukkan kekuasaan. Satu nyawa melayang padahal korban hanya menjalankan tugasnya. Peristiwa ini menambah panjang daftar kelakuan remaja Indonesia yang dulu mungkin disebut “nakal” kini sudah naik kelas disebut “kriminal”.

Pertanyaannya sederhana, tapi menusuk: Ada apa dengan generasi kita? Mengapa remaja yang dulu identik dengan cita-cita, kreativitas, dan idealisme, kini malah dikenal sebagai pelaku-pelaku kekerasan? Jawabannya bukan karena “kurang pendidikan” atau “salah pergaulan” saja. Kita sedang menghadapi fenomena yang jauh lebih besar, yaitu remaja nirempati dan krisis moral berjamaah.

Mengenal Fenomena Remaja Nirempati

Kata “nirempati” belum resmi di KBBI, tetapi sangat-sangat menggambarkan realitas. Ini adalah gabungan dari “tidak” dan “empati”. Nirempati artinya orang yang kehilangan rasa merasakan penderitaan orang lain. Secara psikologis, ciri-cirinya sangat jelas:

Pertama, tidak sanggup merasakan sakit orang lain. Saat melihat teman dibully, mereka malah tertawa. Saat melihat kecelakaan, malah merekam untuk dijadikan konten.

Kedua, menganggap kekerasan adalah hal biasa. Tawuran bukan lagi tabu, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Pengeroyokan direkam, diedit, diposting untuk mendapatkan view.

Ketiga, egosentris dan susah berkompromi. “Yang penting gue enak, yang penting gue viral.”

Keempat, kurangnya rasa bersalah. Setelah melakukan kejahatan, mereka justru merasa bangga, bahkan menganggap diri keren.

Ironinya, pelaku utama fenomena ini adalah usia sekolah—SMP, SMA, bahkan anak SD.

Beberapa tahun terakhir, kita melihat bagaimana remaja berani membunuh guru, teman, orang tuanya, orang yang tidak dikenal. Mereka tidak takut. Nurani seolah mati sebelum waktunya.

Dari mana datangnya nirempati ini? Jawabannya tidak datang tiba-tiba. Ini adalah akumulasi dari lingkungan yang tidak sehat, sistem yang gagal, dan nilai yang dicabut dari alur sistematis.

Menambah Daftar Hitam, Kasus Waduk Jatiluhur dan Fenomena Serupa

Mari kita bedah kasus Waduk Jatiluhur, Karawang, 2026. Seorang satpam paruh baya dikeroyok sekelompok remaja. Menurut kronologi, satpam menegur tegas remaja yang berisik dan membuang sampah sembarangan. Remaja merasa “dipermalukan”. Mereka kembali besok hari dengan teman lebih banyak dan melakukan pengeroyokan satpam itu sampai tewas.

Ini bukan pertama, dan juga bukan yang kedua. Di Depok, remaja usia 15 tahun membunuh temannya karena HP. Di Medan, terjadi tawuran antar-SMA yang menggunakan panah, celurit, bahkan molotov. Di Jakarta, anak SMA membunuh ibunya karena dilarang main game.

Daftar hitam ini membuat kita terus bertanya, apa yang salah? Kalau dulu, kenakalan remaja paling dilakukan dengan coret-coret tembok, bolos sekolah, sekarang langsung kejahatan berat. Transisinya terlalu cepat. Lebih mengerikan, pelakunya tidak takut karena mereka mengetahui bahwa hukuman untuk anak di bawah umur lebih ringan dan sering dipulangkan.

Ini adalah tanda bahwa ada yang rusak di dalam sistem pembinaan manus. Saat remaja berpikir membunuh lebih mudah daripada minta maaf, artinya hati mereka sudah terlalu jauh dari cahaya.

Indonesia Darurat Krisis Moral Generasi

Mari kita bicara data. KPAI mencatat bahwa pengaduan kenakalan remaja naik 23 perse ok n 2025 dibanding 2024. Kasus bullying fisik naik 30 persen. Kasus pelecehan seksual yang pelakunya anak di bawah umur naik 18 persen. Polri mencatat selama 2024 ada lebih dari 2000 kasus kekerasan yang dilakukan anak usia 12-17 tahun.

Akan tetapi, sebenarnya masalahnya bukan hanya di angka. Angka hanya gejala. Yang lebih berbahaya adalah mentalitas, yaitu saat remaja kehilangan arah. Mereka tidak tahu, bahwa sedang mau ke mana, untuk apa, dan sebagai siapa. Dalam dunia Islam, ini disebut “kehilangan fitrah”.

Dampaknya fatal, karena 20 tahun lagi, mereka yang akan memimpin. Mereka yang akan menjadi guru, dokter, pejabat, orang tua. Jika generasi ini busuk, maka Indonesia pada 2045 hanya akan jadi wacana.

Setelah menganalisis ratusan kasus dan literatur, ada 5 akar utama yang membuat situasi ini makin parah, yaitu:

Pertama, pengaruh media dan lingkungan digital. Kita hidup di dunia—di saat konten keberhasilan adalah flexing. Konten popularitas adalah konten kekerasan. Algoritma TikTok, YouTube Shorts, dan Reels memprioritaskan yang “viral”, dan yang viral sering kali yang berantem, berteriak, menantang.

Dalam game, membunuh mendapatkan poin. Dalam dunia nyata, membunuh mendapatkan view. Batas antara benar dan salah menjadi kabur. Remaja melihat orang berbuat jahat, tetapi mendapatkan frame. Akhirnya, otak mereka merekam, “Oh, ternyata jahat itu hebat.”

Kedua, lemahnya kontrol keluarga. Rumah seharusnya madrasah pertama. Akan tetapi, berapa banyak rumah yang sekarang jadi hotel? Orang tua berangkat pagi, pulang malam. HP dan TV menjadi baby sitter.

Obrolan tentang akhlak, salat, halal-haram jarang terjadi. Yang ada hanya perintah, “Belajar yang pintar!”

Akhlak dilupakan. Ketika anak jatuh, orang tua sibuk menyalahkan sekolah. Ketika sekolah menegur, orang tua sibuk menyalahkan lingkungan. Ini adalah lingkaran setan krisis asuhan.

Ketiga, sistem pendidikan yang tidak utuh. Sekolah kita terlalu fokus pada “ranking” dan “akreditasi”. Matematika, fisika, bahasa Inggris dikejar. Setiap hari latihan soal. Akan tetapi, berapa jam pelajaran akhlak? Berapa guru yang benar-benar diteladani dalam adab? Pendidikan karakter hanya jadi slogan di papan mading. Kurikulum Merdeka seharusnya melahirkan profil pelajar Pancasila, tetapi di lapangan guru juga kejar target, tidak ada waktu untuk membina jiwa siswa.

Keempat, kurangnya role model yang sehat.  Coba tanya remaja, “Siapa idolamu?”

Biasanya mereka menjawab, “Artis, youtuber, pemain bola, atau influencer.”

Tidak ada yang salah dengan jawaban itu. Akan tetapi, coba lihat, apakah mereka diidolakan karena akhlaknya, ibadahnya, kejujuran, ataupun amanahnya? Atau karena viral, kaya, gaya hidup mewah?

Remaja melihat bahwa untuk dihormati orang tidak perlu adab. Cukup punya uang, berani, dan keras hati. Inilah yang melahirkan mentalitas “yang penting menang”.

Kelima, dijauhkan dari nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah akar dari semua persoalan. Ketika agama hanya menjadi pelajaran di rapor setiap hari Senin, ketika salat hanya dikaji di kelas, tetapi hidup sehari-hari tidak ada salat. Ketika Al-Qur’an dibaca hanya saat lomba, tetapi hidupnya jauh dari isi Al-Qur’an. Maka, iman melemah.

Ketika iman melemah, maka hedonisme masuk. Pergaulan bebas dianggap biasa. Budaya “yang penting senang” menjadi filsafat hidup.

Padahal, Islam mengajarkan kasih sayang. Rasulullah ﷺ tidak suka melukai hewan. Beliau menangis ketika melihat orang disiksa.

Islam mengajarkan bahwa nyawa satu orang mukmin lebih mulia dari Ka’bah. Saat nilai ini dicabut, manusia bisa lebih kejam dari binatang.

Islam Membangun Generasi Mustanir

Islam tidak pernah membiarkan umatnya tanpa solusi. Setiap masalah ada jawaban. Islam datang sebagai “rahmatan lil ‘alamin“, termasuk untuk menyelamatkan remaja.

Penguatan Iman Sejak Dini: Keluarga Sebagai Madrasah Pertama

Allah berfirman, “Wahai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Q.S. At-Tahrim: 6)

Tugas pertama orang tua adalah menanamkan akidah—cinta kepada Allah, kepada Rasul, kepada Al-Qur’an. Semua dilakukan bukan dengan ceramah, tetapi dengan teladan—mengajak anak salat berjamaah, bersedekah, hadir ke majelis ta’lim. Ketika anak melihat orang tuanya menangis karena takut kepada Allah, hatinya akan lembut.

Pendidikan Karakter Berbasis Agama di Sekolah

Sekolah harus kembali ke fungsi utama— mendidik manusia, bukan hanya mencetak mesin ujian. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi menjadi “murabbi“.

Guru harus menjadi teladan adab. Bagaimana caranya? Tentu dengan membuat program harian: tilawah pagi, muhasabah, mentoring keagamaan, dan projek sosial.

Sementara itu, negara wajib hadir, memberikan kurikulum yang mengutamakan adab sebelum ilmu.

Peran Masyarakat dan Negara

Negara harus tegas. Konten pornografi, judi online, game yang mengajarkan kekerasan harus diblokir. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak diracun dengan algoritma. Pemerintah daerah harus membuat ruang publik yang sehat: lapangan olahraga, taman baca, rumah Qur’an.

Masyarakat juga harus aktif, misalnya dengan membentuk komunitas remaja pengajian, komunitas remaja peduli peduli, dll. Dakwah harus dilakukan dengan turun ke lapangan, bukan hanya dikaji.

Menghidupkan Ukhuwah dan Dakwah Rahmah

Obat dari penyakit “nirempati” adalah menghidupkan rasa peduli.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari Muslim)
 
Bayangkan jika remaja belajar seperti ini sejak kecil. Jika melihat teman sedih, ia ikut bersedih. Jika melihat teman salah, ia ikut menasihati. Jika melihat teman kesulitan, ia ikut membantu. Inilah Islam. Inilah yang menghilangkan rasa nirempati.

Membangun Nafsiyah dan Syakhsiyah Islam

Istilah yang disebut “mustanir dibarengi dengan nafsiyah dan syakhsiyah Islam” sangat penting. Mustanir artinya bercahaya atau cemerlang. Nafsiyah artinya kepribadian. Syakhsiyah artinya jati diri (kepribadian).

Generasi Islam harus punya pikiran yang bercahaya nilai Islam, jiwa yang kuat dengan nafsiyah Islam, dan kepribadian yang jelas dengan syakhsiyah Islam. Mereka tidak akan ragu saat membela kebenaran, tidak akan ragu saat menolak kemungkaran.

Alarm Waduk Jatiluhur dan Tanggung Jawab Kita

Kasus Waduk Jatiluhur adalah alarm. Jika kita diam, maka esok yang mati bisa teman kita, lalu adik kita, lalu anak kita. Saat melihat remaja berkelahi dan kita berkata, “Ah, biasalah anak muda.”, kita justru memberi izin untuk kekerasan bertumbuh.

Menyelamatkan remaja sama dengan menyelamatkan Indonesia. Kita butuh gerakan berjamaah, bukan hanya sekolah, bukan hanya orang tua, bukan hanya pemerintah, tetapi semua— mulai dari diri sendiri.

Apa yang sudah kita lakukan untuk adik, tetangga, para remaja di lingkungan? Sudahkah kita menjadi role model? Sudahkah kita mengajarkan Al-Qur’an kepada anak? Sudahkah kita memperhatikan apa yang anak kita tonton?

Bangsa Besar Butuh Moral yang Kokoh

Bangsa yang besar bukanlah yang ekonominya kuat saja— Tidak. Tiongkok ekonominya kuat, tetapi jika generasinya rusak, maka negara akan rapuh. Soviet dulu militernya kuat, tetapi jika generasinya kehilangan iman, semuanya runtuh.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang moralnya kokoh—yang remajanya berani membela kebenaran, yang remajanya menangis karena takut dosa, yang remajanya bermimpi untuk umat, bukan hanya diri sendiri.

Indonesia butuh generasi seperti itu— generasi yang mustanir, yang punya nafsiyah Islam, mempunyai syakhsiyah Islam, yang tidak nirempati, tetapi penuh rahmat.

Mari kita kembali kembali kepada Islam— decara individu, keluarga, sekolah, dan bernegara. Jika tidak, maka daftar hitam akan terus bertambah, dan kita bisa menjadi bagian dari orang yang menyesal di kemudian hari. Wallahu a’lam bissawab.

Oleh: Faidah Alfiyah
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA