Salat Bukan Hukuman, tetapi Kewajiban

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Sebelumnya, masyarakat dihebohkan tentang enam anggota Polres Hulu Sungai Tengah yang positif narkoba saat dilakukan tes urine hanya mendapat hukuman salat lima waktu berjemaah. Kasus ini menjadi perbincangan publik di media sosial dan membuat heran banyak orang karena kasus seberat narkoba hukumannya salat. Kabid Humas Polda Kalsel, Adam Erwindi, menyebut enam anggota Polres HST yang positif narkoba diberikan hukuman tambahan berupa hukuman spiritual, yaitu salat lima waktu di musala.

 

Perlu diketahui bahwa salat bukanlah hukuman, tetapi kewajiban bagi umat Islam dan menjadi rukun Islam kedua. Jika tujuannya ingin mendisiplinkan agar mau salat di awal waktu, perintahkan semua anggota polisi untuk melakukan salat berjemaah. Jika ini dilakukan terus-menerus dan menjadi kebiasaan, diharapkan akan muncul kesadaran sendiri dan merasakan bahwa mendirikan salat itu penting, tidak hanya kewajiban, tetapi juga kebutuhan, bahkan menjadi nikmat tertinggi dalam hidup.

 

Salat yang dilakukan atas kesadaran sendiri, ikhlas karena Allah, akan membentuk pribadi yang takut kepada Allah meskipun mereka tidak melihat-Nya. Mereka yakin bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang mereka kerjakan, baik yang ditampakkan maupun yang tersembunyi di dalam hati. Ini penting dilakukan pada aparat penegak hukum dan semua pejabat di negeri ini agar mereka bisa amanah menjalankan tugas untuk menegakkan keadilan dan melayani masyarakat, karena salat sebenarnya bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Mereka tidak akan korupsi atau menerima gratifikasi karena salat yang benar membuat hati mereka hanya takut kepada Allah Swt.

 

Dalam mendidik anak, salat harus mulai diperintahkan sejak usia dini agar mereka terbiasa mengerjakannya dan melatih kedisiplinan. Bahkan saat mereka menginjak usia balig, orang tua bisa memberikan hukuman saat mereka menolak mengerjakan salat. Namun demikian, hukuman yang diberikan dalam rangka mendidik, bukan untuk menyakiti, sehingga muncul kesadaran untuk salat, bukan meninggalkan kebencian dan sakit hati.

 

Salat bukanlah hukuman, tetapi kewajiban, bahkan bisa menjadi kebutuhan dan nikmat tertinggi dalam hidup saat seseorang melakukannya atas kesadarannya sendiri karena takut kepada Sang Pencipta langit dan bumi. Jadi, tidak tepat menganggap salat sebagai hukuman yang harus dikerjakan saat anak berbuat salah sebagai efek jera agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jika dianggap sebagai hukuman, akan terbentuk persepsi pada anak bahwa salat itu sesuatu yang tidak menyenangkan dan akan ditinggalkan saat tidak ada orang yang mengawasi. Seharusnya kita membangun kesadaran mereka tentang pentingnya salat dalam hidup mereka sehingga suatu saat nanti, saat mereka dewasa, mereka menyadari pentingnya salat dan juga bisa merasakan nikmatnya salat.

 

Generasi cemerlang akan terwujud saat anak mampu menjalankan salat atas kesadarannya sendiri. Saat menghadapi masalah, mereka bersabar dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta langit dan bumi. Mereka hanya takut pada Tuhan-Nya meskipun tidak melihat-Nya. Sungguh, jika mereka menyadari pentingnya salat, mereka akan menjadi generasi yang melahirkan pemimpin masa depan yang amanah, yang mau melayani dan berpihak pada rakyat. Generasi cemerlang akan melakukan perubahan hakiki dengan Islam. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Mochamad Efendi,

Sahabat Tinta Media

 

Loading

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA