Hukuman dalam Proses Mendidik Anak

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Salah satu fungsi hukuman adalah memberi efek jera agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mendidik tidak hanya mentransfer ilmu namun juga membentuk karakter anak agar memiliki kepribadian unggul, tidak hanya sekedar menguasai ilmu tapi juga memilik sikap dan pemikiran yang mulia.

Dalam proses mendidik, hukuman perlu diberikan bukan dilandasi kebencian tapi cinta, bukan untuk menyakiti tapi untuk mengingatkan bahwa apa yang dilakukan salah, dan jangan diulangi lagi.

Bahkan dalam Islam, anak-anak usia 7 tahun dianjurkan untuk diperintah melaksanakan shalat, dan jika pada usia 10 tahun masih enggan, orang tua boleh memberikan pukulan sebagai bentuk didikan, bukan untuk menyakiti. Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mendirikan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika mengabaikan shalat) pada usia sepuluh tahun.”

Penting untuk diingat, hukuman fisik berupa pukulan sebaiknya menjadi pilihan terakhir setelah upaya pendidikan dan pendekatan persuasif lainnya tidak berhasil. Tujuan utama adalah mendidik anak agar mencintai shalat dan melaksanakannya dengan kesadaran, bukan karena paksaan.

Perlu diingat, tugas mendidik anak tidak hanya di pundak guru di sekolah, tapi orang tua juga harus memahami bahwa hukuman terkadang diperlukan dalam proses mendidik. Jangan orang tua marah pada seorang guru karena anaknya dihukum. Apalagi jika didasarkan dari pengakuan anak saja tanpa mengkroscek langsung pada gurunya, kenapa anaknya mendapatkan hukuman. Jangan karena sikap orang tua yang terlalu membela anak dan menyalahkan sang guru membuat anak besar kepala dan berani bersikap kurang ajar pada gurunya.

Tentunya kita masih ingat dengan seorang guru yang dilaporkan ke polisi karena diduga menghukum anaknya atas dasar laporan dari anaknya. Padahal semua itu tidak terbukti kebenarannya. Kriminalisasi orang tua terhadap guru berakibat buruk, guru enggan untuk mengingatkan anak saat mereka melakukan kesalahan.

Sungguh miris, ada siswa yang berani menantang berkelahi gurunya. Siswa dengan pandangan menantang saat diingatkan gurunya. Saat guru mengajar di kelas siswa ngobrol dengan temannya. Bahkan ada pula yang bermain HP saat pembelajaran berlangsung, namun ketika diingatkan malah marah-marah. Ada siswa yang bertengkar dan salah satu terluka yang disalahkan gurunya. Sungguh, pemandangan kelas yang tidak kondusif untuk belajar karena siswa yang tidak punya adab.

Dalam sistem Islam guru sangat dimuliakan dengan gaji tinggi sehingga bisa fokus mengajar. Negara memberikan perlindungan hukum sehingga guru merasa aman dan bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal. Orang tua juga memahami pentingnya adab siswa terhadap guru sehingga mereka akan menjaga kemuliaan guru di hadapan anaknya. Tidak perlu menyalahkan guru di hadapan anaknya, apalagi sampai mengkriminalkan guru. Sungguh, yang rugi orang tua sendiri menyaksikan anaknya yang tidak punya adab karena selalu dibela dan dimanja. Harusnya biarlah anaknya mandiri menyelesaikan masalahnya sendiri.

Jika ada sesuatu yang tidak sesuai, kita bisa langsung bertemu dengan guru yang bersangkutan. Membangun komunikasi yang baik dengan guru sangatlah penting demi terbentuknya adab yang baik pada anak-anak. Kita tidak langsung percaya dengan pengaduan anak dan langsung menyalahkan guru apalagi di hadapan anak. Menjaga kemuliaan guru sangatlah penting agar anak-anak tetap hormat dan patuh pada sang guru.

Namun, selama kita masih hidup dalam sistem kapitalisme, guru sangat terpinggirkan dengan gaji kecil dan dalam ancaman dikriminalisasi. Pemahaman umat yang kapitalistik sangat menjunjung tinggi kebebasan dan nilai materi. Mereka tidak suka anaknya dihukum meskipun dalam rangka mendidik anak agar punya karakter yang baik. Ternyata, negara juga kurang menghargai profesi guru. Terbukti, kasus guru Supriyani yang dipidanakan hanya karena diduga memukul anak seorang polisi dengan gagang sapu. Padahal faktanya, tuduhan itu tidak terbukti.. Sungguh, proses hukum begitu cepat dengan menahan terdakwa saat yang melapor adalah seorang polisi. Kita butuh sistem Islam, khilafah, yang akan menjaga kemuliaan guru, sehingga adab yang baik akan terpancar pada generasi cemerlang yang akan menjadi pemimpin dunia.

Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media

Views: 50

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA