Santri, antara Harapan dan Kenyataan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pondok pesantren (Ponpes) sebagai lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal begitu membudidaya di tengah masyarakat Indonesia. Menurut data Kementerian Agama (Kemenag) per Oktober 2025, terdapat 42.391-42.433 pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan, Ponpes merupakan salah satu sistem pendidikan khas Indonesia yang sangat jarang ditemukan di negara lain.
 
Sepanjang sejarah, kontribusi pondok pesantren untuk negeri ini dan kemerdekaannya tak terhingga. Para santri dan ulama berperang penting dalam jihad dan menggaungkan seruan mengusir penjajahan Belanda, Inggris, dan Jepang. Karenanya, pada tahun 2015 Presiden Jokowi resmi mendeklarasikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dalam rangka mengapresiasi kiprah pondok pesantren.
 
Bukan Seremonial Semata
 
Momentum hari santri selayaknya tidak cukup menjadi ajang seremonial belaka. Ia memiliki makna historis yang kental dan semangat api perjuangan yang tak cukup terucap lewat kata. Melalui Hari Santri Nasional masyarakat diajak mengenang dan mengenal resolusi jihad yang diserukan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 dalam rangka mengobarkan semangat ‘arek-arek Suroboyo’ menghalangi kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.
 
“Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap orang” menjadi kalimat melegenda yang layak terkenang sepanjang masa. Deklarasi ini ditegaskan lagi saat peringatan Hari Santri Nasional tahun ini yang mengusung tema, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”.
 
Benarkah Indonesia Sudah Merdeka?
 
‘Ghiroh’ atau semangat jihad yang diteriakkan para santri dan ulama tentu tak boleh terlupakan dan terabaikan. Begitu pula, semangat berapi-api itu perlu dipanaskan kembali oleh para pemuda, santri, dan ulama karena penjajahan ‘belum berakhir’.
 
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasiyah menjelaskan bahwa penjajahan sebenarnya belum benar-benar berakhir. Kapitalisme masih terus berusaha mempropagandakan faham-fahamnya dan mempertahankan cengkeraman di seluruh penjuru dunia. Metode (thariqoh) yang digunakan dalam penjajahan berupa penguasaan (pengendalian) dan dominasi di bidang sosial, pendidikan, budaya, ekonomi, politik, dan hankam.
 
Secara de jure, tentara penjajah memang sudah enyah dari Nusantara. Namun, secara de facto, pemikiran dan hukum-hukum mereka masih bercokol kuat. Lebih parah lagi, semua hal ini dipertahankan dengan sangat kuat oleh koloni penjajah, sang pengkhianat bangsa. Bahkan, mereka tidak malu membuka jalan bagi penjajah untuk mengeruk dan memonopoli harta negerinya sendiri dengan dalih investasi, kerja sama ekonomi, utang luar negeri, dan semisalnya.
 
Ritme inilah yang kemudian disebut sebagai neokolonialisme, sekaligus menjadi legitimasi bahwa Indonesia masih terjajah secara ideologis dan sistemis. Imbas dari penjajahan gaya baru ini menjadikan masyarakat Indonesia terbelakang dari berbagai segi. Rakyat masih sangat sengsara. Rakyat sangat kesulitan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar sehari-hari.
 
Kehilangan Arah
 
Mirisnya, tak hanya masyarakat awam, para santri dan ulama yang notabene hidup di lingkungan pesantren yang harusnya bernuansa Islami dan jauh dari racun-racun pemikiran kapitalisme pun terjebak dalam lingkaran neokolonialisme. Pesantren hari ini disusupi dengan program-program yang menjauhkan agama dari kehidupan.
 
Sistem kapitalisme melalui kroni-kroninya di lingkaran kekuasaan mencekoki para generasi muslim, baik tua ataupun muda, baik laki-laki maupun perempuan dengan racun sekularisme, moderasi, toleransi beragama, pluralisme, hingga liberalisme. Semua dilakukan demi mencegah kembalinya marwah  pesantren sebagai titik awal pengobar api jihad.
 
Maka tak heran bila pesantren yang dahulu kala banyak melahirkan generasi-generasi pengobar api perjuangan melawan penjajahan kini bahkan terseret arus penjajahan itu sendiri. Tak sedikit yang bahkan mengikuti jejak kroni penjajah menjauhkan masyarakat dari kebangkitan dan menghalangi munculnya kesadaran bahwa negerinya sedang dijajah.
 
Sungguh memalukan! Santri dan ulama yang sebelumnya menjadi pelopor perlawanan kini terseret arus. Jika sudah sejauh ini, lantas bagaimana mereka mempunyai mengikuti jejak para pendahulu untuk membebaskan masyarakat pribumi ini dari neokolonialisme?
 
Revitalisasi Peran Santri
 
Sangat disayangkan profil santri hari ini sangat berbeda dengan santri terdahulu. Santri kini kehilangan jati diri dan spirit jihad yang dulu bergelora. Peran santri kini dibajak dan terdegradasi. Ribuan santri bergelar ‘Hafidz Qur’an’ namun tak tergerak memperjuangkan penerapan Al-Qur’an. Tak sedikit santri yang menguasai ratusan kitab kuning berisi tsaqofah Islam namun enggan mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
 
Pertama-tama, para santri hendaknya segera sadar dan bangkit dari arus sekuler yang mencengkeram pemikiran mereka. Lantas, event peringatan hari santri yang digelar setiap tahunnya seharusnya membakar kembali jiwa mereka yang telah sadar ini dengan gelora jihad melawan penjajahan, semangat mengamalkan Islam, dan menerapkannya dalam setiap lini kehidupan.
 
Bermula dari kebangkitan para santri ini, diharapkan akan bermunculan sosok-sosok Kiyai Hasyim Asy’ari masa kini. Sosok yang mampu membawa masyarakat terlepas dari dominasi penjajah dan pemikiran-pemikiran yang merusak. Inilah peran nyata yang harus dimiliki para santri hari ini.
 
Para santri harus berjuang untuk mengubah kondisi umat dari keterjajahan yang  jauh dari Islam menuju kemerdekaan  yang hakiki dengan Islam kafah. Mereka harus pula mencontoh metode yang Rasulullah saw. Gunakan dalam mengubah masyarakat Arab yang jahiliah menjadi masyarakat yang bangkit dengan Islam.
 
Meneladani Metode Rasulullah saw.
 
Rasulullah saw. Telah menunjukkan keberhasilan yang sangat gemilang dalam mengubah masyarakat Arab dari bangsa yang tidak diperhitungkan menjadi pemimpin dunia dengan tegaknya Daulah Islam yang menerapkan Islam secara kaffah. Rasulullah saw. Mewujudkan kegemilangan yang mencengangkan dunia ini dengan berdakwah secara berjamaah.
 
Dakwah Rasulullah saw. Bertujuan mewujudkan kehidupan Islam. Dakwah tersebut bersifat menggugah pemikiran, politis, dan anti kekerasan sehingga bisa melejitkan pemikiran umat dan menjadikannya khairu ummah (umat terbaik) secara global.
 
Berkat dakwah Rasulullah saw. Ini terwujud kehidupan Islam di bawah institusi Daulah Islam yang sepeninggal Rasulullah saw. Disebut sebagai Khilafah. Para Khalifah kemudian memegang estafet kepemimpinan Rasulullah saw. Atas umat Islam. Dalam naungan Khilafah, umat Islam hidup aman, sejahtera, mulia, dan menjadi pemimpin dunia. Khilafah pula yang berhasil membebaskan negeri-negeri yang tertindas oleh penjajah, termasuk Al-Quds (Palestina).
 
Inilah metode perubahan dan kebangkitan yang harus dicontoh oleh para santri. Di bahu mereka tersemat tanggung jawab yang besar meneruskan estafet perjuangan para ulama terdahulu. Ilmu dan tsaqafah yang mereka pelajari merupakan sebaik-baik “amunisi” untuk melakukan dakwah penyadaran di tengah umat Islam agar umat bangkit, melawan penjajahan era kini, dan mewujudkan kepemimpinan Islam di tengah-tengah mereka.
 
Kepemimpinan Islam (Khilafah) inilah yang akan menghilangkan segala bentuk penjajahan di muka bumi. Inilah spirit revolusi jihad yang harus kembali terwujud pada jiwa para santri hari ini. Wallahualam bissawab.[] Wafi Mu’tashimah
 

Views: 50

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA