Santri: Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Peradaban

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tahun ini, Hari Santri Nasional (HSN) 2025 diperingati dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.” Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto mengajak para santri menjadi penjaga moral dan pelopor kemajuan bangsa, sambil menyinggung kembali semangat Resolusi Jihad yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945—momentum bersejarah ketika para santri dan ulama bangkit mempertahankan kemerdekaan. (setneg.go.id, 24/10/2025)

HSN dirayakan dengan gegap gempita. Serangkaian seremonial menyedot perhatian publik, mulai dari upacara, kirab, baca kitab, hingga festival sinema. Jalanan dipenuhi spanduk, pakaian koko, dan sarung yang menjadi seragam kebanggaan, juga pesantren yang ramai dengan lomba serta doa bersama.

Namun di balik euforia itu, pertanyaan mendasar muncul: apakah santri hari ini benar-benar masih menjadi penjaga moral dan agen perubahan sebagaimana para pendahulunya? Ataukah Hari Santri Nasional kini hanya menjadi perayaan simbolis yang kehilangan ruh perjuangan ideologisnya?

Santri: Garda Perubahan dan Penjaga Umat

Sejarah mencatat, santri bukanlah kelompok yang pasif. Mereka adalah garda depan perubahan, penggerak dakwah, dan pelindung umat. Dari bilik-bilik pesantren lahir para ulama pejuang—KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Zainul Arifin, dan banyak lainnya—yang bukan hanya menuntut ilmu, tetapi juga menyalakan kesadaran umat akan pentingnya menegakkan kebenaran dan keadilan.

Santri sejati adalah sosok yang faqih fiddin. Mereka paham agama secara mendalam, lalu menjadikan pemahamannya sebagai landasan perjuangan untuk menegakkan syariat serta membangun peradaban Islam yang cemerlang.

Paradoks Kebijakan terhadap Santri

Namun, realitas masa kini menghadirkan paradoks besar. Di satu sisi, santri terus dipuji atas peran heroiknya dalam jihad melawan penjajah di masa lalu. Akan tetapi, di sisi lain arah kebijakan terhadap santri dan pesantren di era sekarang tidak lagi sejalan dengan semangat jihad ideologis itu.

Santri kini lebih banyak diarahkan menjadi “agen moderasi beragama” atau “penggerak ekonomi umat” dalam kerangka pembangunan nasional yang berparadigma sekuler. Narasi semacam ini memang tampak positif, tetapi secara substansi telah menggeser orientasi perjuangan santri dari jihad membebaskan umat dari penjajahan gaya baru menjadi sekadar instrumen pelengkap pembangunan kapitalistik. Fakta di lapangan menunjukkan:

Pertama, Kementerian Agama sejak 2019 menggulirkan program “Santri Moderasi Beragama” melalui pelatihan, kampus pesantren, hingga training of trainers (ToT) bagi pengajar pesantren.

Kedua, pada tahun 2022, Kemenag meluncurkan “Pesantren Moderasi Beragama” di berbagai daerah, bekerja sama dengan ormas dan lembaga donor internasional dengan tujuan menanamkan nilai “toleransi, cinta tanah air, dan anti-ekstremisme”.

Ketiga, banyak pondok pesantren dijadikan pilot project untuk program deradikalisasi dan kampanye “Islam wasathiyah” yang sering kali justru mengaburkan makna jihad dan perjuangan menegakkan syariat Islam secara kafah.

Santri didorong untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang justru mengabaikan nilai-nilai Islam. Akibatnya, peran strategis santri dan pesantren perlahan dibajak untuk memperkuat sistem sekuler, bukan untuk menegakkan syariat dan menjaga kemuliaan umat.

Peran Strategis Santri: Faqih Fiddin dan Agen Perubahan

Dalam pandangan Islam, peran santri sangat strategis dalam menjaga keberlangsungan umat dan menegakkan peradaban Islam. Santri bukan hanya pelajar agama, tetapi juga agen perubahan sosial dan politik yang membawa misi Islam ke tengah masyarakat.

Santri yang faqih fiddin bukanlah sosok yang diam di balik kitab, melainkan pejuang yang berani menegakkan kebenaran dan menghadapi kezaliman, baik dalam bentuk penjajahan fisik maupun dominasi ideologis modern. Dengan bekal ilmu dan kesadaran ideologis, santri seharusnya menjadi penggerak kebangkitan umat—bukan alat adaptasi terhadap sistem yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Pesantren sebagai Kawah Peradaban

Dari sinilah pentingnya rekonstruksi arah pesantren dan kebijakan negara. Pesantren tidak boleh berhenti sebagai lembaga tradisi, tetapi harus menjadi pusat pembentukan mujahid peradaban—santri yang memahami akar masalah umat dan siap memimpin perubahan berbasis nilai-nilai Islam.

Pesantren mesti kembali menanamkan visi besar: mencetak santri yang berpikir strategis, berjiwa dai, dan berani berdiri di garis depan dalam membela umat dan menegakkan syariat. Di sinilah pesantren menemukan kembali jati dirinya sebagai fondasi peradaban Islam yang kukuh.

Negara sebagai Penanggung Jawab Utama

Namun, tugas berat ini tak mungkin diserahkan kepada santri atau pondok pesantren semata. Negara harus hadir sebagai penanggung jawab utama dalam mewujudkan eksistensi pesantren yang berorientasi pada visi peradaban Islam.

Negara ideal adalah yang menjamin kebebasan dan kekuatan pesantren untuk mencetak generasi yang beriman, berilmu, dan berani melawan kezaliman dalam berbagai bentuknya, bukan justru memanfaatkan pesantren dalam kerangka moderasi beragama atau kepentingan ekonomi jangka pendek.

Jika negara benar-benar serius “mengawal kemerdekaan menuju peradaban dunia”, sebagaimana tema Hari Santri Nasional tahun ini, maka langkah pertama adalah mengembalikan peran pesantren dan santri kepada posisi strategisnya, yaitu sebagai penjaga syariat, pembangun umat, dan motor peradaban Islam global.

Kembali ke Jati Diri Santri

Al-Qur’an telah menegaskan: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujadilah: 11)

Ilmu adalah kekuatan, iman adalah fondasinya. Ketika keduanya menyatu dalam diri santri, lahirlah generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual dan ideologis.

Kini, peringatan Hari Santri Nasional seharusnya tidak berhenti pada upacara dan simbolisme. Ia harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran ideologis umat—bahwa santri adalah penjaga iman dan peradaban, bukan alat politik sesaat.

Sejatinya, peradaban gemilang Islam tidak akan tegak dengan seremoni, tetapi dengan ilmu, iman, dan perjuangan. Dan santri—dengan kesederhanaannya—adalah lentera yang menyalakan jalan menuju kejayaan itu. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: apt. Noviana Irawaty, S.Si.,

Aktivis Muslimah

Views: 46

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA