Nilai Rupiah Melemah, Ekonomi Indonesia Semakin Payah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus
melemah seiring meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran di Timur Tengah.
Bila konflik berlarut-larut, sejumlah pakar khawatir akan muncul dampak
berantai yang dapat mengguncang ekonomi Indonesia, seperti melonjaknya harga
barang-barang impor, termasuk bahan baku industri, serta memicu inflasi yang
akhirnya melemahkan daya beli masyarakat. (BBCNewsIndonesia 21/4/2024)

Kurs rupiah terbaru per dolar AS berkisar di atas Rp16.000
sejak Selasa, 16 April 2024 pada pekan ketiga April ini terakhir kali terjadi
selama empat tahun silam, di awal merebaknya pandemi Covid-19.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan nilai rupiah semakin
melemah, di antaranya;

Pertama, The Fed atau Bank Sentral Amerika Serikat
diperkirakan akan lebih lama mempertahankan suku bunga acuannya di level tinggi
untuk meredam laju inflasi Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Josua
Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata. Selama suku bunga The Fed masih tinggi,
investor global akan lebih tertarik menaruh uangnya di pasar Amerika Serikat,
sehingga memicu arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang seperti
Indonesia.

Imbasnya, investor bermain aman dengan memindahkan modalnya
ke aset-aset “safe haven” seperti surat utang dan dolar Amerika
Serikat, serta emas yang sifatnya relatif stabil di tengah ketidakpastian
ekonomi global, dibanding berinvestasi di Indonesia yang lebih berisiko karena
statusnya sebagai negara pengimpor minyak.

Pelemahan rupiah memang dipengaruhi oleh banyak faktor. Akan
tetapi, kondisi ini terjadi karena dunia secara keseluruhan berada di bawah
imperialisme Amerika Serikat. Ini menjadikan semua negara bergantung pada dolar
Amerika Serikat.

Ini berawal dari perjanjian Bretton Woods tahun 1944 yang
mengubah berbagai hal, termasuk transaksi ekonomi. Sebelum tahun itu, semua
transaksi menggunakan mata uang emas.

Perang dunia satu ternyata memberikan efek yang cukup besar
dalam bidang ekonomi, yaitu beralihnya negara-negara dalam menggunakan mata
uang emas menjadi mata uang kertas untuk membayar berbagai perlengkapan militer
yang digaungi oleh Amerika Serikat.

Amerika Serikat yang memiliki cadangan emas terbanyak berhak
untuk menetapkan perbandingan emas dengan nilai dolar pada saat itu. Karena
itu, setelah perjanjian Bretton Woods ini, dolar diberlakukan sebagai mata uang
asing pengganti emas dalam perdagangan internasional hingga saat ini.

Tentu yang sangat diuntungkan adalah Amerika Serikat. Dengan
adanya hal ini, Amerika Serikat dapat mengatur kondisi ekonomi dan menguasai
negara-negara yang ada di dunia untuk bergantung pada Amerika Serikat itu
sendiri. Sejatinya, hal inilah yang 
melatarbelakangi kekuatan semu yang hari ini mencengkeram semua
negara-negara di dunia.

Dampak pelemahan rupiah akan dirasakan berbagai pihak dan
semakin menyulitkan kondisi ekonomi rakyat dalam berbagai aspek kehidupan hari
ini. Bila nilai tukar rupiah melemah, otomatis harga barang-barang impor akan
melonjak dikarenakan sekitar 90% impor Indonesia terdiri dari bahan baku untuk
aktivitas produksi dalam negeri.

Melemahnya kurs rupiah membuat biaya produksi dan ongkos
logistik para pengusaha makanan dan minuman akan melonjak sehingga harga
barang-barang akan meningkat. Inflasi cukup besar akan mendorong terjadinya
penurunan daya beli masyarakat, yang selanjutnya membuat pertumbuhan ekonomi
melambat dan perputaran ekonomi bakal tersendat.

Bagaimana solusinya agar masyarakat tidak lagi khawatir?

Seorang analis Emerging Market CLSA, Christopher Wood
menyatakan bahwa emas adalah satu-satunya jaminan nyata terhadap ekses-ekses
keuangan masif yang masih dirasakan dunia Barat. Ketika nilai tukar dolar
anjlok, harga emas akan terus naik.

Seiring perjalanannya, emas memang selalu mendapatkan
apresiasi yang luar biasa. Misalnya saja pada tahun 1800 harga emas per satu
troy ons setara dengan 19,39 dolar Amerika Serikat, sedang pada tahun 2004,
satu troy ons emas senilai 455,757 dolar Amerika Serikat.

Islam juga telah menetapkan bahwa sistem mata uang untuk
menjalankan segala transaksi hanya berbasis emas dan perak atau yang sering
disebut dinar dan dirham. Mencontoh dari Rasulullah saw. sebagai kepala negara
ketika hijrah ke Madinah, dinar dan dirham dijadikan mata uang resmi negara.
Nilai satu dinar setara dengan 4,25 gram emas dan satu dirham setara dengan
2,975 gram perak. Sistem ini lebih stabil dan adil sehingga secara ekonomi akan
aman dan membawa ketenangan bagi rakyat.

Ketika ingin mencetak uang, maka suatu negara harus
mempunyai emas dan perak. Jika tidak memilikinya, maka negara tidak bisa
mencetak uang. Dengan adanya mata uang emas dan perak ini, maka tidak akan
terjadi inflasi.

Indonesia diberkahi sumber daya alam berupa emas dan perak
di berbagai wilayah yang bisa mencukupi para penduduknya.

Kestabilan emas dan perak telah terbukti sepanjang
sejarah.  Hanya saja, penerapannya tidak
bisa dilakukan hanya dengan individu atau kelompok tertentu agar bisa dirasakan
masyarakat. Karena itu, diperlukan negara yang menerapkan sistem ekonomi Islam
beserta syariat Islam lainnya secara menyeluruh agar tercipta kesejahteraan
yang ideal. Wallahualam bisawab. 

Oleh: Wilda Nusva Lilasari S. M. (Sahabat Tinta Media)

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA