Tinta Media – Umat Islam sulit bersatu saat ini karena terpecah dalam batas wilayah nation-state dan semangat nasionalisme. Padahal, seharusnya umat Islam ibarat satu tubuh. HR Muhammad al-Bukhari No. 6011 dan Muslim ibn al-Hajjaj No. 2586 menyatakan, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” Faktanya, tidak semua umat Islam peduli dengan kondisi saudara kita di Gaza, Palestina. Lebih parah lagi, ada yang mengaku muslim tetapi mendukung dan membela Israel.
Umat ini juga sulit bersatu dalam rukyatul hilal untuk menentukan 1 Ramadan dan 1 Syawal, padahal kita menggunakan dalil yang sama seperti apa yang diajarkan Muhammad saw., yaitu dengan cara melihat bulan sabit pertama sebagai penanda hari raya. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika tertutup mendung bagi kalian, maka genapkanlah hitungan Syakban menjadi 30 hari.”
Dengan dalil yang jelas, seharusnya tidak ada perbedaan dalam menentukan hari raya Idulfitri. Namun faktanya, mengapa umat Islam di Afghanistan, Saudi Arabia, dan Indonesia harus berbeda dalam penetapan 1 Syawal? Alasan paling utama adalah kaum muslim tidak lagi dihimpun dalam satu komando Khilafah. Tidak ada satu pemimpin yang bisa menyatukan mereka dalam satu keputusan.
Sungguh, kita butuh Khilafah untuk menyatukan umat di belahan dunia mana pun agar Islam bisa memimpin dunia. Saat umat Islam bersatu di atas kebenaran (al-haq), mereka menjadi kekuatan yang tidak teralahkan, ibarat satu bangunan kokoh yang saling menguatkan. Persatuan didasari keimanan dan kepedulian terhadap sesama, menciptakan persaudaraan kuat, menjaga kehormatan, menghentikan kezaliman, mendatangkan rahmat Allah, dan meningkatkan izzah (kemuliaan) Islam. Persatuan ini, yang berbasis pada kalimat tauhid, Al-Qur’an, dan Sunnah, akan menghapuskan perpecahan, mewujudkan persaudaraan hakiki, serta menjadikan umat disegani. Persatuan di atas kebenaran akan mengundang kasih sayang dan pertolongan Allah, serta menghilangkan permusuhan.
Umat Islam akan terlindungi dari kezaliman jika Khilafah tegak di atas bumi. Ancaman dan aksi militer geopolitik global yang dilakukan oleh United States dan Israel tidak akan berdaya saat umat Islam bersatu dalam naungan Khilafah.
Jeritan rakyat Palestina seolah bergema di ruang hampa saat ini. Banyak negeri muslim hanya bisa mengutuk kekejaman zionis Israel di Gaza, tetapi tidak berani mengambil aksi nyata dengan membebaskan Palestina dari penjajahan yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Mereka takut akan dimusuhi negara adidaya, Amerika dan Israel, yang siap menggulingkan rezim yang berkuasa di negeri yang menentang hegemoni politik mereka. Sudah terbukti bagaimana Donald Trump menculik presiden Venezuela. Dia juga membombardir Iran dan menewaskan pimpinan tertinggi Iran, Ruhollah Khomeini, dengan tuduhan sudah membantu Hamas, pejuang yang ingin membebaskan Palestina dari penjajahan Israel, dalam persenjataan. Amerika dan Israel ingin semua negara mau tunduk dalam kendali mereka.
Sungguh, jika Khilafah berdiri tegak dan memimpin dunia, kedamaian hakiki akan tercipta. Kekuatan umat Islam dalam naungan Khilafah akan menghancurkan berbagai bentuk penjajahan dan kemungkaran di atas bumi atas pertolongan Allah Swt.
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 8
















