Tinta Media – Nara Sumber sekaligus Tim Penyusun Naskah Film Dokumenter Jejak Khilafah di Tatar Sunda #3 (JKTS#3) Salman Iskandar menegaskan bahwa semua bagian film ini penting untuk disajikan.
“Dari bagian pertama sampai bagian kelima, semua penting untuk disajikan,” tuturnya kepada Tinta Media, Ahad (13/2/2022).
Bagian pertama, lanjut Salman, berkenaan dengan kejatuhan khilafah. “Kejatuhan khilafah dan pentingnya khilafah bagi umat Islam seluruh dunia termasuk juga dampaknya ke Nusantara, Tatar Sunda dan Tanah Jawi,” jelasnya.
“Ketika kita bicara berkenaan dengan kejatuhan khilafah kita sajikan dengan sangat apik dan juga kita narasikan berkaitan dengan fakta, data, peristiwa kesejarahan yang ada,” terangnya.
Menurutnya, kejatuhan khilafah ini sangat dirasakan sekali. “Crew mencoba menyajikan fakta ketika khilafah jatuh di Istambul, gejolaknya sampai dirasakan betul di Nusantara,” imbuhnya.
“Kejatuhannya juga tidak berdiri sendiri. Ada berbagai peristiwa yang mengiringi kejatuhannya. Tahun 1922 ada upaya yang dilakukan oleh orang-orang sekuler yang ada di Turki untuk merebut kekuasaan Sultan (Khilafah di Turki) responnya juga nampak nyata di negeri ini,” sambungnya.
Menurut Salman, respon kaum Muslim yang ada di Tatar Sunda membuktikan adanya kepedulian berkenaan dengan keberadaan gejolak politik yang ada di pusat ibukota yang ada di Istanbul. “Ini menunjukkan adanya ukhuwah Islamiyah bahwa Tanah Sunda, Jawadwipa, Nusantara itu sudah terintegrasi dengan kesatuan yang tunggal. Inilah pentingnya khilafah,” tegasnya.
Bagian kedua, lanjutnya, mengurakain berkenaan respon yang ditunjukkan oleh kaum Muslim dunia termasuk kaum Muslim Tatar Sunda terkait dengan keruntuhan khilafah.
“Tokoh-tokoh yang ada di tanah Jawi, Jawadwipa, Tatar Sunda merespon kejatuhan khilafah dengan membentuk apa yang dikenal dengan Komite Khilafah,”tukasnya.
Bagian yang ketiga, lanjut Salman, menyajikan peristiwa bahwa perjuangan menegakkan kembali khilafah itu menemui tantangan, gangguan. Diantaranya adalah keberadaan peran kolonial untuk memalingkan perjuangan tadi.
“Maka Kolonial melakukan berbagai upaya untuk memalingkan, membendung aspirasi penegakan khilafah. Pemerintah kolonial menerapkan kebijakan politik edukasi,” imbuhnya.
Politik edukasi ini ditujukan untuk meredam kalangan bumi putera yang peduli dengan Islam, peduli dengan umat Islam untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan menegakkan syariat islam, dengan memunculkan antitesisnya.
“Di sini ada tokoh pejuang. Di sana ada pemberontak,” tuturnya.
Akhirnya, ide-ide yang awalnya itu memperjuangkan Islam dalam kontek perjuangan mengembalikan khilafah Islam, kemudian direduksi dengan hanya sebatas memperjuangkan kemerdekaan berbasiskan pada kebangsaan.
“Bagian keempat menyajikan pertarungan antara kelompok yang berusaha untuk memperjuangkan Islam dengan yang kontra yang menentang,” paparnya.
Bagian kelima, menurutnya mencoba menggambarkan perjuangan khilafah di Indonesia dan Tatar Sunda secara lebih rinci.
“Film dokumenter ini, disajikan berdasarkan data-data dan juga merupakan sumber primer yang bisa dihadirkan,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun
![]()
Views: 4
















