Seruan Toleransi Kebablasan Jelang Nataru

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Setiap tahun, menjelang Nataru (Natal dan Tahun Baru) para pejabat pemerintah selalu mengulang seruan toleransi beragama. Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga keharmonisan antarumat beragama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2025. Ia mengatakan bahwa kita harus memelihara hubungan baik sebagai warga bangsa yang hidup dalam keberagaman. Sangat penting untuk saling dukung dan menghormati dalam merayakan hari besar masing-masing. Perbedaan itu anugerah, sesuatu yang membuat kehidupan kita lebih indah. (Radarsampit. jawapos.com, 15/12/2024)

Seruan toleransi serupa disampaikan oleh ketua Komisi I DPRD Banjarmasin, Aliansyah dan para pejabat daerah lainnya, seakan-akan umat Islam di negeri ini diingatkan terus untuk mendukung kaum minoritas, melindungi mereka dan ikut bergembira atas datangnya Nataru.

Bisa kita lihat di tempat-tempat keramaian seperti mall, supermarket, minimarket, bahkan televisi. Semua tidak lepas dengan hiasan atribut natal dengan warna merah hijau. Para pelayan toko pun memakai pakaian bertema natal seperti sinterklas. Padahal, para pelayan itu sebagian besar adalah muslim.

Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam seakan-akan digiring untuk turut mengopinikan semangat Natal, hari lahirnya Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Juru selamat bagi siapa?

Lalu saat menjelang pergantian tahun baru, umat Islam digiring untuk memeriahkannya. Bunyi terompet dan hiruk-pikuk kembang api atau mercon terlihat di hampir seluruh penjuru negeri.

Siapa pelakunya? Umat Islam

Miris melihat respon saudara-saudara kita yang belum paham hakikat akidah Islam.
Namun, itulah faktanya. Muslim negeri ini belum paham bahwa ikut serta dalam kemeriahan Natal dan tahun baru sama saja dengan menggadaikan akidah Islam pada kemungkaran, bahkan bisa jadi kafir. Karena, berarti kita mengakui bahwa Nabi Isa itu Tuhan dan kita telah mengikuti cara-cara orang kafir beribadah. Yang benar, slogan itu menyesatkan akidah muslim.

Seruan toleransi dari Menteri Agama dan pejabat lainnya juga bertentangan dengan akidah Islam. Bukankah tentang hubungan muslim dengan nonmuslim telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 6, yang artinya, “Untukmu agamamu dan untukku agamaku?”

Tidak ada saling dukung dalam masalah ibadah. Lagipula, Natal sangat bertentangan dengan akidah Islam. Natal adalah peringatan hari lahir Tuhan putera Allah dari umat Kristen. Sedang dalam Islam, Allah SWT itu satu serta tidak beranak dan tidak diperanakkan. (QS Al-Ikhlas ayat 1 dan 3)

Hal ini menunjukkan bahwa pejabat tidak memahami tugasnya dalam menjaga akidah umat. Bahkan, HAM yang liberal dijadikan sebagai pijakan. Belum lagi kampanye moderasi beragama yang makin gencar, membuat umat makin jauh dari pemahaman yang lurus.

Pada akhir tahun ini, umat Islam perlu waspada dan menjaga akidah agar tetap dalam ketaatan pada Allah SWT. Umat perlu terus diingatkan karena ada kecenderungan bahwa ketaatan muslim makin longgar akibat negara tidak menjalankan fungsinya sebagai penjaga akidah umat.

Islam memiliki konsep yang jelas dalam interaksi dengan agama lain. Terbukti dalam sejarah ketika Islam diterapkan secara _kaffah_. Saat itu, Islam secara menyeluruh mengatur semua aspek kehidupan. Islam telah menjaga keharmonisan hidup masyarakat. Dalam negara Islam, kaum muslimin dan nonmuslim hidup berdampingan, toleransi berjalan dengan benar, interaksi hanya dalam muamalah (hubungan kemasyarakatan), tidak ada interaksi dalam masalah ibadah. Satu sama lain saling menghormati, tidak ikut campur atau saling dukung.

Para pemimpin dan pejabat negara di negara Islam akan selalu memberikan nasihat takwa agar umat tetap terikat dengan aturan Islam. Ada Departemen Penerangan yang disediakan Negara untuk memberikan penjelasan tentang tuntunan Islam dalam menyikapi hari besar agama lain. Selain itu, negara juga memiliki Kadi Hisbah yang siap berjaga dan memberi petunjuk di tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya interaksi umat Islam dengan agama lain, khususnya dalam momen krusial yang berpotensi membahayakan akidah umat seperti Nataru. Wallahu a’lam bisshawab.

 

 

Oleh : Ummu Atika
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 11

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA