Tinta Media – Penting bagi seorang presiden untuk turun ke bawah agar dapat melihat kondisi riil rakyatnya. Istilah “turun ke bawah” sering disamakan dengan konsep blusukan yang banyak dilakukan pejabat saat ini. Namun, sayangnya, hal tersebut terkadang hanya dijadikan sarana pencitraan. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz dalam sejarah Islam. Alasan utama mereka turun langsung ke tengah masyarakat adalah untuk melihat kondisi riil rakyat, memastikan keadilan sosial, dan mendapatkan data yang akurat tanpa rekayasa demi merumuskan kebijakan yang tepat.
Dengan turun ke bawah, seorang pemimpin dapat mengetahui keadaan rakyat yang sebenarnya tanpa rekayasa atau laporan “asal bapak senang”. Dengan demikian, kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan rakyat, bukan sekadar pencitraan agar tampak sebagai pemimpin hebat sementara rakyatnya menderita. Banyak pengamat menyampaikan bahwa isi pidato Presiden Prabowo tidak menggambarkan kondisi rakyat karena ia dianggap kurang turun ke bawah untuk melihat langsung keadaan masyarakat dan mendengar keluh kesah mereka.
Dalam pidato yang viral, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa buruh pengupas bawang mendapatkan upah Rp700 ribu per kilogram. Pernyataan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan karena harga bawang saja untuk satu kilogram tidak sampai seratus ribu rupiah. Sebelumnya, dalam pidatonya, Presiden juga menyebutkan bahwa sebuah penggilingan padi mendapatkan keuntungan Rp2 triliun dalam satu bulan.
Hal tersebut menunjukkan adanya informasi yang tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Presiden hanya mendapatkan laporan dari bawahannya yang ternyata tidak benar. Sayangnya, informasi dari laporan tersebut ditelan mentah-mentah, sementara suara kritis dari rakyat justru dianggap sebagai suara barisan sakit hati dan dimusuhi.
Informasi yang salah dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan akan menghasilkan kebijakan yang keliru dan tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Salah satu contohnya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendapat penolakan dari sebagian masyarakat karena dianggap tidak memberikan manfaat yang diharapkan. Selain itu, muncul berbagai kasus siswa mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG.
Begitu pula program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan URI yang dianggap sebagai pemborosan anggaran, tetapi hasilnya belum sesuai dengan harapan rakyat. Sangat disayangkan apabila presiden enggan turun ke bawah dan tidak mau menerima kritik sehingga program tetap dipaksakan untuk berjalan meskipun dianggap tidak memberikan manfaat bagi rakyat. Kondisi tersebut bahkan berpotensi menjadi lahan korupsi bagi pejabat yang rakus dan tamak.
Rakyat membutuhkan pendidikan dan layanan kesehatan gratis serta lapangan pekerjaan agar dapat hidup sejahtera. Seharusnya, presiden menjadikan Khalifah Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz sebagai contoh dan teladan dengan turun langsung ke tengah masyarakat untuk mengecek kesejahteraan rakyat, bukan hanya mengandalkan laporan. Dengan demikian, kebijakan yang diambil dapat tepat sasaran, yakni menjamin kesejahteraan rakyat dan memastikan tidak ada warga miskin, anak yatim, atau janda di sudut kota maupun desa yang kelaparan atau mengalami kesusahan.
Hal tersebut dilandasi rasa tanggung jawab dan ketakwaan kepada Allah Swt. Seorang pemimpin menyadari bahwa setiap kesulitan yang dialami rakyat akan menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat.
Semua itu dilakukan bukan untuk pencitraan, melainkan karena dorongan takwa, rasa takut kepada Allah Yang Mahakuasa, serta upaya mengikuti cara hidup sederhana dan kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam.
Dalam kisah yang masyhur, Khalifah Umar bin Khaththab memanggul sendiri karung gandum dan menolak dibantu oleh pembantunya ketika hendak memberikan gandum kepada seorang ibu miskin yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Umar takut memikul dosa kepemimpinan di akhirat jika membiarkan rakyatnya kelaparan.
Pemimpin saat ini seharusnya mencontoh Khalifah Umar sebagai teladan yang baik, yaitu turun langsung ke tengah masyarakat karena dorongan takwa. Dengan demikian, kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat dapat lebih terjamin.
Oleh: Mochamad Efendi
(Sahabat Tinta Media, Sidoarjo)
![]()
Views: 4






