Tinta Media – Kasus Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS Kesehatan yang sempat mencurahkan pengalamannya menunggu ruang perawatan selama sekitar delapan jam melalui platform Threads, menyisakan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar perdebatan mengenai pelayanan kesehatan.
Setelah unggahannya menjadi perhatian publik, muncul sejumlah komentar dari akun yang disebut sebagai tenaga kesehatan yang merendahkan dan tidak menunjukkan empati terhadap kondisi Yurizal. Kasus tersebut kembali menjadi sorotan setelah Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026.
Namun, ada sesuatu yang lebih mengusik daripada persoalan tersebut. Mengapa seorang manusia yang sedang sakit dapat menjadi objek olok-olok dan perundungan, bahkan ketika ia berada dalam kondisi rentan?
Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan kepribadian manusia. Dalam perspektif Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, kepribadian manusia tidak semata-mata dibentuk oleh pengetahuan, kecerdasan, profesi, atau pendidikan. Kepribadian (syahsiah) terbentuk dari pola pikir dan pola sikap yang lahir dari cara seseorang memandang kehidupan. Dengan kata lain, seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi, profesi terhormat, bahkan pengetahuan yang luas, tetapi tetap memiliki persoalan kepribadian apabila standar berpikir dan perilakunya tidak dibangun berdasarkan akidah Islam.
Di sinilah sekularisme menjadi persoalan mendasar. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Agama ditempatkan terutama pada wilayah privat, sementara pengaturan kehidupan manusia didasarkan pada nilai dan standar yang dapat berubah mengikuti kepentingan, manfaat, atau kesepakatan manusia.
Dalam sistem kapitalisme, orientasi kehidupan juga sangat kuat dipengaruhi oleh materi, manfaat, dan kepentingan individual. Ketika standar kehidupan demikian dominan, hubungan antarmanusia pun berpotensi berubah. Manusia dapat dinilai berdasarkan manfaatnya. Profesi dapat dinilai berdasarkan keuntungan. Pelayanan dapat dinilai berdasarkan transaksi. Bahkan, orang yang sedang sakit pun dapat secara tidak sadar dipandang sebagai “pasien”, “konsumen”, “pengguna layanan”, atau “peserta BPJS” sebelum dilihat sebagai manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.
Padahal, Islam memiliki cara pandang yang berbeda. Seorang Muslim tidak hanya bertanya, “Apakah tindakan ini menguntungkan?” Ia juga bertanya, “Apakah Allah meridainya?” Inilah yang membedakan kepribadian yang dibangun berdasarkan sekularisme dengan kepribadian Islam. Di sinilah takwa seharusnya bekerja.
Takwa membuat seseorang berhenti sebelum menyakiti. Takwa membuat seseorang berpikir sebelum berbicara. Takwa membuat seseorang menyadari bahwa manusia yang berada di hadapannya bukan sekadar akun media sosial, bukan sekadar pasien BPJS, bukan sekadar orang asing, melainkan makhluk Allah yang memiliki kehormatan.
Allah berfirman: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra: 70)
Kemuliaan manusia tidak hilang hanya karena ia miskin. Tidak hilang karena ia menggunakan BPJS. Tidak hilang karena ia mengeluhkan pelayanan. Dan tidak hilang karena ia berbeda dengan kita. Karena itu, kasus Yurizal seharusnya menjadi bahan introspeksi terhadap kondisi masyarakat kita.
Inilah mengapa persoalan kepribadian tidak dapat diselesaikan hanya dengan imbauan agar masyarakat “lebih berempati”. Empati membutuhkan fondasi. Dalam perspektif Islam, fondasi itu adalah akidah dan takwa.
Maka, kasus Yurizal semestinya tidak hanya menjadi perdebatan sesaat tentang etika bermedia sosial. Kasus ini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya lebih jauh: apakah sistem kehidupan yang kita jalankan hari ini benar-benar sedang membentuk manusia yang takut kepada Allah dan menyayangi sesama?
Sebab, ketika agama dipisahkan dari kehidupan, kita mungkin masih dapat menghasilkan manusia yang pintar, profesional, dan kompetitif. Tetapi pertanyaannya: apakah kita juga sedang menghasilkan manusia yang bertakwa?
Oleh: Hamimah
(Sahabat Tinta Media)
![]()
Views: 2
















