Tinta Media – Dunia remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Biasanya masa ini ditandai dengan rasa ingin tahu yang besar, masanya coba-coba, pencarian jati diri, dan berbagai tantangan emosional. Mereka akan lebih aktif dalam mengekspresikan diri. Jika tidak diarahkan dengan baik, mereka akan mengambil jalan sesuai yang mereka mau tanpa berpikir dampak buruk yang akan terjadi, sehingga tumbuh menjadi remaja yang nakal.
Persoalan kenakalan remaja inilah yang mendasari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meluncurkan program mengirimkan anak nakal ke barak militer atau pelatihan karakter. Pro kontra terhadap program ini pun terjadi. Akan tetapi, tak sedikit masyarakat yang menyambut baik program ini, terutama para orang tua yang sudah angkat tangan menghadapi anak-anak yang nakal. Mereka dengan sukarela menyerahkan anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan di barak militer.
Namun sayang, saat ini program tersebut belum bisa dilaksanakan lagi. Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung, Enjang Wahyudin, pihaknya sedang mengkaji dan menganalisis perihal mekanismenya. Salah satu kendalanya adalah persoalan penganggaran.
Sebenarnya, persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada anggaran, tetapi mampukah program ini menjadi solusi tuntas menyelesaikan persoalan kenakalan remaja yang tak terkendali, bukan sedikit-sedikit masalah anggaran. Alangkah baiknya dicari dahulu akar permasalahan dari kenakalan remaja tersebut.
Kalau ditelusuri, ada beberapa hal yang menjadi penyebab dari permasalahan tersebut, antara lain:
Pertama, kualitas mental dan spiritual yang rapuh. Sistem yang materialistik dan permisif membuat mereka kehilangan arah dan tidak punya tujuan hidup dan tanggung jawab.
Kedua, keluarga yang lemah. Orang tua sibuk bekerja, sehingga pola asuh pun salah. Mereka tumbuh tanpa kasih sayang dan keteladanan.
Ketiga, lingkungan sosial yang rusak dan merusak, seperti banyaknya tempat hiburan malam, pergaulan bebas, geng motor dan lain sebagainya. Sekolah pun kadang hanya fokus mengajarkan perihal akademik saja. Sikap individualisme pun telah mengikis kepedulian dalam hidup bertetangga. Mereka hanya peduli pada keluarga masing-masing.
Keempat, abainya negara dalam menjaga generasi. Negara dalam sistem sekuler kapitalisme hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi walau tidak merata, hanya mengurus para oligarki, bukan pembangunan manusia yang berkualitas. Kurikulum yang diterapkan minim nilai-nilai agama. Konten-konten vulgar meracuni generasi muda. Negara pun tidak hadir melindungi generasi dari pengaruh budaya asing yang liberal.
Maka, bukan hanya gebrakan program yang ditonjolkan, tetapi bagaimana membereskan persoalan dari akar. Percuma program bagus, tetapi tidak memberikan dampak signifikan, yang ujung-ujungnya terkendala masalah anggaran. Inilah karakteristik dari sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan negeri ini, yaitu ada anggaran program lancar, tidak ada anggaran program ambyar.
Orientasi setiap kebijakan hanya pada keuntungan materi, bukan kemaslahatan atau manfaat bagi masyarakat. Sering kali anggaran yang digelontorkan pun berceceran di jalan dan masuk ke kantong-kantong tikus berdasi. Alhasil, banyak program menggantung karena persoalan anggaran, sehingga sangat tidak bisa diandalkan. Dalam sistem sekuler kapitalisme, menyelesaikan masalah dengan masalah baru adalah hal biasa.
Lain halnya dalam sistem Islam, Negara Islam atau Khilafah berperan sebagai -raa’in (yang mengurusi) atau junnah (pelindung) bagi rakyat. Ini termasuk melindungi generasi penerus peradaban dari pengaruh tsaqofah (pengetahuan) dan budaya kafir Barat. Dalam Islam terdapat tiga pilar yang bisa menyelesaikan setiap permasalahan, yaitu:
Pertama, ketakwaan individu. Ini akan timbul tatkala manusia menyadari ada hubungan dengan Allah Swt., bahwasanya hakikat hidup adalah untuk beribadah, yaitu melaksanakan ketaatan dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kedua, kontrol masyarakat. Ini akan terbangun tatkala manusia memahami makna amar ma’ruf nahi mungkar. Maka, setiap individu masyarakat akan mempunyai tanggung jawab untuk mencegah kemaksiatan dengan saling mengingatkan, menasihati, dan peduli.
Ketiga, penerapan aturan oleh negara. Ini adalah hal paling penting dalam mencetak generasi cerdas berakhlak mulia. Sistem pendidikan berbasis akidah Islam akan diterapkan sebagai kurikulum pendidikan.
Pengawasan terhadap konten-konten berbau kekerasan, pornografi tidak akan dibiarkan merajalela. Sanksi tegas dan membuat jera akan diberikan kepada pihak yang melanggar aturan negara. Inilah bentuk dari tanggung jawab negara sebagai pelindung rakyat.
Oleh karena itu, mencetak generasi hebat, cerdas, kreatif dan berakhlak mulia tidak bisa hanya dengan dibina selama satu, dua, atau tiga bulan saja.
Seharusnya, sedari dini mereka dibina dengan akidah Islam. Sehingga, begitu mereka beranjak dewasa, idrok sillah billah (kesadaran akan hubungan dengan Allah) mereka tetap terjaga.
Maka, dalam Islam, persoalan kenakalan remaja bukanlah perkara ada atau tidak adanya anggaran, tetapi ada atau tidaknya keseriusan negara dalam meriayah (mengurusi) rakyat.
Masih percayakah kita pada sistem sekuler kapitalisme yang menjadi sumber segala persoalan kehidupan?
Islam adalah agama sempurna yang Allah buat untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan akhirat, sehingga wajib hukumnya untuk kita perjuangkan. Wallahu’alam.
Oleh: Neng Mae
Sahabat Tinta Media
Views: 29
















