Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyoroti banyaknya paradoks yang terjadi dalam sikap bangsa Indonesia terhadap Islam dan penjajahan.
Hal itu disampaikan dalam program Focus to The Point bertema Resolusi Jihad 1945: Belanda Diperangi, Israel kok Dilegalkan? yang tayang di kanal YouTube UIY Official, Jumat (17/10/2025).
Menurutnya, salah satu paradoks mencolok adalah ketika para ulama yang dahulu berjuang atas dasar Islam demi kemerdekaan bangsa kini justru dianggap membahayakan negara ketika menyerukan penerapan syariat Islam.
“Ini satu hal yang jelas, jelas sekali sebuah paradoks itu. Tapi sebenarnya paradoks ini belum lama atau baru belakangan muncul,” ujar UIY.
Ia menjelaskan, dahulu perjuangan menjadikan Islam sebagai dasar negara diterima secara terbuka.
“Misalnya di dalam sidang konstituante, KH Masykur dengan tegas menginginkan Islam itu sebagai dasar negara ini dan gak disalahkan, gak pernah ada kata-kata bahwa ini mengancam segala macam itu,” ungkapnya.
Namun, lanjutnya, sejak masa Orde Baru muncul istilah ekstrem kanan dan ekstrem kiri. “Ekstrem kiri itu komunis, ekstrem kanan itulah yang disebut orang-orang yang menginginkan Islam itu lebih dari sekedar sebuah agama spiritual, agama politik, menginginkan Islam, penerapan syariah dan sebagainya,” jelasnya.
UIY menyebut, istilah ekstrem kanan kemudian berganti menjadi radikal dan radikalisme yang bahkan dikatakan harus diperangi.
“Sesuatu yang luar biasa itu bagaimana orang yang begitu cintanya kepada negeri ini dan menginginkan negeri ini itu menjadi baik dan tahu bahwa negeri hanya bisa menjadi baik jika dengan dasar Islam, itu dikatakan sebagai membahayakan negara. Inilah paradoks itu dan itu terjadi sekarang ini,” tegasnya.
Menurutnya, yang sebenarnya mengancam negara bukanlah orang-orang yang memperjuangkan Islam, melainkan para koruptor.
“Padahal sebenarnya mengancam negara ini apa sih? Yang mengancam negara seperti yang kita lihat yaitu baru lalu presiden kan mempertontonkan kepada publik korupsi di negeri ini sudah di luar nalar,” ujarnya.
Ia menambahkan, praktik korupsi yang masif menunjukkan kerusakan sistemik. “Terungkap itu 300 triliun dan itu semua smelter-smelter ilegal itu beroperasi tahunan, tidak di dalam waktu yang pendek, dengan alat-alat berat tak mungkin itu tidak diketahui oleh aparat. Itu artinya telah terjadi sebuah korupsi berjamaah yang luar biasa,” tandasnya.
Lebih jauh, UIY menyoroti paradoks lain dalam sikap Indonesia terhadap penjajahan. Ia membandingkan ketegasan ulama dalam resolusi jihad 1945 untuk memerangi Belanda dengan sikap lunak terhadap Israel.
“Ini paradoks lagi juga. Jadi banyak sekali paradoks di tengah kita. Satu sisi kita jelas sekali menyatakan di dalam konstitusi bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan, dan kita tidak pernah mau menerima Belanda. Tapi kenapa sekarang dalam konteks Israel justru menyerukan solusi dua negara?” ujarnya.
Menurutnya, seruan dua negara berarti menerima hidup berdampingan dengan penjajah. “Coba bayangkan kalau pada waktu itu ada yang menyerukan resolusi dua negara lalu menyerukan kepada kita, perasaan kita kayak apa, pasti kita mangkel itu. Dan kenapa itu dilakukan sekarang dalam konteks Israel?” ucapnya.
UIY menilai, tindakan Israel jauh lebih kejam dibanding Belanda. “Belanda itu hanya ngambil Irian, tapi Israel ini bukan sekadar ngambil wilayah yang sudah dia duduki, tapi dia terus ekspansi, lebih dari 80% sekarang ini. Dan dia terus melakukan kejahatan luar biasa membunuh warganya, mengusir, menghancurkan tempat tinggalnya,” paparnya.
Lebih ironis lagi, kata Ismail, kini muncul pernyataan agar keamanan Israel dijaga. “Sekarang ada pernyataan kita harus menjaga keamanan Israel. Dan kemudian dikatakan bahwa perdamaian abadi itu hanya jika Israel itu dijaga keamanannya. Itu kan paradoks,” pungkasnya.[] Imam Wahyono
Views: 25
















