Akibat Perang AS – Iran, INDEF: Peluang Dedolarisasi Itu Ada

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Head of Center Macroeconomics and Finance, INDEF Dr. M. Rizal Taufikurahman mengungkapkan bahwa akibat dari perang AS – Iran, peluang terjadinya dedolarisasi itu ada.

“Saya kira peluang itu ada ya, bahkan Cina juga serta Iran kan sudah mulai kerjasama ya, bahkan pelan-pelan diduga juga akan melakukan dedolarisasi ya,” ungkapnya dalam live FOKUS bertajuk Membayangkan Akhir Perang AS – Iran, di kanal YouTube UIY Official Channel, Ahad (15/3/2026).

Pasalnya, beber Rizal, sebelumnya menyampaikan bahwa penyerangan AS kepada Iran, membuat Iran bisa bangkit dan melakukan perubahan pada posisi ekonomi menjadi adanya peluang De-dolarisasi.

“Tetapi, tentu ini menjadi dilematis nanti ya bagi Amerika, dan perlu diingat ya Iran sama Amerika, dulu Iran sekutunya Amerika ya, waktu zaman Reza Pahlevi ya tahun 50 sampai 79,” bebernya.

Rizal melanjutkan, kemudia di tahun 1979 hingga sekarang sudah terjadi revolusi Islam Iran, lalu di embargo. Karena ini juga, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin Reza Pahlevi family naik tahta lagi walau hari ini situasinya sulit.

Sehingga, imbuhnya lagi, jika ditanya apakah peristiwa ini akan mengubah situasi ekonomi global? Dan kalau dilihat-lihat, kekuatan Iran ini disupport oleh negara Rusia dan Cina.

Ia menambahkan, kedua negara ini merupakan negara maju yang notabene lawannya Trump selama ini, meskipun keduanya tidak memperlihatkan secara langsung.

Karenanya, ujarnya, Cina dan Rusia itu punya peluang besar, untuk melakukan hegemoni ekonomi yang selama ini bersebrangan dengan penyelenggaraan maupun sistem ekonomi yang dibangun Amerika.

“Kita tahu bahwa dengan perang ini, menunjukkan, bahkan ada yang mengatakan sebenarnya ini perang peradaban gitu. Bayangkan kalau kita lihat ke historis, bangsa Iran itu bangsa Aria, dan itu punya peradaban hampir 2500 tahun, pernah diperangi oleh Mongol, oleh Iskandaria, bahkan oleh Yunani juga pernah,” bebernya lagi.

Tetapi, menurut Rizal Iran ini hebat, mereka tetap berdiri tegak. Jika ingin membandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya sekitar 250 tahun jelas lebih unggul Iran, sehingga Iran punya peluang.

“Sebenarnya kalo kita lihat dari kekuatan ini, dua peradaban ini sebenarnya bagus juga untuk membangun sistem, tidak hanya politik, tapi juga ekonomi politik yang dikawasan itu, dan saya kira Iran punya peluang untuk membangun itu ya,” jelasnya.

Negara Teluk Tampak Kecewa terhadap AS

Kemudian, Rizal mengatakan bahwa dengan situasi ini pula dikawasan Timur, negara-negara teluk tampak kecewa.

“Dan sekarang juga dikawasan Timur ya, negara-negara teluk juga seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, mereka menjadi agak sedikit kecewa begitu ya,” katanya.

Dikarenakan, tambahnya, pasokan senjata yang dibelinya dari AS tidak berfungsi dengan baik, malah respon AS cenderung membiarkan pertahanan negara-negara teluk ini tidak dilindungi.

Maka dari kondisi ini juga, ucap Rizal, menjadi trigger bagi Iran untuk membangun peluang tersebut, “Saya kira Iran akan sangat strategis begitu ya, untuk tampil menjadi negara yang militer yang begitu kuat,” ungkapnya.

Selain itu, imbuhnya, Iran juga didorong dengan kondisi ekonomi yang merata, juga kesejahteraan masyarakatnya sudah tercapai.

“Meskipun Iran punya penduduk hampir 80 juta, tetapi kesejahteraannya itu merata, tidak ada di Iran itu orang miskin. Jadi, kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, itu sudah tercapai, bahkan di desa-desa pun semuanya juga tercapai,” imbuhnya.

Ekonomi Iran

Sehingga, menurut Rizal, dari sisi pengelolaan ekonomi, Iran sudah mempunyai keunggulan, dalam membangun ekonominya.

“Tentu, ini menjadi sangat strategis bagi Iran, dengan kepemilikan sumber daya ekonomi yang sangat besar, bahkan bisa membangun kerjasama-kerjasama ekonomi dengan negara-negara besar seperti Cina, kemudian juga Rusia,” katanya.

Pun demikian, lanjut Rizal, Ini menjadi kesempatan bagi Iran untuk bisa tampil menjadi negara terbuka, yang sebelumnya dianggap, dan ditekan Amerika.

“Ini adalah kesempatan untuk tampil bagi Iran, untuk menjadi negara yang saya kira meskipun menjadi satu negara middle income yang lower, katakanlah di 5-6 ribu dollar per kapitanya, perorang pertahun,” lanjutnya.

Terakhir, Rizal menutup, bahwa Iran punya kekuatan yang sangat potensial dikawasannya. Maka, jika ditanya kembali, apakah ini akan menggeser posisi ekonomi?

“Saya kira, jadi apakah ini akan menggeser? Iya, Iran sangat tahu begitu ya, bahwa Trump itu ingin mengambil potensi itu di Timur Tengah. Iran ini belum pernah tercapai untuk diambil, kira-kira diakuisisi atau juga dikuasai sumber daya energinya, yang sangat melimpah bahkan hampir menyamai Venezuela, saya kira itu,” tandasnya.[] Nandang Fathurrohman

Loading

Views: 17

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA