Tinta Media – Bulan Rajab menempati posisi istimewa dalam kalender Islam karena di dalamnya terdapat peristiwa agung, yakni Isra Mikraj Rasulullah ﷺ. Perjalanan spiritual Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke sidratulmuntaha, berpuncak pada turunnya perintah kewajiban salat.
Pemaknaan ini benar, namun belum sepenuhnya utuh. Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa ibadah individual saja, melainkan juga peristiwa yang memiliki dampak ideologis dan politik dalam perjalanan umat Islam secara keseluruhan.
Isra Mikraj diperingati secara istimewa oleh umat Islam sebagai penanda turunnya perintah salat, ibadah pokok yang menjadi tiang agama. Namun, tidak lama setelah peristiwa tersebut, Rasulullah menghadapi babak baru perjuangan dakwah yang ditandai dengan terjadinya Baiat Aqabah Kedua. Baiat ini bukan sekadar janji perlindungan personal, melainkan tekad politik yang membuka jalan bagi terbentuknya kekuasaan Islam di Madinah.
Dengan demikian, Isra Mikraj dapat dipahami sebagai pintu peralihan dari fase pembinaan spiritual menuju fase pembentukan masyarakat dan kepemimpinan politik Islam. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa aspek spiritual dan aspek kekuasaan dalam Islam tidak berdiri terpisah, melainkan saling terhubung secara alami.
Hikmah Isra Mikraj selama ini lebih banyak dimaknai sebatas kewajiban salat sebagai ibadah mahdhah. Padahal, dalam berbagai hadis, salat sering digunakan sebagai kinayah (ungkapan simbolis) bagi tegaknya hukum Allah secara menyeluruh. Adapun larangan memerangi pemimpin selama mereka “menegakkan salat” tidak hanya merujuk pada ritual semata, melainkan pada komitmen penerapan hukum Allah dalam hal kepemimpinan.
Setelah runtuhnya Khilafah pada tahun 1924, umat Islam selama lebih dari satu abad hidup tanpa penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kafah) dalam kehidupan bernegara. Kondisi ini menandai perubahan besar dalam sistem politik global umat Islam, yang kini berada di bawah dominasi sistem sekuler kapitalis.
Penerapan sistem sekuler demokrasi secara global menggambarkan adanya pemisahan agama dari kehidupan. Dalam sudut pandang politik Islam, sistem ini dipandang bertentangan dengan syariat karena menjadikan hukum buatan manusia sebagai rujukan tertinggi, sementara wahyu Allah dibatasi hanya pada urusan ritual ibadah mahdhah.
Dampak dari ditinggalkannya syariat Islam tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga struktural. Gejolak politik, ketimpangan ekonomi, kerusakan sosial, hingga eksploitasi alam dapat dipahami sebagai konsekuensi dari sistem kapitalisme global yang mengingkari nilai keadilan ilahiah. Runtuhnya Khilafah 105 tahun lalu menjadi bencana besar yang mengakibatkan perpecahan umat serta tunduknya tatanan dunia pada dominasi kekuatan kafir Barat.
Perumusan Ide dan Harapan Umat
Idealnya, Rajab dan Isra Mikraj dimaknai sebagai momentum reflektif untuk mengembalikan landasan hukum dari langit ke bumi, yakni menjadikan syariat Islam sebagai asas kehidupan. Harapan ini mencakup penolakan terhadap pengaruh kuat sistem sekuler kapitalisme sekaligus seruan untuk membangun persatuan umat Islam di seluruh dunia.
Palestina, sebagai tanah suci yang menjadi bagian dari perjalanan Isra Mikraj, memiliki makna simbolis yang kuat bagi umat Islam. Namun, penderitaan rakyat Palestina terus berlangsung akibat serangan Zionis yang tidak pernah benar-benar berhenti, sementara dunia hanya menyaksikan dan menghitung korban.
Kondisi ini bukan semata tragedi kemanusiaan, melainkan buah dari ketimpangan kekuatan dan pembiaran politik global. Lebih menyedihkan lagi, umat Islam yang memiliki jumlah dan potensi besar justru terpecah, kehilangan arah, dan gagal bersatu untuk memberikan pertolongan nyata.
Selama persatuan hanya berhenti pada slogan dan belum menjelma menjadi kekuatan politik yang terorganisasi, Palestina akan terus membayar harga mahal dari perpecahan umat ini.
Demikian pula penderitaan umat Islam di berbagai wilayah dunia menjadi bukti nyata akibat ketiadaan kepemimpinan Islam global (Khilafah) yang mampu melindungi dan menyatukan umat. Keyakinan ini melahirkan optimisme bahwa kebangkitan politik Islam bukanlah utopis, melainkan kelanjutan dari bisyarah Rasulullah tentang masa depan kepemimpinan Islam. Wallahualam bissawab.
Oleh: Chusnul
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 21











