Tinta Media – Keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) telah memicu kontroversi di kalangan masyarakat. Dari 46 negara, hanya 26 negara yang ikut serta, sementara lainnya menolak atau belum merespons.
Pemerintah Indonesia mengeklaim bergabung dengan BoP demi perdamaian Palestina, namun ada tuduhan bahwa keputusan tersebut dipicu oleh biaya 1 miliar dolar (Rp17 triliun) untuk keanggotaan tetap. BoP dikendalikan oleh AS dengan hak veto, sehingga dipertanyakan apakah tujuan sebenarnya adalah perdamaian Palestina atau kepentingan geopolitik dan ekonomi AS.
Banyak warga Indonesia yang kecewa atas keputusan pemerintah. BoP dibentuk bukan untuk perdamaian, melainkan pengkhianatan yang dikemas dengan perdamaian. BoP juga dianggap tidak melibatkan Palestina dalam proses perdamaian, melainkan lebih fokus pada kepentingan AS. Rencana Trump untuk menguasai Gaza dan mengusir penduduk aslinya, membangun Gaza baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata, pantai, dan lain-lain.
Palestina tidak butuh BoP, melainkan pembebasan dari penduduk Zionis. Perdamaian hakiki hanya akan terwujud jika penduduk Zionis hengkang dari wilayah Palestina. Jihad dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian hakiki. Hanya Islamlah solusi untuk menuntaskan persoalan yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina.
Umat Islam harus menjadikan Khilafah sebagai agenda utama dan segera merealisasikannya, serta tidak bersekutu dengan negara kafir yang memerangi muslim Palestina. Wallahualam bissawab.
Oleh: Wina Audina,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 32
















