Tinta Media – Pemkab Bandung memperketat pengawasan dan mitigasi bencana hidrometeorologi pada awal 2026. Curah hujan diprediksi meningkat, memicu potensi banjir dan longsor di banyak kecamatan. Kabupaten Bandung rawan bencana karena kondisi geografisnya. Pemkab telah menerbitkan instruksi kesiapsiagaan darurat. Kepala BPBD, Diki Sudrajat, menjelaskan bahwa kebijakan ini berdasarkan prakiraan BMKG. Curah hujan Januari 2026 diproyeksikan 200–300 mm dengan kategori menengah. Pemkab menekankan peran aktif aparatur hingga tingkat desa serta edukasi publik. Masyarakat diimbau waspada dan menyiapkan “Tas Siaga Bencana”. Sebaran wilayah rawan meliputi 20 kecamatan untuk banjir dan 23 kecamatan untuk longsor. Koordinasi lintas sektoral diharapkan dapat meminimalkan kerugian (Kompas.com, 27/01/2026).
Bencana banjir dan longsor terus melanda, mengakibatkan korban jiwa, kerusakan rumah, dan gangguan ekonomi bagi warga. Hal ini mengingatkan kita bahwa bencana sering kali bukan hanya fenomena alam, tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan dan pendekatan yang salah. Sering kali bencana ini dianggap sebagai kejadian biasa yang disebabkan oleh musim hujan, seolah-olah curah hujan adalah satu-satunya faktor penyebab.
Namun, hujan turun merata, tetapi dampaknya berbeda-beda di tiap daerah. Perbedaan ini disebabkan oleh cara kita mengelola lingkungan dan mengatur ruang hidup. Kerusakan lingkungan yang terus berlanjut menjadi faktor utama yang tidak bisa diabaikan. Sungai kehilangan fungsinya karena penyempitan dan pendangkalan, lereng bukit digali tanpa perencanaan yang matang, dan kawasan resapan air berubah menjadi bangunan padat. Semua ini dilakukan atas nama pembangunan, tetapi mengabaikan kemampuan alam untuk menopang aktivitas manusia.
Lebih memprihatinkan, masalah ini tidak sepenuhnya tanpa aturan. Regulasi sebenarnya ada, tetapi sering kalah oleh kepentingan sesaat. Izin keluar dengan mudah, pengawasan lemah, dan pelanggaran jarang berujung pada sanksi tegas. Ketika bencana terjadi, penanganan darurat dilakukan, tetapi evaluasi mendalam sering diabaikan. Cara pandang yang memosisikan alam sebagai objek eksploitasi masih dominan. Keselamatan masyarakat kerap dikorbankan demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Risiko dianggap dapat diterima selama aktivitas ekonomi berjalan dan keuntungan terus mengalir. Pola ini membuat bencana bukan lagi kejadian tak terduga, melainkan konsekuensi yang terus berulang.
Sebenarnya, alam diciptakan sebagai penopang kehidupan, bukan sumber ancaman atau bencana. Sungai memiliki peran vital dalam mengatur aliran air, hutan berfungsi sebagai pelindung alami yang mencegah longsor, dan bukit berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang rapuh. Ketika fungsi-fungsi alami ini rusak atau terganggu, yang tersisa hanyalah kerentanan yang terus diwariskan dari satu musim ke musim berikutnya, membuat masyarakat semakin rentan terhadap bencana. Manusia memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk mengelola alam secara bijak dan bertanggung jawab. Peran ini bukan sekadar soal kekuasaan atas alam, melainkan amanah untuk menjaga dan merawatnya agar tetap lestari. Ketika prinsip ini diabaikan, kebijakan kehilangan arah dan pengelolaan lingkungan berubah menjadi sekadar urusan materi dan keuntungan sesaat tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
Saatnya pengelolaan alam dan ruang hidup dikembalikan pada nilai yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Pembangunan seharusnya sejalan dengan perlindungan lingkungan, bukan saling mengabaikan. Tanpa perubahan mendasar, status siaga dan tanggap darurat hanya akan terus diperpanjang setiap tahun. Masyarakat tidak membutuhkan janji atau simbol kepedulian semata. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memperbaiki arah, menutup celah penyalahgunaan, dan menegakkan aturan secara konsisten. Penanganan bencana tidak cukup di hilir, tetapi harus menyentuh akar masalah. Banjir dan longsor hari ini seharusnya menjadi peringatan serius, bukan hanya soal cuaca, tetapi tentang cara kita memperlakukan alam dan menentukan kebijakan. Jika kesalahan yang sama terus diulang, harapan rakyat akan terus hilang. Namun, jika keberanian untuk berubah diambil, masih ada harapan untuk menyelamatkan masa depan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Rukmini,
Ibu Rumah Tangga
![]()
Views: 40
















