Tinta Media – Keracunan menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kudus. Korban adalah pelajar SMA Negeri 2 Kudus. Per Kamis (29/01), ada 118 orang korban keracunan yang menjalani perawatan di rumah sakit, ungkap Mustiko Wibowo (Kepala Dinas Kesehatan Kudus). Gejala keracunan terjadi mulai Rabu (28/01) dan mereka dirujuk ke tujuh rumah sakit yang ada di Kudus. Awalnya, keracunan terjadi pada guru yang mulai merasakan sakit perut dan diare. Disusul oleh para siswa yang juga mengalami hal yang sama, (KompasTV.com, 29/01/2026).
MBG adalah program pemerintah yang dijalankan sebagai solusi masalah stunting. Program yang digadang-gadang akan memberikan perubahan gizi generasi. Akan tetapi, fakta yang terjadi di lapangan justru sangat menyedihkan dan bermasalah. Masalahnya pun beragam, mulai dari makanan yang basi, jenis menu MBG yang tidak sesuai standar gizi, hingga jenis makanan yang tidak disukai siswa dan akhirnya terbuang sia-sia.
Walaupun mungkin ada yang merasa terbantu dengan adanya MBG ini, namun lebih besar mudaratnya. Karena, makanan yang seharusnya aman dan bergizi justru menimbulkan penyakit. Kasus keracunan MBG membuat para orang tua resah dan juga khawatir dengan anak-anaknya di sekolah. Banyaknya kasus keracunan MBG menunjukkan bahwa sistem pengawasan terhadap menu dan kebersihan makanan, serta pengawasan dalam pengolahan makanan bergizi, kurang diperhatikan.
Pada dasarnya, masalah gizi buruk yang terjadi bukan tanpa sebab. Stunting terjadi karena kekurangan asupan makanan yang sehat dan bergizi. Bukan karena faktor malas bekerja, tetapi karena sempitnya lapangan pekerjaan. Bukan karena tidak tahu tentang makanan yang sehat, tetapi karena kemiskinan. Kemiskinan inilah salah satu penyebab terjadinya stunting.
Kemiskinan terjadi secara struktural, buah dari sistem ekonomi yang kapitalistik. Rakyat berjibaku sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya seperti sandang, pangan, dan papan. Padahal, pemenuhan kebutuhan dasar seharusnya menjadi kewajiban negara, tetapi negara justru lepas tangan. Mirisnya, saat ini kebutuhan hidup semakin tinggi, namun pekerjaan susah didapat serta banyaknya pengangguran. Bagaimana akan bisa memenuhi gizi anak-anak jika pekerjaan pun tak punya? Belum lagi kebutuhan untuk biaya pendidikan dan kesehatan yang semakin mahal.
Sistem ekonomi kapitalisme inilah yang menjadikan rakyat sebagai komoditas serta ladang bisnis. Rakyat bukan sebagai prioritas yang harus ditanggung kesejahteraannya, yang ada justru kesengsaraan dan penderitaan. Selama sistem kapitalisme masih bercokol di negeri ini, maka tidak akan pernah terjadi perubahan yang signifikan.
Program MBG tidak akan bisa mengubah apa pun, kecuali hanya solusi tambal sulam. Solusi yang melahirkan masalah-masalah baru yang makin parah. Bukan meringankan beban rakyat, yang ada justru menguntungkan segelintir orang. Perubahan harus dilakukan bukan dengan memberi makan gratis, tetapi harus dilakukan secara mendasar. Akar masalah yang sistemis tidak bisa diselesaikan dengan solusi pragmatis, tetapi harus sistemis pula.
Islam adalah solusi fundamental semua problematika kehidupan, termasuk masalah stunting. Islam mempunyai aturan yang harus dijalankan oleh negara sebagai pengatur urusan rakyat. Kebutuhan dasar rakyat seperti sandang, pangan, dan papan adalah tanggung jawab negara. Negara wajib menjamin rakyatnya agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu dengan membuka lapangan kerja yang luas. Dengan begitu, seorang kepala rumah tangga bisa mudah mendapatkan pekerjaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk keluarganya.
Terkait masalah gizi generasi, itu adalah hal yang sangat diperhatikan oleh negara. Karena, generasi muda adalah generasi penerus peradaban. Kesejahteraan individu rakyat adalah tanggung jawab negara. Negara tidak akan membuat kebijakan yang menyakiti hati rakyat. Sebab, posisi rakyat adalah amanah negara/penguasa, bukan sebagai objek politik.
Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh negara hanya untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Sanksi Islam yang tegas akan menimbulkan efek jera pada pelaku kecurangan dan kesewenang-wenangan, sehingga dapat meminimalisasi terjadinya tindak kejahatan. Begitulah, ketika syariat Islam diterapkan oleh negara, maka akan melahirkan kemaslahatan bagi seluruh manusia.
Jadi, bukan dengan program MBG solusi untuk mengatasi masalah stunting, tetapi dengan memberi pekerjaan kepada para orang tua siswa agar kebutuhan gizinya tercukupi. Maka dari itu, agar perubahan secara mendasar bisa terjadi, dibutuhkan perjuangan. Perjuangan yang dilakukan secara berjemaah oleh kelompok dakwah Islam kafah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Dartem,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 21
















