Tinta Media – Beberapa bulan terakhir, istilah gencatan senjata kembali memenuhi pemberitaan internasional. Awal tahun 2026, muncul pula Board of Peace (BoP) yang dipromosikan Amerika Serikat dan sekutunya sebagai jalan keluar konflik di Gaza. Mereka membawa narasi harapan baru, namun realitas di lapangan berbicara sebaliknya.
Data di lapangan menunjukkan pengkhianatan yang nyata terhadap kemanusiaan. Pertama, sejak gencatan senjata resmi diumumkan pada Oktober 2025, serangan udara dan pemboman justru terus terjadi hampir setiap hari. Kedua, bukti ketidaktulusan ini semakin nyata saat Israel resmi bergabung dalam Board of Peace. Serangan tetap tidak berhenti, bahkan gelombang serangan udara pada akhir Januari 2026 yang menewaskan puluhan perempuan dan anak-anak membuktikan bahwa BoP hanyalah kedok diplomasi. Hingga awal Februari 2026, tercatat sekitar 1.520 pelanggaran dengan ratusan nyawa melayang. Fakta ini menegaskan bahwa “gencatan senjata” hanyalah jeda taktis bagi agresor untuk mengatur ulang serangan, bukan komitmen untuk menghentikan penjajahan.
Dunia tampak terlalu mudah percaya pada janji-janji ini. Akibat dukungan politik dan militer yang kuat dari Amerika Serikat, Israel terus memperoleh legitimasi internasional tanpa konsekuensi serius atas setiap darah yang tumpah. Narasi damai ini sengaja diproduksi hanya untuk menjaga citra, sementara penindasan terhadap rakyat Palestina tetap berlangsung secara sistematis di balik meja perundingan.
Lebih menyakitkan lagi, di saat darah warga Gaza belum kering dan puing-puing bangunan masih mengepul, justru ada sebagian negara Muslim yang memilih duduk manis dalam forum-forum seperti Board of Peace, sebuah inisiatif yang jelas digagas dan dikendalikan oleh kekuatan Barat. Alih-alih berdiri tegas membela korban, mereka tampak lebih sibuk menjaga citra diplomatik dan stabilitas kawasan masing-masing. Dalihnya klasik: demi mencegah konflik meluas, demi keamanan regional, dan demi menjaga hubungan strategis.
Sebagai umat manusia, khususnya umat Muslim yang terikat ikatan persaudaraan, kita tidak boleh lagi terbuai hanya karena kata “perdamaian” terus didengungkan. Sikap kritis harus dikedepankan terhadap setiap narasi indah yang nyatanya gagal menjamin keselamatan nyawa warga sipil di lapangan. Tidak boleh ada ruang toleransi bagi kesepakatan apa pun jika faktanya korban justru makin banyak berjatuhan. Istilah damai tidak boleh dibiarkan menjadi topeng yang menutupi kebiadaban di tanah yang sedang menderita tersebut.
Lebih jauh lagi, sudah saatnya kita berhenti berharap pada forum internasional bentukan Barat dan mulai memahamkan umat serta penguasa Muslim untuk melakukan jihad dan mendorong penyatuan negeri-negeri Muslim di bawah naungan Khilafah. Jihad adalah instrumen perlindungan yang nyata bagi mereka yang tertindas, dan Khilafah adalah institusi politik yang akan menyatukan kekuatan militer serta sumber daya alam dunia Islam yang luar biasa. Hanya dengan penyatuan ini, kaum Muslimin akan memiliki daya tawar yang tak tertandingi untuk menghentikan setiap jengkal penjajahan di tanah Palestina.
Jika tidak ada perubahan sikap mendasar menuju persatuan yang hakiki ini, maka istilah “gencatan senjata” hanya akan menjadi bagian dari sandiwara panjang yang berulang setiap tahun. Penderitaan rakyat Gaza tidak akan selesai dengan tanda tangan di atas kertas perjanjian yang rapuh, melainkan dengan ketegasan kesatuan politik dan kepemimpinan umat yang siap membela kehormatan Islam. Rakyat Gaza telah membayar harga yang terlalu mahal; kini saatnya umat bergerak mewujudkan Khilafah sebagai perisai nyata untuk mengakhiri kebiadaban penjajah untuk selamanya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Dewi Kumala,
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 25
















