Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengungkap tujuan Amerika Serikat membentuk Board of Peace (BoP).
“Nah, lewat video ini, mari kita ungkap apa sesungguhnya tujuan Amerika Serikat membentuk BoP itu,” tuturnya dalam video Rahasia AS Membentuk BoP yang Jarang Diketahui, di kanal YouTube UIY Official, Sabtu (21/2/2026).
UIY mengemukakan bahwa banyak yang mengira BoP yang baru saja dibentuk oleh Presiden Donald Trump itu murni soal perdamaian. Padahal secara geopolitik, ini bukan soal damai.
“Ini soal siapa yang hendak mengatur dunia,” imbuhnya.
UIY lanjut memaparkan poin-poin krusial yang perlu disoroti dari tujuan Amerika Serikat membentuk BoP.
“Yang pertama, adalah menghindari hambatan Rusia dan Cina di Dewan Keamanan PBB,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara geopolitik, BoP adalah alat rekayasa tatanan dunia baru yang berbasis uni polarisme Amerika Serikat.
Dunia, ungkapnya, diarahkan agar hanya ada satu pusat kuasa atau satu wasit global, dan itu tidak lain adalah Amerika Serikat.
“Nah, kenapa PBB mulai ditinggalkan, karena di Dewan Keamanan PBB ada veto Rusia dan Cina. Dan veto ini dirasa menghambat agenda Amerika di berbagai wilayah, seperti Suriah, Palestina, Iran, Ukraina, Taiwan dan lainnya,” terangnya.
Lewat BoP, jelas UIY, Amerika Serikat bisa bergerak tanpa veto Rusia dan Cina.
“Keputusan dibuat oleh lingkaran yang mereka sepenuhnya kendalikan,” tambahnya.
Kedua, lanjutnya, BoP juga berfungsi untuk melegalkan intervensi global Amerika Serikat. Yaitu Intervensi militer, penempatan pasukan, rekayasa rezim, bahkan juga pemerintahan transisi.
“Semuanya dibungkus dengan istilah manis. Peace building dan stability operation. Padahal, substansinya tetap sama, intervensidan kendali atau kontrol,” paparnya.
Ketiga, adalah proxy governance atau kolonialisme gaya baru “Ini yang paling berbahaya,” tegasnya.
Ia mengatakan bahwa BoP membuka jalan kolonialisme gaya baru tanpa penjajahan formal.
“Nah coba saudara, kita bayangkan satu kondisi di mana negara tetap ada, benderanya tetap berkibar tapi kebijakannya diawasi, pemerintahannya disupervisi, kedaulatan efektifnya hilang. Inilah yang disebut proxy governance,” bebernya.
UIY mengingatkan agar jangan mudah tertipu dengan istilah perdamaian. Ketika perdamaian didefinisikan oleh satu kekuatan yang lahir, maka bukan perdamaian tapi sebuah hegemoni.
“Dari sini, kita sebagai umat Islam harus cerdas membaca geopolitik,” serunya.
“Karena dunia ini hari tidak dikendalikan oleh slogan, tapi dikendalikan oleh kepentingan dan kekuasaan,” pungkasnya.[] Ajira
![]()
Views: 25
















