Tinta Media – Meski Iran telah melayani kepentingan Amerika Serikat (AS), tetap saja AS menyerangnya. Ledakan mengguncang ibu kota Teheran dan beberapa kota lainnya, seperti Qom, Isfahan, Kirmansyah, dan Karaj, AS dan Entitas Yahudi melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Amerika baru saja memulai operasi tempur skala besar di Iran. Channel 12 Zion*s melaporkan bahwa Zion*s telah menyerang puluhan target milik pemerintah Iran. Trump menegaskan bahwa Amerika dan militernya adalah yang terkokoh dan terkuat di dunia, dan tidak akan mentolerir Iran memiliki senjata nuklir dan rudal.
Stasiun televisi Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan tujuh hari libur nasional menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa negaranya akan menggunakan kemampuan militernya untuk membela diri dalam kerangka hak alaminya secara sah.
Untuk Menundukkan Iran?
Dalam konstelasi internasional, Iran memosisikan diri sebagai negara satelit. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasiyah hlm. 19 menjelaskan bahwa negara satelit adalah negara yang politik luar negerinya terikat dengan negara lain dalam ikatan kepentingan, bukan ikatan sebagai pengikut.
Sebagai negara orbit Amerika, selama ini Iran telah melayani kepentingan Amerika. Iran-lah yang menjadi pendukung utama penguasa boneka Afghanistan di era Hamid Karzai, menjadi pendukung penguasa Irak bentukan AS. Iran juga melayani kepentingan AS di Suriah dalam mempertahankan Bashar Assad. Di masa Presiden Barack Obama, AS dan Iran mengadakan kesepakatan tahun 2015 yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Kesepakatan itu antara lain mengizinkan Iran melakukan pengayaan (pemurnian) nuklir hingga batas pengayaan 3,67%.
Namun ketika Trump berkuasa, ia menginginkan Iran menjadi negara pengikut dan agen Amerika, mengikuti keinginan Trump. Untuk meraih keinginannya itu, pada Juni 2025 Trump melakukan tipu daya dalam negosiasi di Muscat, yang berlangsung sekitar lima putaran.
Saat negosiasi tidak berhasil, Trump dan Yahudi menyerang Iran yang disebut sebagai serangan dua belas hari. Perang dimulai pada 13 Juni 2025 ketika Israel menyerang situs nuklir utama, instalasi militer, dan daerah pemukiman. Pada 22 Juni Amerika melakukan Operasi Midnight Hammer yang menarget tiga fasilitas nuklir Iran, Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Trump menyatakan bahwa operasi tersebut berhasil dan mendesak Iran untuk mengakhiri konflik. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa serangan tersebut bertujuan menghapus ambisi nuklir Iran, sebagaimana dilaporkan BBC pada 22 Juni 2025.
Meski demikian, serangan-serangan itu tidak berhasil membuat Iran beralih dari negara satelit yang beredar di orbit AS, menjadi negara pengikut (agen). Sebaliknya, muncul suara-suara dari dalam negeri Iran yang menyerukan pelepasan diri dari orbit kekuatan besar. Maka AS kembali menempuh jalur perundingan, berfokus pada isu yang sama, yaitu pelucutan senjata rudal dan nuklir Iran. Ini merupakan pola berulang, perundingan beberapa putaran, kemudian diikuti oleh eskalasi militer.
Pesan Terbuka bagi Dunia Islam
Serangan militer AS–Israel terhadap Iran adalah pesan terbuka kepada dunia Islam, bahwa siapa pun yang keluar dari garis kepentingan Amerika pasti akan ditekan, dinegosiasi, lalu digempur.
Narasi nuklir hanyalah kulit, substansinya adalah dominasi. Oleh karena itu seharusnya penyerangan itu bisa diambil pelajaran penting bahwa: pertama, bersekutu dengan negara imperialis adalah bunuh diri secara politik. AS sebagai negara imperialis akan memanfaatkan penguasa yang bersekutu dengannya untuk kepentingan Amerika. Negara imperialis akan melakukan apa pun, termasuk menghancurkan negara jika itu harus dilakukan. Pragmatisme yang diadopsi negara-negara sekuler tidak mengenal kemanusiaan, kesetiaan, atau kemuliaan, yang ada hanya kepentingan abadi.
Allah Swt. telah mengingatkan tentang itu dalam firman-Nya,
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS Ali-Imran [3]:118).
Kedua, serangan brutal Amerika ini menunjukkan pola berulang. Amerika akan mencampakkan penguasa-penguasa yang selama ini setia melayani mereka, meskipun harus membunuh penguasa boneka mereka sendiri. Saddam Husain di Irak, Khadafi di Libya, Bashar Assad di Suriah, dan Husni Mubarak di Mesir adalah contoh penguasa yang digulingkan. Kesetiaan mereka tidak lagi diperhitungkan ketika Amerika menganggap mereka tidak lagi bermanfaat. Mereka dicampakkan setelah perannya dianggap selesai bagaikan sampah yang selayaknya dibuang.
Ketiga, lemahnya sistem negara bangsa. Meski mengklaim sebagai negara berbasis Islam, faktanya Iran tetaplah negara yang berbasis nation-state. Alih-alih menyerukan persatuan dunia Islam, Iran telah menjadi negara yang berpikir hanya untuk kepentingan kemaslahatan negeri sendiri. Inilah kelemahan mendasar dari negara bangsa yang telah memecah belah umat Islam, negeri-negeri Islam, sehingga lemah dan tidak berdaya.
Penguasa negeri muslim lainnya juga sama. Dengan dalih demi kepentingan nasional masing-masing negara, mereka tidak berbuat apa apa ketika satu negeri Islam diserang. Lebih menyedihkan lagi Turki, Saudi, Yordania, dan negara-negara Teluk lainnya justru mempersilakan berdirinya pangkalan militer AS di tanah kaum Muslimin. Dari pangkalan militer itulah Amerika melakukan penyerangan terhadap negeri Islam. Mereka juga membuka ruang udara bagi pesawat-pesawat tempur atau drone Amerika dan Israel untuk membombardir negeri Islam.
Para penguasa itu tunduk mengikuti instruksi Amerika, mereka ketakutan jika kekuasaannya dijatuhkan. Jadilah Amerika dan Israel leluasa menyerang negeri Islam satu per satu, sesuatu yang tidak mudah dilakukan Amerika andai negeri-negeri Islam bersatu.
Para penguasa negeri muslim seharusnya juga menyadari bahaya bersekutu dengan kaum kafir yang merupakan kehinaan di dunia dan mendapat azab pedih di akhirat. َ Ini sebagaimana firman Allah Taala, “(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (TQS an-Nisa [4]: 139).
Keempat, pentingnya umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan global. Apa yang menimpa dunia Islam menunjukkan kelemahan umat Islam itu sendiri. Persoalannya bukan agresi eksternal tetapi kerapuhan internal umat yang terpecah dalam puluhan negara bangsa sehingga mudah digempur satu persatu oleh musuh.
Di sinilah letak penting persatuan umat di bawah satu kepemimpinan global negara Khilafah Rasyidah ala minhajinnubuwah. Sebuah negara adidaya global yang berlandaskan akidah Islam, yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Negara inilah yang akan menyelamatkan negeri-negeri muslim yang tertindas dengan jihad fi sabilillah.
Jika ini terwujud, Islam dan kaum Muslimin akan dimuliakan, dan kekufuran serta orang-orang kafir akan dihinakan. “Dan pada hari itu orang-orang mukmin bergembira karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (TQS ar-Rum [30]: 4-5). [] Irianti Aminatun
![]()
Views: 49
















