Tinta Media – Memasuki pertengahan Ramadan, warganet tidak lagi menyaksikan kembang api ataupun adu petasan. Melainkan dunia seakan memasuki babak baru perang dunia ke tiga.
Kondisi ini tercipta dipengaruhi beberapa faktor, yaitu berakar pada ketegangan geopolitik ekstrem — genosida di Gaza yang masih berlangsung, persaingan negara adidaya, dan konflik regional yang tak terkendali. Baru-baru ini situasi kian memanas, dipicu oleh serangan Israel ke Iran. Masih dengan lagu lama, Israel berdalih Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.
Mirisnya, tudingan tersebut tak pernah bisa dibuktikan sampai detik ini. Hanya klaim palsu tanpa dibarengi dengan penelitian dan pembuktian. Ketegangan ini diperparah dengan gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan Israel dan AS.
Impack Akibat Perang Iran vs Amerika Serikat
Buntut dari perang ini, Iran menutup Selat Hormuz. Tentu, hal ini akan berpengaruh terhadap perekonomian global karena berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah di dunia. Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan salah satu rute pelayaran terpenting untuk transportasi minyak dunia.
Kemudian, diketahui ada dua kapal milik Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz sampai detik ini. Hal ini langsung dikonfirmasi oleh Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron. Sampai tulisan ini dibuat, kapal tersebut masih tertahan.
Situasi lebih mengerikan lagi, ketika umat Islam terpecah-belah menjadi dua kubu. Warganet ramai menunjukkan simpati dan dukungan terhadap Iran. Terlebih Israel adalah pelaku genosida Gaza yang biadab. Sayangnya, kubu pendukung Iran dibenturkan dengan framing negatif — Iran Syiah, Syiah sesat, teroris, dsb.
Padahal, terlepas dari akidah, agama, ideologi, dan tujuan Iran atas serangan ke Israel, umat harus bersyukur atas kehancuran Israel dan AS secara perlahan. Satu hal yang pasti, mereka adalah induk bala dari genosida di Gaza dan kebijakan global yang zalim. Politik pecah belah ini juga digunakan AS untuk mengkaburkan perjuangan umat Islam.
Donal Trump dan Netanyahu juga disinyalir memakai strategi licik untuk memancing amarah negeri-negeri Islam — Arab Saudi. Ketika kilang minyak Amarco kena serangan rudal. Trump langsung koar-koar dengan kalimat provokasi, jika itu adalah rudal kiriman Iran. Sementara, pemerintah Iran secara tegas membantah keterlibatan mereka dalam serangan yang menyasar fasilitas minyak milik perusahaan raksasa Arab Saudi, Aramco, (Minanews, 4/3/2026).
Pernyataan resmi ini dikeluarkan sebagai respons atas tudingan sejumlah pihak yang mencoba menyudutkan Iran di tengah memanasnya situasi keamanan di kawasan Teluk. Jelas, ini bertujuan untuk memecah belah suara umat dan menciptakan instabilitas lebih lanjut.
Sejatinya, melihat realitas perang di kawasan Teluk, membuka mata dunia — AS tidak sehebat itu, militer Israel tidak sekuat itu, semua pemimpin sibuk menyelamatkan kepentingan masing-masing, bahkan Board of Peace ciptaan Trump tidak berguna.
Perdamaian Berbalut Penipuan
Serangan yang diluncurkan ke Iran justru menodai perdamaian atas nama Board of Peace (BoP) yang baru seumur jagung. Seluruh elemen masyarakat terus mengingatkan agar Indonesia mundur dari BoP.
Bagaimana mungkin BoP bisa mendamaikan Palestina dan Israel, jika pimpinannya sendiri melanggar hukum internasional? Benarkah ingin mencapai taraf keadilan atau berupaya melegitimasi penjajahan? Secara redaksi memang BoP didirikan untuk menciptakan perdamaian. Ironis, pimpinan seumur hidup, telah melakukan serangan ke Iran tanpa mandat PBB dan tanpa ancaman yang nyata. Diperparah dengan korban jiwa yang menyasar warga sipil hingga pemimpinnya ikut gugur.
Kritik tajam juga mencuat dari Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri Sudarnoto Abdul Hakim. Ia mengecam serangan AS dan Israel terhadap Iran. Sebab, membuat BoP tak lagi memiliki legitimasi.
“BoP semakin kehilangan legitimasi moral, politik, dan bahkan hukum karena telah nyata tak berguna untuk menciptakan perdamaian sejati apalagi keadilan,” ungkapnya, dikutip dari situs resmi MUI, Ahad (1/3/2026).
Bergabungnya Indonesia ke BoP menunjukkan penghianatan atas pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sebab, Indonesia lahir dari penolakan terhadap penjajahan dan berjanji akan menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Ironis, merapatnya ke BoP tidak menunjukkan membawa perdamaian, melainkan mencerminkan kepentingan golongan atas nama perdamaian.
Selaras dengan kritik menohok dari mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla. Ia menyebut keterikatan perjanjian tidak seimbang antara Indonesia terhadap AS — perjanjian BoP, membuat Indonesia tidak bisa ambil sikap tegas dalam perang di kawasan Teluk. Jangankan ambil sikap, sekedar mengencam tindakan AS dan Israel saja tidak mampu.
Peringatan Allah
Sejatinya, Allah sudah mengingatkan kepada setiap manusia beriman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia (mu). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain,…” (TQS. Al-Maidah ayat 51)
Rasulullah juga mengingatkan ke kita,
كُلُّ مِلَّةِ الكُفْرِ وَاحِدَةٌ
Artinya, semua kekufuran/millah kekafiran adalah satu.
Para ulama menilai hadist ini untuk menunjukkan bahwa meskipun kekafiran memiliki berbagai jenis, sekte, atau bentuk yang berbeda-beda. Namun, semuanya disatukan oleh satu hal, yaitu sikap menolak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Menariknya, dalam konteks sosial-politik, sering dimaknai bahwa kaum kafir akan bersatu (saling mendukung) dalam menghadapi kaum muslimin.
Jadi, apabila para negeri-negeri kafir itu berkoalisi untuk melumpuhkan negeri-negeri Islam — Palestina, Iran, Khasmir, dll, itu sudah menjadi tabiat mereka. Sesungguhnya, para musuh Islam paham betul, jika persatuan umat pengusung ideologi Islam mampu meruntuhkan seluruh makar sistem togut yang sedang berkuasa.
Kegaduhan dan beragam kezaliman ini, seharusnya sudah cukup membuat dunia sadar, jika awal mula penderitaan umat dimulai dari lengsernya kekhilafahan Turki Ustmaniyah — kepemimpinan Islam yang mengurus seluruh urusan umat. Semenjak itu, nasionalisme menjadi “pembatas persatuan” padahal jika setiap individu, pemikiran, perasaan, dan aturan satu suara versi Pencipta, Allah, tentu kejayaan itu nyata bukan fatamorgana. Islam membuktikan sekitar 13 abad menguasai 1/3 dunia memimpin dengan aturan Ilahi.
Semoga, Ramadan kali ini adalah momen perjuangan terakhir melawan kedzaliman. Semoga kita berjumpa kembali dengan Ramadan selanjutnya dalam keadaan persatuan di bawah naungan khilafah ala ‘minhaj nubbuwah.
Wallahu’alam bishawab.
Oleh: Novita Ratnasari, S. Ak.
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 46
















