Tinta Media – Di saat kebahagiaan umat muslim seluruh dunia merayakan Idulfitri, di belahan dunia lainnya, umat muslim Gaza merayakannya dengan segala keterbatasan di tengah blokade. Mereka hidup di reruntuhan gedung, masjid yang sudah hancur, serta kamp-kamp pengungsian dan tenda-tenda darurat yang memprihatinkan karena menghadapi keterbatasan bahan pangan, air bersih, dan kebutuhan pokok lainnya.
Mereka melantunkan takbir “Allahu Akbar” dalam suasana duka dan derita atas penderitaan yang tak kunjung usai. Sebagian besar dari mereka telah kehilangan keluarga tercinta, rumah tempat tinggal, dan rasa aman. Namun, mereka tetap menjaga iman dan harapan dengan doa yang tak henti dipanjatkan. Bahkan, di tengah kondisi demikian, penjajah Israel melarang warga Palestina melaksanakan salat Idulfitri di kompleks Masjid Al-Aqsa dengan alasan pembatasan keamanan di tengah konflik antara Israel-AS dengan Iran.
Mirisnya, sikap umat Islam di berbagai belahan bumi terhadap kondisi saudara mereka di Gaza-Palestina sangat jauh dari sikap yang seharusnya mereka lakukan. Bahkan, para pemimpin umat Islam malah ikut andil dalam Piagam Perdamaian (BoP) yang diusung dan dikepalai oleh Presiden AS Donald Trump, yang secara faktanya tidak ditujukan untuk kepentingan rakyat Gaza-Palestina. Mereka (muslim Gaza) tidak dilibatkan dalam BoP tersebut, bahkan cenderung memperkokoh penjajahan Israel atas Gaza-Palestina. Narasi perdamaian pimpinan Trump pun akhirnya menjadi tak berarti ketika AS dan Israel menyerang Iran. Mirisnya lagi, dalam kasus Iran pun, pemimpin negeri-negeri Islam yang berada di Timur Tengah malah menjalin kerja sama dan bersekutu dengan AS dalam memerangi Iran—pada waktu yang sama melupakan penderitaan muslim Gaza yang tersingkirkan dari sorotan media dan tidak lagi menempatkan Gaza sebagai prioritas utama.
Hal tersebut terjadi di bulan Ramadan, bulan yang suci, hingga tibanya Idulfitri yang seharusnya menjadi momentum kebersamaan umat Islam seluruh dunia, justru dinodai oleh ketidakberpihakan pemimpin-pemimpin muslim terhadap penderitaan saudara-saudara mereka. Padahal, Al-Qur’an memberikan arah yang jelas bagi umat Islam melalui firman Allah Swt. yang artinya:
“ Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayanglah sesama umat muslim lainnya.” (QS Al-Fath [48]: 29)
Ayat ini menegaskan sikap ukhuah (persaudaraan) antarumat Islam, yaitu berkasih sayang sesama mereka dan menunjukkan ketegasan terhadap kezaliman orang-orang kafir. Selain itu, Rasulullah saw. bersabda tentang persaudaraan ini:
“Perumpamaan kaum muslim dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh.” (HR Bukhari dan Muslim)
Namun, faktanya menunjukkan hal yang berbeda. Sebagian umat merayakan kemenangan, sementara sebagian lainnya bertahan di tengah penderitaan yang tiada akhir.
Hal tersebut terjadi karena akidah (keimanan) Islam tidak lagi menjadi pemersatu dan pengikat persaudaraan di antara umat, akibat telah digantikan dengan ikatan kesukubangsaan yang dibatasi dengan garis-garis geografis. Akibatnya, perbedaan suku bangsa dan batas-batas wilayah memecah belah persatuan dan persaudaraan mereka. Disertai dengan asas kemanfaatan jika bekerja sama dengan musuh dan kekhawatiran akan kehilangan kepentingan jika menolong saudara yang tertindas, menjadi dasar dalam perbuatan mereka.
Padahal, Rasulullah saw. telah mencontohkan kepemimpinannya dalam bernegara, yang melindungi seluruh umat serta menjamin keamanan dan kesejahteraan rakyatnya, serta tidak membiarkan satu wilayah pun terabaikan. Begitu pun seharusnya umat Islam saat ini, menjadikan akidah Islam sebagai pemersatu dan pengikat bagi seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia untuk menggerakkan dan membebaskan saudara mereka yang seakidah dari penderitaan yang tiada hentinya, khususnya di Gaza-Palestina. Maka, yang dibutuhkan oleh umat Islam saat ini adalah adanya sebuah institusi negara yang diwariskan oleh Rasulullah saw., yaitu Khilafah Islamiah yang akan menjadi pelindung dan penjaga Islam dan kaum muslimin, termasuk dalam menjalankan perintah Allah Swt. kepada umat Islam untuk bersiap menghadapi ancaman yang nyata, dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 123)
Ayat ini menegaskan agar umat Islam memerangi dengan jihad fi sabilillah yang dikomandoi oleh seorang khalifah, yang akan mampu menghentikan dan menyelesaikan penderitaan warga Gaza serta membebaskannya dari penjajahan kafir zionis dengan dukungan Amerika. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Yuli Ummu Shabira
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 2
















