Tinta Media – Laporan investigasi terbaru yang dirilis oleh media Al Jazeera pada Senin (09/02/2026) berjudul The Rest of The Story mengungkapkan hal yang sangat mengejutkan terkait agresi militer yang dilakukan oleh Israel sejak Oktober 2023. Investigasi tersebut mengungkapkan bahwa sedikitnya 2.842 warga Gaza, Palestina, “menguap” atau hilang tanpa jejak.
Fenomena hilangnya ribuan warga Gaza ini diduga kuat berkaitan dengan penggunaan senjata bersuhu ekstrem oleh militer Israel yang mampu memusnahkan jaringan tubuh manusia dalam sekejap. Israel diyakini menggunakan senjata termal dan termobarik yang dipasok oleh Amerika Serikat (AS) untuk membunuh ribuan warga di Jalur Gaza, Palestina (minanews.net, 21/02/2026).
Kepada Al Jazeera, Mahmoud Basal selaku juru bicara Pertahanan Sipil Gaza menjelaskan bahwa angka 2.842 korban hilang tersebut merupakan hasil pendataan lapangan menggunakan metode eliminasi yang dilakukan secara ketat oleh timnya di lokasi-lokasi serangan. Metode tersebut dilakukan dengan membandingkan jumlah penghuni yang diketahui berada di dalam bangunan yang terkena serangan dengan jumlah korban atau jenazah yang ditemukan di lokasi tersebut.
Jika setelah dilakukan pencarian secara menyeluruh di lokasi ledakan tidak ditemukan apa pun kecuali jejak biologis seperti percikan darah atau hanya bagian kecil tubuh lainnya, maka korban dikategorikan sebagai “menguap”.
Yasmin Mahani, salah satu warga Palestina, menerangkan kepada Al Jazeera bahwa putranya yang bernama Saad menjadi korban gempuran Israel pada 10 Agustus 2024. Serangan tersebut menghancurkan Sekolah Al-Tabin di area Gaza City, dan ia tidak dapat menemukan jenazah anaknya setelah melakukan pencarian intensif di reruntuhan bangunan sekolah, rumah sakit, dan kamar mayat selama berhari-hari (detiknews.com, 12/02/2026).
Penggunaan senjata termal dan termobarik untuk membantai rakyat Palestina menunjukkan kebiadaban modern yang tidak berperikemanusiaan. Meskipun penggunaan amunisi termal dan termobarik telah dilarang secara internasional, hal itu tidak menghalangi kebrutalan Israel dalam menyerang rakyat Palestina dan semakin memperjelas bahwa tindakan tersebut merupakan genosida.
Gempuran dan serangan yang dilakukan Israel kerap menyasar warga sipil serta fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, dan lain-lain. Perempuan dan anak-anak di Gaza menjadi korban paling banyak akibat konflik ini. Meskipun dunia mengetahui bahwa hal ini merupakan pelanggaran HAM dan gelombang protes untuk mengecam aksi Israel telah dilakukan oleh masyarakat di berbagai negara, tidak ada satu pun negara yang mampu menghentikan genosida ini. Bahkan negara muslim sekalipun tidak ada yang berani melawan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat.
Mirisnya, negara-negara muslim justru kini bergabung dalam organisasi Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang digagas oleh Donald Trump bersama Israel di dalamnya. Kejahatan Israel tidak dapat ditoleransi dan tidak bisa diberikan solusi damai, apalagi solusi damai yang diinisiasi oleh Trump melalui organisasi yang dibentuknya itu sudah sangat jelas tidak akan membawa perdamaian apa pun bagi Palestina.
Kerusakan yang dilakukan Israel telah melampaui batas dan harus segera dihentikan. Memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin adalah wajib. Tidak boleh ada upaya untuk berdamai, mengalah, apalagi memberikan jalan bagi Israel dan sekutunya untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin.
Pembebasan negeri muslim seperti Palestina dari kezaliman Israel tentu dapat dilakukan melalui jalan jihad oleh tentara kaum muslimin. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para pemimpin Islam ketika Khilafah tegak, para pemimpin Islam melakukan futuhat atau pembebasan wilayah negeri muslim, baik secara damai maupun melalui peperangan atau jihad. Untuk kondisi Palestina saat ini, memang hanya dengan jihad jalan yang dapat ditempuh untuk melawan kezaliman Israel.
Maka dari itu, hukum jihad harus dipahami serta diterapkan. Namun, hal ini tentu membutuhkan kesatuan dan kekuatan kaum muslimin dari seluruh dunia. Tegaknya kepemimpinan Islam sangat dibutuhkan untuk menyatukan kekuatan kaum muslimin di seluruh dunia. Karena itu, perjuangan menegakkan sistem dan kepemimpinan Islam sangat penting dan wajib bagi setiap muslim untuk turut memperjuangkan tegaknya kembali kepemimpinan Islam. Wallahualam bissawab.
Oleh: Fitri Andriani
Aktivis Dakwah Remaja
![]()
Views: 18
















