Idulfitri di Tengah Reruntuhan, Nestapa Gaza Belum Berakhir

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Gema takbir berkumandang, miliaran umat Islam di seluruh dunia merayakan Idulfitri dengan sukacita. Hal ini menandakan hari kemenangan telah tiba setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

 

Namun, sukacita dan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga sambil menikmati berbagai kelezatan hidangan hari raya tidak dirasakan saudara muslim di Gaza. Mereka merayakan hari raya dalam keadaan yang masih sangat sulit, di antara reruntuhan bangunan dan tenda-tenda darurat.

 

Bentrokan dan pengusiran yang dilakukan pihak keamanan pendudukan ilegal Israel terhadap warga sipil mewarnai momen hari raya umat Islam. Warga sekitar dilarang melaksanakan ibadah salat Idulfitri (20/3) di kompleks Masjidil Aqsa. Tindakan represif aparat pendudukan mengakibatkan warga sipil melaksanakan ibadah salat Id di jalan-jalan di luar kompleks Masjidil Aqsa.

 

Begitu pula jemaah yang hendak salat Id di Masjid Ibrahimi, Kota Hebron, Tepi Barat. Pasukan Israel melakukan pembatasan ketat untuk mencegah ribuan jemaah masuk. Hanya 50 orang yang mendapat akses untuk melaksanakan salat Id di masjid tersebut. Dengan memanfaatkan kondisi perang menghadapi Iran, pihak Israel sengaja menutup masjid tersebut selama 14 hari terakhir.

 

Dikutip pula dari Kantor Media Pemerintah Gaza, pasukan Israel telah melakukan setidaknya lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025. Pelanggaran tersebut berupa penembakan, serbuan darat, dan serangan udara yang telah menewaskan sedikitnya 677 warga serta melukai lebih dari 1.800 orang yang sebagian besar merupakan warga sipil.

 

Pengiriman bantuan kemanusiaan juga terhambat. Hanya sekitar 40 persen dari jumlah truk bantuan yang dapat masuk ke Gaza. Sementara itu, akses melalui gerbang Rafah masih dibatasi sangat ketat sehingga memperparah isolasi di wilayah tersebut.

 

Pejabat setempat memperingatkan bahwa blokade berkepanjangan dan pelanggaran berulang akan semakin memperburuk kondisi kehidupan warga. Mereka menyerukan agar masyarakat internasional segera membantu sesuai prosedur hukum internasional (Minanews.net, 20/03/2026).

 

Gaza yang Makin Terlupakan

 

Serangan yang dilancarkan AS pada 28 Februari lalu ke Iran membawa Gaza pada kondisi yang makin sulit. Konflik di kawasan telah mengalihkan perhatian global terhadap isu Gaza. Seiring meningkatnya ketegangan di seluruh kawasan, Israel juga memperkuat cengkeramannya di wilayah pendudukan, membatasi masuknya bantuan kemanusiaan yang vital seperti bahan makanan, obat-obatan, dan peralatan medis. Selain itu, Israel tidak mengizinkan dewan pemulihan Palestina masuk serta terus melakukan pelanggaran gencatan senjata.

 

Penutupan perbatasan Gaza mengakibatkan ribuan pasien terhalang mendapatkan pertolongan medis, penutupan rumah sakit, bahkan rumah sakit yang aktif pun kekurangan fasilitas dan obat-obatan.

 

Meluasnya konflik akan memperburuk krisis kehidupan dan ekonomi karena pasokan barang berkurang, sedangkan penduduk semakin kesulitan memenuhi kebutuhan akibat kenaikan harga yang signifikan.

 

Persatuan yang Terkoyak

 

Betapa ironis, alih-alih membantu saudara muslim Palestina, sejak agresi militer Zionis Israel dilancarkan, negara-negara Teluk justru diam membisu. Tak satu pun dari para pemimpin ini mengutuk atau memberi tekanan politik kepada pihak agresor yang telah menumpahkan ratusan ribu darah kaum muslim Palestina.

 

Para pemimpin boneka ini justru membuka lebar hubungan diplomatik dengan penjajah demi melanggengkan kekuasaan politik di kawasan.

 

Sungguh, nasionalisme telah meracuni umat. Atas nama kepentingan nasional, negeri-negeri muslim berbondong-bondong mengamankan posisi dengan berdiri dan berharap perlindungan dari Barat, musuh Islam. Sekat negara bangsa inilah yang telah menjadikan kepentingan nasional di atas ikatan ukhuah dan akidah Islam.

 

Padahal, hanya dengan Islam mereka akan mencapai kemuliaan dan ketinggian martabat, bukan bersekutu dengan kaum penjajah AS dan Israel demi memerangi Iran sembari semakin melupakan penderitaan Gaza.

 

Kerja sama dengan pelaku penjajahan dengan tujuan perdamaian Palestina adalah sebuah ilusi dan pengkhianatan. Mereka (penjajah AS dan Israel) tidak akan pernah memberikan ruang bagi Palestina untuk merdeka. Sebab jelas, mereka hanya fokus pada hegemoni kekuasaannya atas dunia. Di antaranya dengan upaya terus-menerus menundukkan para pemimpin negeri muslim yang haus kekuasaan, serta memerangi Iran yang dinilai bisa menjadi ancaman dan simbol perlawanan bagi ideologi kapitalisme global, yakni Islam.

 

Padahal jelas, seharusnya kondisi ini dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslimin yang diibaratkan satu tubuh.

 

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (ikut merasakan sakitnya).” (HR Muslim)

 

Bukankah sikap seorang mukmin terhadap saudaranya adalah mencintai dan menyayangi sebagaimana mencintai diri sendiri, tidak menginginkan keburukan menimpa mereka, serta tidak menzalimi? Peduli dan meringankan beban dengan segera membantu saudara yang sedang kesulitan, menderita musibah, atau dizalimi.

 

Allah Swt. berfirman yang artinya: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (QS Al-Fath: 29)

 

Sikap seorang mukmin adalah berlemah lembut kepada sesama muslim dan tegas kepada orang kafir. Tegas berarti ada batasan sesuai porsinya dalam syariat Islam, tidak tunduk pada kezaliman, tidak membiarkan kaum muslimin dan Islam dihinakan, bukan sebaliknya.

 

*Hanya Sistem Kepemimpinan Islam yang Mampu Mengembalikan Kemuliaan Umat*

 

Sudah terbukti, kapitalisme global dan konsep negara bangsa telah gagal membawa perdamaian dan persatuan umat. Persatuan hakiki hanya dapat diraih dengan menjadikan ikatan ukhuah islamiah sebagai pemersatu umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ikatan yang terpancar dari akidah Islam, bukan golongan maupun kebangsaan.

 

Dengan demikian, umat akan menyadari bahwa hanya dengan jihad fi sabilillah negeri-negeri muslim akan terbebas dari berbagai penjajahan.

 

Terdapat banyak perintah Allah Swt. tentang wajibnya berjihad. Jihad merupakan kewajiban agung yang tetap harus ada, terlebih dalam keadaan kaum muslim yang banyak dizalimi, terkhusus Palestina. Kewajiban ini tidak berhenti pada individu, melainkan bersifat kolektif untuk menyingkirkan penghalang yang bersifat fisik. Kekuatan militer dilawan dengan kekuatan militer pula, dari negeri muslim terdekat hingga yang jauh sekalipun.

 

Namun, kewajiban ini tidak terlaksana karena kaum muslim tidak memiliki satu institusi pemersatu global, yakni Khilafah, yang akan menghapus sekat-sekat negara bangsa.

 

Dengan komando seorang khalifah, perintah jihad akan terlaksana dengan memobilisasi tentara lengkap beserta persenjataan yang akan menghapus total hegemoni penjajah Israel dan para sekutu Barat, AS.

 

Dengan demikian, kaum muslim dapat terbebas dari berbagai kezaliman di seluruh penjuru dunia. Momen Idulfitri pun akan benar-benar menjadi momen kemenangan hakiki umat di seluruh dunia. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Oleh: Anggia Widianingrum,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 20

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA